AGUS

AGUS
Cemburu Tanda Sayang



Semua orang memandang Agus melarang tindakan yang menindas karyawan lain. Wanita yang langsung pergi setelah mengakui kesalahannya, Agus meminta karyawan yang dibelanya untuk melakukan pekerjaan yang dilakukannya. Lina lelah bekerja, dia lelah terlalu memikirkan masa lalu, orang-orang mulai berpaling saat Lina memimpin perusahaan.


Seorang wanita yang selalu dipandang rendah ketika menjadi pimpinan sebuah perusahaan, sesuatu yang wajar baginya untuk mengetahui dimanapun dia berada. Lina mendapat pertemuan pribadi tidak hanya dari Ken Otto, banyak pria berhidung belang dengan status sosial tinggi yang tak kalah brengsek dari Ken Otto.


"Apa-apaan mereka, hanya mencoba menggangguku."


Saat pertama kali masuk, Agus melihat Lina menekan keningnya. Agus menghampiri dan duduk di depan meja Lina. Sangat hebat dalam mengubah ekspresi, Lina membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, dia meminta maaf karena akan selalu sibuk di masa depan.


"Jika kamu ingin pergi, aku akan selalu menemanimu."


"Kamu akan menemaniku kemana pun?"


"Tentu saja, aku tidak tega membiarkanmu pergi sendirian untuk bertemu seseorang, hal-hal di luar sana lebih berbahaya dari yang kamu pikirkan."


"Aku beruntung memilikimu," kata Lina.


"Aku yang beruntung yang memiliki wanita kaya, bahkan aku bisa menganggur."


"Kamu menganggur? Orang nganggur pergi tanpa dapat masalah dari ayahku?, Bisa saja memiliki pekerjaan yang lebih besar, aku tahu kamu selalu sibuk beberapa waktu lalu."


"Hanya kerjaan kecil-kecilan," kata Agus.


"Kuharap jangan terlalu merendahkan diri sendiri."


"Memangnya kenapa?"


"Rasanya ada yang sakit saat ada yang merendahkan kamu, apa lagi sampai kamu merendahkan diri sendiri."


"Jadi singkatnya, kamu sekitar hati karena aku direndahkan?"


"Ya begitulah, gimanapun kamu sangat berharga untukku."


"Dasar, kamu terlalu berlebihan, sungguh sangat terhormat sekali jadi pendamping kamu."


"Aih, lucunya aku tidak bisa nahan diri kalau begini."


Lina merasa lebih baik saat bersama dengan Agus, Lina menyentuh punggung tangan Agus, dan berharap kalau Agus tidak berubah kembali seperti dahulu. Agus menanyakan tentang para karyawan yang ada di kantor, Agus melihat kalau ada yang mendapatkan perlakuan buruk sesama karyawan.


Lina paham kalau hal semacam itu pasti ada di setiap perusahaan, Lina sudah melarang adanya pembullyan para karyawan baru atau yang terlihat mudah untuk di bully. Agus menyuruh Lina untuk lebih perhatian, untuk para karyawan yang menutupi perlakuan buruk.


"Ada wanita yang memakai kacamata, ia ada di mesin fotocopy sebelumnya."


"Sepertinya aku tahu siapa dia," kata Lina.


Agus bangkit dari tempat duduk, ia ingin jalan-jalan dan melihat kalau ada kejadian yang ia tak suka nanti. Lina tersenyum dan mengizinkan, tapi ia menekankan kalau Agus tak harus tertarik dengan wanita lain. Agus membuang napas, ia sangat suka dengan kecemburuan Lina yang begitu jelas.


"Ayolah, bukan waktunya untuk cemburu."


"Wanita harus cemburu, karena sudah jadi jalannya."


"Hah, aku tidak paham maksudnya?"


Agus melihat wanita sebelumnya, ia terlihat masih saja dalam masalah. Banyak yang ada di sana tidak ingin menunjukkan diri kalau mereka sudah memperlakukan wanita itu dengan buruk. Agus membantu wanita yang kini begitu terkejut oleh perbuatannya Agus.


"Bukannya ini terlalu berat untuk kamu, sini aku bantu?"


"Tidak usah malu, kamu nanti akan kelelahan, aku sudah memberitahu Lina agar kamu bisa terbebas dari masalah," kata Agus, ia melihat karyawan lainnya.


"Terima kasih," kata wanita itu, ia melihat Agus.


Lina melihat dari kejauhan, seorang karyawan menceritakan bahwa wanita tersebut sengaja mendekati Agus. Lina tidak menjawab, dia hanya memberikan pandangan tidak setuju kepada karyawan wanita di sebelahnya. Lina yakin Agus tidak akan mengkhianatinya karena sikap Agus sudah berubah.


"Jangan bicara omong kosong."


"Coba kita lihat baik-baik, Pak Agus tidak terlalu membelanya?"


Agus menoleh saat Lina memanggilnya, Lina melihat 'ID CARD' wanita tersebut. “Agnes Meina," tanya Lina lebih detail mengenai masalah yang dialami Agnes. Agus mendengar suara yang cukup tinggi dengan kesan galak dari mulut Lina. ******* Agus membuat Lina menoleh.


"Apa?"


"Kamu berlebihan," kata Agus.


Tidak lama setelah Lina pergi dengan alasan akan memberikan penilaian kepada karyawan lain, Lina melampiaskan segala emosinya kepada karyawan yang bersangkutan. Agus tak heran jika kepribadiannya berubah begitu jelas karena cemburu. Agus melihat Agnes tidak gentar dengan masalah yang kerap dihadapinya, yang semuanya sudah teratasi dengan bantuan Lina.


Berharap tidak lebih buruk, dia memilih untuk pergi setelah mengucapkan selamat tinggal pada Lina. Suara yang memanggilnya, dia menoleh karena Lina melarangnya pergi karena sudah tugas Agus untuk melindunginya. Agus tersenyum dan tidak bisa meninggalkan sisi Lina, mereka berdua sedang berbicara satu sama lain di ruangannya Lina.


Dia menutupi suasana canggung dengan bermain dengan Smartphone-nya. Sebagai orang yang sudah terbiasa, sudah tahu wanita pencemburu sulit dihadapinya selain diam dan pura-pura dungu. Lina mengetik di laptop, sesekali melihat Agus yang masih tenang. Lina tidak ingin terjebak dalam kecemburuan, dia lebih ke basa-basi.


"Kamu bilang, kamu ingin menjagaku, kenapa kamu ingin pergi, Sayangku?" Dia berbalik.


"Ahem, aku ingin bertemu teman, aku akan pergi sebentar."


"Apakah kamu pergi ke suatu tempat yang penuh dengan pesta?"


"Tidak. Aku tidak ada di pesta..."


"Aku harap kamu tidak pergi ke klub malam atau semacamnya," kata Lina.


"Aku tidak pergi ke tempat-tempat seperti itu."


Pada akhirnya Agus hanya diam di tempatnya, ia menjaga Lina seperti pengawalan. Wanita yang pulang selalu di lihat banyak orang yang mengagumi kecantikannya, Agus melihat banyak karyawan pria yang punya pandangan terlalu vulgar pada Lina. Tatapan mata yang mengintimidasi langsung Agus lakukan pada para pria tersebut.


Di dalam lift yang digunakan untuk CEO, Agus hanya berdua dengan Lina yang berdiri di samping. Lina menarik baju Agus dengan kedua tangannya, mereka saling berpelukan. Lina memalingkan wajahnya karena malu. Satu hal tidak cukup jika Agus menginginkan sesuatu yang lebih dari semua yang dilakukannya.


"Tolong biarkan aku memelukmu sampai kita di bawah, aku benar-benar ingin mengumpulkan lebih banyak energi..." Lina menghibur pelukannya.


"Jika lift terbuka, akan ada banyak orang yang melihat kita."


"Apakah kamu malu jika banyak orang melihat?"


"Pertanyaan aneh, seharusnya aku yang bertanya, bukankah kamu malu?"


"Tidak. Aku tidak malu meskipun seseorang melihat kita."


Agus harus memanjakan wanita yang begitu manja, Lina yang sebenarnya baik-baik saja, meminta untuk di gendong dan ke tempat parkir mobilnya. Selama tubuh Lina ditopang tangan Agus, tangan yang aktif menelusuri leher Agus, jakun hingga pipi kirinya.


"Lina, kamu berhenti, ini sangat geli."


"Mengapa kamu jauh lebih tampan dari sebelumnya, sungguh sangat aneh, apakah itu karena aku lebih mencintaimu?"