
Usia 18 tahun adalah usia kedewasaan, karena banyak orang di dunia ini yang paling wajib menikah di usia tersebut. Agus memilih bekerja seperti biasa di Guild Trade. Tiara yang kini berusia 17 tahun semakin terlihat feminim, jauh berbeda dengan saat ia berusia 14 tahun. Agus yang menunda keinginan ayahnya agar Agus menikah dengan Tiara, Agus merasa sudah tidak bisa mengulur waktu lagi. Dan dia telah move on dari Lulu Aite yang tidak dapat dia temukan. Gadis yang dulu bertubuh mungil kini sudah tumbuh besar. Dia juga mendengar bahwa Tiara sangat populer di kalangan anak laki-laki.
"Apakah kamu tidak terganggu dengan membawakan bekal untukku makan siang setiap hari?"
Tiara menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan tangannya. "Aku tidak terganggu!"
"Apakah kamu masih memikirkan tentang apa yang ayah katakan kepada kita kemarin?"
"Aku sangat khawatir," jawabnya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kamu juga bisa menolak, kamu berhak mencari laki-laki yang kamu sukai, masalah perjodohan itu sangat aneh karena kita adalah kakak dan adik walaupun tidak ada hubungan darah."
"Sebenarnya aku tidak keberatan dengan keinginan ayah..."
"Aku tanya, kamu jawab dengan jujur, apakah tidak apa-apa menjadi istriku?"
"Aku tidak masalah, aku pasti akan baik saja kalau dengan kakak..."
"Kepolosanmu benar-benar mematikan," gumam Agus, dan tersenyum.
Hidup yang normal dengan pernikahan yang bisa dikatakan biasa saja yang Agus pilih bersama istrinya. Agus tidak kecewa dengan kehidupan yang sekarang, dia sudah tidak mempermasalahkan cinta lamanya bersama Lulu Aite sang ratu Dark Elf. Tiara senang dengan pilihan kakaknya, ia memilih suatu yang normal untuk hidup bersama untuk selamanya. Suatu yang bersemi cinta setelah pernikahan itulah yang Agus dapatkan, bahagia yang ia ambil dalam hidupnya kali ini. Cukup dikenal baik oleh banyak orang bukan menaruh hormat tapi suatu kebaikan yang bernilai tinggi dari pandangan banyak orang kepada Agus.
"Kak, aku bahagia karena kita bisa menikah, syukurlah ayah dan ibu sangat mendukung kita." Tiara tersenyum.
"Aslinya sangat canggung," kata Agus menyentuh kepala Tiara.
Hidupnya kali ini tidak jauh beda saat usianya sudah tua 80 tahun. Agus tidak memiliki keturunan lagi di kehidupan kali ini tapi ia sangat bahagia sampai tidur akhir hayatnya. Agus merasa semuanya sudah selesai ia sudah lelah dalam hidup bahagianya. Pengalaman hidup yang seperti itu belum menjadi akhir saat seorang wanita menjelaskan, Agus masih ada kehidupan lagi yang harus ia jalani. Agus menolak untuk melanjutkan lingkaran renkarnasi, dia sudah cukup untuk hidup kembali, ia tidak ingin melihat dirinya selalu lebih dulu meninggalkan yang ia cintai.
"Hal ini yang semua manusia inginkan, kamu yang terpilih harusnya kamu senang." Wanita pirang menjelaskan.
Wanita pirang yang menyebutkan kalau dirinya adalah Dewi, wanita itu marah, dari raut wajahnya sudah sangat jelas tidak menerima penolakan. Agus tertawa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, ia tampak seperti akan gila bilang melanjutkan hidup yang sesungguhnya sudah selesai. Wanita pirang yang menyebutkan kalau dirinya adalah Dewi, wanita itu marah, dari raut wajahnya sudah sangat jelas tidak menerima penolakan. Agus tertawa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, ia tampak seperti akan gila bilang melanjutkan hidup yang sesungguhnya sudah selesai.
Wanita itu tersenyum manis, dari sudut pandang Agus yang tidak menganggap kalau senyuman itu adalah suatu yang harus dikagumi keindahannya. Agus terdorong oleh suatu kekuatan yang dahsyat, ia masuk ke dalam portal karena dipaksa. "Dewi sialan!" Agus berteriak sangat keras, wanita itu hanya tersenyum, ia pergi begitu saja tanpa berbalik badan. Agus bangun dengan napas yang tak beraturan, ia melihat sekitar adalah kamar yang sangat bagus. Banyak ingatan yang masuk ke dalam kepalanya, informasi yang sangat buruk ia dapatkan karena pemilik tubuh yang ia miliki adalah seorang pria yang tidak berguna.
"Kepada jadi begini..." Agus mengusap wajah dengan frustasi, ia ingin berhenti dengan suatu yang sangat tidak masuk akal.
Banyak botol minuman dan puntung rokok di asbak, tubuh milik seorang sampah yang hanya tahu berfoya-foya dan berjudi. Suatu yang tidak asing, dering telepon ada di atas meja. Agus memilih untuk mandi daripada ia mengangkat telepon. Dunia yang tidak jauh beda dari bumi, Agus menatap lurus ke depan, ia melihat wajah pria dari pantulan cermin. Dia menjadi yatim piatu, dia tidak merasa beruntung dalam hidup ini, dia akan menjalaninya karena itu tidak dapat dihindari. Dia membasuh wajahnya dengan air dan berpikir bahwa satu-satunya tujuan adalah untuk meningkatkan kehidupan orang lain.
Seorang sampah yang memiliki cara hidup sangat berbeda dengan dirinya, memiliki nama yang sama dengan Agus Nugroho. Dia tidak mendapatkan tugas apa pun, hanya dikirim untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Agus mengenang semua yang dialaminya, sebenarnya ia tidak membutuhkan semua itu, jauh di lubuk hatinya ia tidak terima semuanya. Bel pintu berbunyi nyaring, Agus membuka pintu dan ada seorang pria berjas hitam berdiri menatap tajam. Mereka hanya berdiri di tempat tanpa berbicara satu sama lain, Agus berusaha mengingat laki-laki itu namun masih sangat samar.
"Kamu tidak bisa lari lagi, hutangmu sudah lama jatuh tempo."
"Hutang ..."
"Bos ingin bertemu denganmu."
Dengan mata lelah, malas berpikir, Agus menuruti keinginan orang itu. Agus mengikuti pria itu dari belakang. Di tempat parkir lantai dasar, Agus masuk ke dalam mobil di kursi penumpang. Seorang pria sedang menikmati sebatang rokok, memintanya untuk cepat membayar. Pria itu menampar kepala Agus. Orang itu mengancam akan membunuh Agus hari ini? Hutang 50 juta akan menjadi akhir hidup Agus, dia mengikuti jalan yang sama dengan tatapan marah. Agus menatap laki-laki yang terlihat kaget itu.
"Kau sekarang berani menatapku bajingan!"
"Tolong bicara yang sopan," kata Agus, menanggapi langsung.
Agus mengelak saat pria itu melontarkan tinjunya. Pria itu segera menerima pukulan di wajah sebagai balasannya.
Dalam sekejap semuanya menjadi pertarungan sepihak meski tubuh Agus bisa dikatakan lemah namun bisa mengalahkan tiga orang sekaligus. Dia orang yang memberi pinjaman dengan bunga sangat tinggi hingga 10 persen sebulan. Orang-orang di dunia ini jauh lebih lemah daripada orang-orang di dunia yang dipenuhi monster. Dia memutuskan untuk pergi setelah mengambil barang-barang di kamar hotel, dompet, Smartphone dan KTP yang ia masukkan ke dalam ransel. Agus pergi ke resepsionis dan menyelesaikan semuanya ketika dia berjalan pergi, telepon berdering, suara wanita di telepon mengejutkan Agus karena suara wanita itu seperti menangis.