
Agus mengambil tindakan cepat memutuskan untuk meninggalkan pria itu. Pria berambut pirang itu langsung mengikuti Agus yang berlari melewati gang rumah. Dia melihat ke kanan, dan masih berlari. "Bocah sialan, jangan lari!" Pria itu berteriak keras, Agus tetap berlari mengabaikannya. Agus memfokuskan aliran 'Mana' ke kakinya, Agus berhasil kabur darinya. 'Town Square' merupakan tempat orang-orang sibuk, di alun-alun kota banyak orang yang beraktivitas. Agus belum pernah sejauh ini. Dia terkagum-kagum dengan sebuah patung di tengah kerumunan orang. Patung seorang pria yang mengangkat pedang, adalah seorang Hero yang dulunya sangat berperan penting dalam mengalahkan Demon.
“Patung Pahlawan,” gumam Agus usai bertanya.
“Orang-orang tidak pernah bosan berdoa di dekat patung pahlawan,” kata seorang pria.
Tak jauh dari tempat Agus berdiri, ada sebuah Bookstore, di sana orang menjual buku-buku sejarah, buku tentang sihir tingkat dasar dan buku tehnik berpedang tingkat dasar. Harga buku yang dijual tidaklah murah, buku sejarah saja harganya 1 Silver yang setara dengan 100 ribu rupiah. Agus sudah belajar tentang mata uang, nilai Bronze sama dengan seribu rupiah, akan menjadi 1 Silver jika mencapai 100 Bronze. 1 Silver hingga 10 Silver akan senilai jadi 1 Gold yang sama dengan 1 juta rupiah, semua adalah perhitungan Agus dalam mata uang dari dunia asalnya. Agus tidak memiliki satu koin perunggu, satu koin pun.
Agus yang penasaran harus menunda keinginannya untuk tahu, karena tidak akan diterima dengan baik jika dia hanya melihat buku tanpa membelinya. Sekelompok siswa berseragam putih dengan motif garis-garis hitam, mereka adalah siswa dari Magic Academy. Dia tidak sengaja melihat siswi berambut pirang dengan mata biru cerahnya, ekspedisinya begitu serius. Agus percaya bahwa anak yang bersekolah di dunia ini adalah anak yang berstatus orang kaya, karena tidak semua orang bisa bersekolah. Agus menempuh jalan yang sama, ia melewati gang sebelumnya, dengan kemampuan Mana yang memperkuat kakinya, ia dapat dengan cepat mencapai tujuannya.
"Syukurlah, aku tidak melihat orang gila itu lagi," gumam Agus.
Agus tiba di rumah saat hari sudah sore, dia banyak bepergian untuk memuaskan rasa penasarannya. Miranda yang sejak tadi mencari Agus, baru pertama kali Agus mendapat teguran dari Miranda, sedangkan Tiara hanya terkekeh karena Agus dimarahi. Jack melarang Agus melakukan tindakan berbahaya karena di luar rumah sangat berbahaya. Agus meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja, dia berjanji tidak akan melakukannya lagi. Jack dan Miranda akan membawa Agus dan Tiara ke 'Registry Office.' Jack dan Miranda telah memutuskan untuk mengadopsi mereka berdua secara resmi, Agus dan Tiara saling berpandangan, mereka berdua sepakat.
Agus merasa risih saat pendaftaran untuk mengadopsi anak, biayanya 2 Gold untuk melakukannya. Nilai yang begitu besar, Agus menilai harga tersebut sebenarnya terlalu mahal jika hanya menyertakan keduanya dalam kartu keluarga. Agus akan membayar semua ini di masa depan, ia berharap ketika ia bekerja nanti ia dapat memiliki lebih banyak uang untuk ditabung. Tiara yang paling bahagia tak menyangka hari yang diimpikannya akan datang, punya keluarga seperti anak lainnya. Sesampainya di rumah, Jack berkata kepada Agus: 'bahwa dengan ini, Agus tidak akan mendapat masalah di kemudian hari.' Agus mengucapkan terima kasih dan akan membalas kebaikan dari Jack dan Miranda.
Kedua pasangan itu hanya meminta Agus untuk menganggap mereka sebagai orang tuanya sendiri. Agus dengan mudahnya mengatakan ayah dan ibu tanpa banyak berpikir. Tiara melakukan hal yang sama, dia melihat Agus, dan tersenyum bahagia. Agus senang bisa membantu seseorang yang dikenal pemilik tubuh aslinya. Hari yang ditentukan telah tiba, Agus pergi ke tempatnya bekerja, Jack mengajak Agus secara pribadi untuk bertemu Jarvis Len Keller. Agus ditempatkan di gudang untuk mencatat barang yang masuk, Agus tidak menyangka akan mendapatkan pekerjaan yang cukup tinggi.
Mereka yang awalnya ingin memandang rendah Agus, mereka mengurungkan niatnya. Mereka lebih baik menghormati Agus, jika mereka melakukan kesalahan akan berakibat pada diri mereka sendiri. Jarvis memperkenalkan Hilma yang akan banyak membantu Agus dalam pekerjaannya, Agus merasa pekerjaan yang akan diembannya sangat berat. Hilma mengejar banyak hal baru untuk Agus, Hilma memperhatikan Agus dengan seksama, cara penulisan anak laki-laki itu sangat jelas, tidak terlihat kaku, guratan angkanya juga tepat dalam pertambahan.
"Memang benar apa yang Master katakan bahwa kamu sangat jenius."
"Jenius?" Agus menoleh, dia mengaku sebagai anak yang normal, ia bisa pintar karena belajar.
Hilma tak jauh beda dengan sekretaris yang bisa dipercaya. Selama Agus bertanya, dia akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Hilma menyimak lebih detail hingga Agus merasa cukup risih. Pengawas yang sebelumnya cukup ketat dengan karyawan bekerja tanpa istirahat demi target kerja dan bonus. Agus memberi waktu satu jam di siang hari saat seseorang akan makan, banyak yang bingung dengan aturan baru tersebut. Mereka takut akan ada pemotongan upah selama pengaturan yang tidak biasa ini setelah mereka dinilai dari jumlah pekerjaan yang mereka lakukan.
“Saya tidak akan menyusahkan Anda dengan memotong gaji Anda,” kata Agus saat ditanyai seseorang mewakili seluruh karyawan.
Agus tidak mencari bonus, dia puas dengan gaji 3 Gold per bulan yang sangat besar, jika dirupiahkan menjadi 3 juta rupiah. Jarvis Len Keller mendengarkan semua yang dilaporkan Hilma, semuanya berjalan terlalu lancar bagi seseorang yang baru bekerja. Jarvis tidak menyangka akan ada jam istirahat waktu siang hari. Agus mengorbankan bonus yang bisa dia dapatkan hingga 1 Gold selama sebulan? Hilma mengabarkan bahwa ada yang janggal pada anak seusia Agus, Jarvis Len Keller tersenyum dan meminta Hilma untuk mengabaikan keanehan tersebut. Jarvis merasa hal menarik tersebut tetap menjadi rahasia.
Agus merasa puas saat makan malam, dia senang bisa bekerja dengan baik, dia benar-benar bisa mencapai rencana masa depan dengan mudah. Jack merasa sangat malu dengan gaji yang akan didapat Agus, Miranda hanya tertawa geli melihat kecemburuan suaminya. Agus bertanya mengapa Jack tidak mencari pekerjaan lain. Jack mengaku jika kurang pandai ia hanya bisa bekerja sebagai buruh, merasa sudah cukup. Agus tidak memikirkan lagi pekerjaan Jack, Agus hanya meminta agar Jack tidak memaksakan diri. Selama di rumah, Agus tidak segera tidur, ia lebih memilih untuk meditasi. "Selama aku memusatkan semuanya, aku tidak akan lelah bahkan mengantuk." Agus menarik napas dan menghembuskan napasnya perlahan-lahan. Aliran Mana tidak hanya ke seluruh tubuhnya, dia juga mengalirkannya mengikuti pembuluh darah.