
Suara wanita itu begitu merdu, menurut ingatan Agus sendiri wanita itu pernah menjalin hubungan dengannya. Agus yang menempati tubuh orang lain, dia bisa mengingat ingatan orang yang dirasukinya. Agus sangat setuju dengan perkataan wanita yang mengajak Agus untuk menemuinya. Jika diingat lebih jauh, Agus menilai dirinya kini cukup brengsek karena tidak peduli dengan wanita yang menyukainya. Laki-laki dengan wanita yang baik hati adalah berkah, Agus berharap bisa mendapatkan sesuatu yang istimewa alih-alih masalah di masa depan. Salah satu alasan ia ingin segera menemui wanita itu untuk meminta maaf atas segala kesalahannya meski yang salah bukanlah dirinya yang sebenarnya.
Pada malam hari di alun-alun pusat kota, Agus bertemu dengan perempuan bernama Lina Setiawan. Perempuan berambut coklat itu melambaikan tangan, Agus tersenyum ramah, ia berpura-pura bersikap sebagaimana mestinya untuk menghindari kecurangan. Wanita itu memiliki ekspresi yang sulit untuk disimpulkan seolah-olah dia bingung tentang sesuatu. Agus tahu persis mengapa wanita itu bertingkah seperti itu karena dia ingat bahwa sebelumnya dia memiliki sikap buruk terhadap wanita yang menyukainya. Ketika mereka berjalan bersama, wanita itu banyak bertanya tentang masalah yang dihadapi Agus, Agus dengan lembut menjawab bahwa dia telah menyelesaikan masalah tersebut. Wanita bernama Lina di samping terus memandang dengan wajah khawatir.
"Malam ini kamu berbeda dari biasanya."
"Begitu... Maaf jika aku ada salah denganmu sebelumnya." Agus tersenyum.
"Mmm, aku sudah lupa tentang dua hari yang lalu, aku seharusnya bisa meresponmu dengan lebih baik." Lina menggandeng tangan Agus, mereka bergandengan tangan.
"Aku sangat beruntung..." Gumam Agus mewakili dirinya yang lain.
"Untung kenapa?" Lina penasaran.
"Bukankah kamu terlalu baik untuk pria sepertiku?" Agus penasaran, dia bertanya karena ingin tahu.
"Biasanya kamu tidak seperti ini, apa yang menyebabkan kamu begitu lembut malam ini?"
"Mungkin aku baru menyadari bahwa aku terlalu jahat padamu sebelumnya." Agus berusaha menjadi baik seperti dirinya, ia ingin memperbaiki yang buruk agar tidak semakin parah.
Lina berharap Agus tetap dengan sikapnya saat ini. Lina tidak ingin mendapatkan sikap buruk lagi dari Agus, Lina sebenarnya cukup ingin menyerah pada hubungan saat ini, tapi untungnya perubahan aneh ini membuatnya lebih sabar dan memikirkannya lagi karena bagaimanapun Agus adalah pacar pertamanya. Agus mengikuti jalan kencan, Agus lebih fokus mengingat kembali kenangan akan tubuh yang dimilikinya. Lina mengeluarkan uang satu juta karena ingin membantu Agus menjalani hari-harinya dengan lebih baik, karena Lina tahu pacarnya sedang dalam masalah, namun Agus menolak dan membuat Lina kagum.
"Kamu yakin tidak mau, bukannya kamu sebelumnya mengatakan sedang butuh uang?"
"Sebelumnya memang ia tapi, sekarang aku sudah menyelesaikannya," kata Agus, ia menoleh untuk melihat sekitar.
Di dunia yang semuanya membuat Agus terdiam dengan pengorbanan wanita yang menjadi kekasihnya. Dia tidak tahu bahwa pacarnya saat ini adalah orang lain. Agus seramah mungkin agar kencannya tidak semrawut seperti yang dia ingat terakhir kali. Agus garuk-garuk kepala sendiri mendengar kata-kata yang terdengar begitu sedih itu, Lina meminta maaf karena telah banyak mencampuri kehidupan Agus. Wanita itu berjanji untuk bersikap baik dan pengertian. Agus mengingat sesuatu dan memastikan bahwa apa yang Lina lakukan tidak boleh dilakukan terlalu sering, Agus menyatakan dirinya tidak seperti dulu lagi, dia berjanji akan berubah menjadi lebih baik dalam hidupnya.
Langkah Agus terhenti saat menerima pelukan tiba-tiba, raut wajah yang begitu bahagia terpancar jelas. Agus tersenyum dan membelai rambut Lina. Agus benar-benar merasa telah merampas harta orang lain, ia telah mendapatkan wanita yang termasuk idaman para pria. Sempat kaget karena pemilik tubuh yang sebelumnya meminta sesuatu yang tidak seharusnya, kali ini Lina menerimanya, namun Agus menolak karena statusnya agak sulit dijelaskan. Agus memutar otak mencari alasan yang bisa diterima.
"Kurasa kita tidak perlu melakukannya," kata Agus.
"..." Lina melihat dengan rasa heran ia selalu ingat kalau Agus selalu meminta sampai terlihat kesal.
"Kupikir akan tidak baik kalau sebelumnya menikah melakukannya," kata Agus sekali lagi.
Tempat yang asing karena Agus baru pertama mengetahuinya, tempat karaoke yang biasanya sering didatangi remaja yang sering pacaran. Agus ingat saat di Indonesia ia tidak pernah sama dengan cara pacaran di dunia ini walaupun sama-sama dunia modern, ia menghela napas karena mungkin ia belum pernah mengatasinya saja. Agus hanya mendengarkan Lina bernyanyi lagi yang sangat asing untuk Agus. Suara yang merdu itu bisa Agus nikmat, Lina hanya tersenyum canggung dan penasaran karena Agus tidak memesan minuman keras yang biasanya sering ia minum. Agus tersenyum karena yang dilihatnya kini berusaha untuk mencoba menarik perhatian dengan gerakan tubuhnya sambil bernyanyi.
"Kamu tidak memesan minuman?"
"Sungguh? Aku terkejut karena kamu memutuskan untuk berhenti, aku senang kalau kamu mau berhenti."
"Pasti sangat sulit untuk kamu terus denganku, ya?"
"Kamu aneh sekali, kamu seperti orang lain saja..."
"Aku merasa banyak punya salah padamu," kata Agus.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, kamu jadi sangat berbeda sampai aku bingung..." Lina melihat dengan penasaran.
"..." Agus diam seribu bahasa.
"Kamu biasanya tidak begini, kamu tidak berencana untuk mencampakkan aku, kan?"
"Aku lelah," kata Agus, bersandar di sofa, dan memejamkan mata.
"Aku tahu masalah yang kamu hadapi, kamu terima saja bantuan aku, ya?"
"Aku tidak ingin menerima uang kamu, Lina..."
"Bagaimana kalau tempat tinggal, bukannya kamu sangat membutuhkannya?"
"Aku sangat membutuhkannya, ah kepala sangat pusing aku tidak mau banyak pikiran lagi."
"Begini saja, sebelahku ada kamar kosong, aku akan menyewa apartemen yang ada disebelah gimana?"
"Aku jadi bikin kamu kerepotan."
"Gimana juga kita ini pacaran, walau tidak menyebut panggilan dengan mesra."
Hubungan yang tidak boleh diakhiri, alasan Agus sendiri tidak ingin menyakiti perasaan Lina, tapi Agus yang hanyalah orang lain jadi merasa campur aduk dalam perasaan yang ia rasakan. Agus mengikuti agar ada pihak yang tidak kecewa, cukup itulah yang ia lakukan untuk sekarang. Agus merasa kalau dirinya sedang ditipu, akhirnya merasa berdua tinggal bersama. Apartemen dengan dua kamar sudah seperti disiapkan sejak lama, Lina dengan malu-malu berkata jujur kalau ia sudah menyiapkan hal ini sejak dahulu, toh cita-cita wanita cantik ini ingin bersama kekasihnya selamanya. Agus merasa kasihan dengan wanita ini, ia terlalu fokus dengan mimpinya bersama pria pertamanya. Agus akan membayar dengan sikapnya yang baik, ia juga akan menyelesaikan masalah hutang dari si pemilik tubuh aslinya.
"Maaf kalau akan baru jujur sekarang, aku sudah begitu lama merahasiakan ini dari kamu, kamu tidak marah padaku, kan?"
"Aku tidak marah, aku sangat senang ... Terima kasih, Lina."