AGUS

AGUS
Orang Bodoh



"Dunia kali ini lebih sulit, kamu butuh banyak usaha menyingkirkan suatu yang sangat buruk." Seorang wanita— rambut putih dan iris mata hijau, mendekati Agus.


"Sangat sulit dengan otakku yang tak pandai, suatu yang modern tak cukup oleh kekuatan," balas Agus.


"Lakukan dengan kekuatan, yang kamu bisa adalah jalan takdirmu." Wanita itu menyentuh kepala Agus.


Saat Agus bangun tidur, yang pertama kali ia lihat adalah Lina yang sebagian tubuh tertutup selimut, Lina memandanginya sambil menopang kepala dengan satu tangan.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?"


"Mhh?" Lina hanya tersenyum.


"Pakai bajumu."


"Aih, kenapa cuek begitu," kata Lina, ia memeluk dari belakang saat Agus akan pergi.


"Kalau kamu begini, aku tidak bisa mandi."


"Kalau kamu mandi, kamu akan pergi."


"Bukannya kamu sekarang akan kerja?"


"Aku libur, aku bosnya, dan aku sedang ingin liburan!"


"Kamu menyalah gunakan posisimu ternyata?"


"Aishh, jangan begitu, kamu harusnya peka, aku ingin berduaan denganmu!"


"Lina?"


"Panggilan Sayang saja."


"Sayang?"


"Mmm?"


"Kamu ingat yang kukatakan aku akan pergi karena sibuk, kan?"


"Ya, aku ingat."


"Nanti kalau semua urusanku selesai, kita akan pergi jalan-jalan."


"Lalu, sekarang kamu sungguh tidak bisa meluangkan waktu untukku?"


Agus menyingkirkan tangan Lina, dan Agus berbalik. "Ayolah, jangan nangis."


"Harusnya aku yang jadi prioritas utama."


"Kamu memang prioritas utamaku."


"Hahaha, bohong sekali..."


Setelah Agus berhasil meyakinkan Lina, Agus pun pergi, tak mau menunda lagi. Harit Setiawan memanggilnya, Agus menoleh dan menuju ke arah Harit Setiawan. Terkejut ketika Harit mengatakan bahwa resepsi pernikahan akan dipercepat bulan depan, Agus menjawab dengan gembira atas kabar yang diberikan. Setelah itu Harit bertemu Lina, ia menutup kebahagiaannya dengan tidak tersenyum terlalu lebar. Putri satu-satunya segera pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah resepsionis pernikahan.


"Seperti tempat yang dia datang, tempat yang tepat," gumam Agus, saat menelpon Dusten.


Tak lama kemudian telepon berdering, Agus mengangkat telepon. "Bagaimana?"


"Saya akan mengirimkan lokasi lewat WA, Tuan." Dusten bicara singkat.


Lokasi yang ditunjukkan melewati perumahan kecil, Agus masuk di Kafe Kopi yang ada diseberang jalan. Dusten menceritakan semua yang sudah ia selidiki, ia juga mendapatkan seseorang yang bisa dipercaya dalam informasi tentang 'Kelompok Singa Hitam.' Clodoveo, dikatakan sebagai Bos yang sangat kejam, namanya cukup terkenal di wilayah selatan. Agus menyuruh Dusten untuk pulang, ia sudah cukup untuk pergi sendirian. Agus yang sudah dapat petunjuk, ia langsung pergi setelah bicara selama satu jam dengan Dusten. Tempat yang cukup normal seperti peternakan, Agus melihat suasana sekitar begitu sibuk dengan para pekerja.


"Ada keperluan apa Anda datang ke sini?" Seorang pria bertanya.


"Aku mencari seseorang bernama Clodoveo," jawab Agus.


"Kalau saya boleh tahu, apa nama Anda Agus Setiawan?"


Ada satu orang yang memberikan isyarat, dan semuanya langsung menyerang Agus. Suatu yang pernah Agus lalui saat bertarung melawan Goblin dengan jumlah banyak. Manusia masih banyak keraguan dan terlalu banyak berpikir, pola serangan masih dapat Agus baca dengan mudah dan membalikkan keadaan, musuh ada sebanyak 20 orang yang kini terkapar satu persatu. Dia menggunakan tehnik pedang, walau hanya mendapatkan besi yang Agus ambil dari musuhnya.


Banyak yang berusaha untuk bangkit dengan kesakitan. Agus melangkah maju untuk menghampiri sosok yang jadi pemimpin. Orang itu ketakutan dan menjelaskan kalau mereka hanya disuruh oleh Clodoveo. Suara yang memanggil tidak asing untuk Agus, sosok yang memanggil itu adalah Dusten.


"Bukannya aku menyuruhmu kembali, kenapa kau tetap di sini?"


"Saya khawatir dengan Anda Tuan."


Menurut penjelasan kalau Clodoveo tidak ada di tempat ini, Dusten merasa menyesal kalau ia telah gagal dan kemungkinan dibohongi oleh orang yang ia percayai.


"Tidak usah menyalahkan dirimu sendiri, semua orang bisa melakukan kesalahan."


"Terima kasih, Anda memaafkan saya."


"Menurutnya kalau Clodoveo ada ditempat lain," kata Agus.


{Bang!}


Dusten memukul kepala Agus dengan besi yang tiba-tiba direbut dari tangan Agus. Orang yang masih sanggup bangun langsung membantu Dusten. Semua telah ia rencana, karena kerakusan akan uang ia bekerja untuk Clodoveo. Penawaran yang diberikan adalah 500 juta jika Dusten bisa membunuh Agus, sayangnya rencananya gagal dan saat mengawasi kegagalan dari kejauhan, Dusten membuat rencana yang paling menguntungkan untuknya.


Dusten menelepon Clodoveo. "Aku sudah membuatnya pingsan, apa langsung aku bunuh atau aku bawa dia padamu?"


"Kalau begitu kau bawa dia, ikat dia, aku ingin dia tahu seperti apa rasanya menjadi seorang yang mencoba ikut campur dengan urusanku," jawab Clodoveo.


Dusten membawa Agus ke rumah Clodoveo— Markas Singa Hitam. Ruangan bawah tanah yang menjadi tempat Agus disekap. Agus yang duduk di bangku sambil terikat, Agus melihat Dusten yang kini sedang mengawasinya. Dusten begitu senang saat mendapatkan uang tunai yang dijanjikan, sayangnya semua yang ia harapkan tidak berjalan lancar ketika dahinya di todong pistol.


"Ini tidak sesuai janji yang kau katakan!"


"Sudah sesuai janji, kau sudah menegang koper yang berisikan uang, bukan?"


"Sialan!" {Dor!} Dusten langsung terkapar saat tertembak di tempat.


"Wow, kau tetap tenang walau aku sudah menembak orangmu?"


"Dia sudah bukan orangku," jawab Agus.


"Hoo—kau hebat juga," kata Clodoveo.


Clodoveo menanyakan apa yang Agus rencana sampai-sampai mencarinya. Agus hanya menjawab kalau ia akan mengincar orang-orang yang paling buruk di kota, orang jahat yang akan ia berantas. Clodoveo tertawa setelah mendengar lelucon menjadi seorang pahlawan kesiangan. Para penegak hukum saja sangat menghindarinya, tapi Agus malah akan melawan orang-orang seperti Clodoveo.


"Kau seperti bocah, keinginan anak-anak seperti itu tidak berlaku di dunia nyata, sadarlah Bung!"


"..." Agus menatap tajam, ia tidak membantah perkataan Clodoveo.


"Sial, mukamu sangat menjengkelkan!" Clodoveo memukul kepala Agus beberapa kali.


"Daripada muka jelek sepertimu?"


Clodoveo menendang perut Agus. "Cih!"


"Kuh!" Agus meringis.


"Karl!" Clodoveo memanggil bawahannya.


Karl mendapatkan tugas agar menghajar Agus, tidak sampai mati. Clodoveo pergi untuk menelpon seseorang, dan meminta imbalan atas yang ia perbuat. Seorang yang di telepon menyanggupi imbalan yang besar sampai 100 juta. Selama Karl menghajar Agus, Karl merasa kalau Agus masih mampu untuk tenang dalam kondisi yang sudah babak-belur.


"Yang dikatakan Clodoveo benar kalau kau sangat kuat dan keras kepala."


"Bukannya tidak menarik kalau lawanmu sedang terikat seperti ini?"


"Ayolah, aku tidak bodoh untuk melepas ikatanmu dan berhadapan secara terhormat."


Karl terus menghajarnya sampai Agus tumbang dan dipaksa untuk bangkit dan dihajar lagi dan lagi.