
Smartphone berdering dan ada kabar dari Lina Setiawan yang khawatir. Agus menjawab baik-baik saja selama bekerja tidak ada masalah. Lina senang mendengar kalau semua baik saja tapi tak begitu lama Agus memilih sambung telepon harus diakhiri karena ada masalah yang harus ia selesaikan dengan segera. Agus masih memikirkan wanita itu ia mencari informasi wanita tersebut, tidak lama untuk Marika La Brisa yang diminta bantuan.
"Aku sudah tahu siapa wanita itu, dia adalah seorang artis yang cukup terkenal baru-baru ini, aku tidak menyangka kalau kamu tidak tahu tentangnya." Marika.
"Aku tidak tahu karena aku tidak begitu mengikuti kabar tentang artis atau semacamnya," kata Agus.
"Seharusnya kamu mengikutinya karena sangat perlu untuk tahu lebih banyak informasi." Marika.
Agus sangat penasaran dengan wanita bernama Yuna Starly. Agus melihat wanita itu sangat mirip dengan Lulu Aite, rambut putih dan mata hijau zamrud yang begitu mempesona. Dia tahu kalau wanita itu bukan ras Elf, dia hanya manusia normal yang bahkan tidak berkulit gelap seperti Dark Elf. Agus menahan dahinya dengan satu tangan, rasa dalam dadanya yang berdebar-debar kencang. Agus secara pribadi ingin bertemu, namun selama ia berpikir, Marika mendekatkan dan duduk berhadapan dengannya.
"Sangat lucu kalau kamu akan selingkuh," kata Marika.
"Maksudmu!" Agus.
Posisi yang terbilang sangat tak sopan, jarak yang begitu dekat, Agus yang duduk di sofa hanya diam untuk tak menolak yang Marika lakukan, kedua pahanya di duduki oleh Marika.
"Posisi yang menarik, tidak?" Marika.
"Posisi yang tak menarik, kau menjauh dariku."
Marika mengolok-olok Agus yang tak setia pada wanita yang akan jadi calon istri, malah mencari seorang wanita lain, Marika pikir ia cukup punya kesempatan untuk merebut milik orang lain.
"Aku yakin kalau kamu sangat pandai dalam hubungan?"
"Aku tidak pandai, aku biasa saja." Agus menghela napas.
Agus menyingkirkan Marika agar menjauh, Agus lebih fokus ke wanita yang akan ia cari. Marika hanya tersenyum untuk membiarkan Agus pergi begitu saja.
"Pria yang begitu sulit untuk aku dapatkan, malah semakin menarik, aku semakin tidak tahan ingin memilikinya walaupun hanya semalam," gumam Marika.
Agus mencari alamat apartemen yang Marika berikan, Agus akan melihatnya sekali lagi. Pria yang begitu penasaran ini semakin tak terkendali hingga lupa apa tujuan ia sebenarnya. 'Apakah kau harus melakukannya?' Agus diam saat lubuk hati bertanya pada dirinya sendiri. Dia harus sadar kalau semua itu hanya masa lalu yang tak akan kembali, ia harus sadar kalau semua yang ia lakukan adalah kesalahan.
"Aku harus tetap melihatnya, walaupun aku salah paling tidak aku bisa menenangkan diri dengan melihatnya," gumam Agus.
Dia sampai pada alamat yang diberikan, Agus menekan bel pintu. Agus menunggu cukup lama ia berdiri sendirian di depan pintu. Dia yakin kalau wanita itu tidak akan membuka pintu setelah semua yang terjadi, Agus memutuskan untuk kembali dan mencari jalan yang lain agar bisa bertemu dengannya. Pesan masuk di Smartphone, Lina menulis pesan dan mendoakan agar Agus bisa cepat pulang. Agus tertawa kecil, ia tak menyangka kalau Lina sampai menuliskan doa-doanya sebagai pesan penuh harapan.
"Lina," kata Agus.
"Akhirnya kamu meneleponku." Lina.
"Maaf aku tadi sibuk ya, aku seperti tak peduli denganmu."
"Hah, sungguh ... kamu tidak peduli padaku yang sangat rindu kamu."
Memang sangat berat tapi ini adalah takdir, mungkin ia pikir semua yang terjadi bukanlah semua akan menjadi jodoh. Bodoh untuk terlalu larut karena suatu yang ada di masa lalu. Agus tersenyum kecut, ia buru-buru akan pergi dan menuju lift. Wanita yang ada di depannya adalah wanita yang ia cari walaupun menggunakan masker dan kacamata, Agus bisa mengetahui rambut putih yang tertutup oleh wig rambut hitam.
"Maaf, apaka kamu Yuna Starly?"
Wanita itu terdiam. "Bukan ..." Dia bergegas pergi.
"Aku yang menolong kamu sebelumnya."
"Aku akan melindungi kamu jika kamu dalam masalah." Agus mendekatinya.
"Kamu siapa?"
"Aku seseorang yang tidak suka orang jahat."
Sangat aneh untuk dipercaya, Yuan Starly memilih untuk tetap pergi tapi selama ia melangkahkan kakinya ia jadi cukup penasaran dan apa yang diinginkan dari pria asing tersebut. Yuna yang ingat kejadian sebelumnya ia bisa menebak kemampuan dari pria tersebut.
"Kalau begitu aku ingin tanya satu pertanyaan?" Yuna.
"Pertanyaan apa?" Agus.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" Yuna.
Agus tersenyum dan mengatakan semuanya, ia hanya ingin membantu, masalah pertemuan waktu itu adalah kebetulan karena tujuan Agus sendiri adalah Ken Otto. Yuna Starly hanya melihat cukup lama, dalam benaknya ia tidak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri dan menimbang semua yang akan ia lakukan.
Mereka memilih tempat untuk bicara, Kafe yang tidak jauh dari Apartemen yang jadi tempat mereka saling bicara. Agus menanyakan tentang tempat tinggal Yuna, yang harus bisa memilih tempat yang lebih bagus dari yang ia tinggali. Yuna hanya tersenyum dan menjawab kalau ia sangat suka tempat itu karena banyak kenangan yang sangat tidak ingin ia lupakan.
"Kamu orang yang sederhana," kata Agus.
"Maksudmu?"
"Mengenali kamu adalah seorang Artis, sangat hebat untuk bersikap begitu."
"Ah, kamu terlalu memujiku..." Yuna malu akan pujian, ia melihat Agus, sosok yang diluar dugaan Yuna Starly.
"Aku menemui kamu ada alasan khusus, kamu sangat mirip dengan wanita yang kukenal." Agus tersenyum.
Yuna menilai yang dikatakan Agus adalah rayuan yang sangat kuno, menjadi seseorang sebagai alasan untuk bisa menjadi lebih akrab. Yuna membayangkan antara benar dan kebohongan, dia lebih yakin kalau itu lebih ke arah sesuatu kebohongan seorang pria terhadap wanita yang mereka ingin kencani. Situasi tidak begitu mendukung Agus yang mendadak sangat kesulitan akan mengurangi rasa canggung. Yuna Starly sangat mirip dengan Lulu Aite, wajah yang mirip jika Lulu Aite menjadi seorang manusia, Yuna Starly yang paling mendekati kemiripannya.
"Ehem, seperti kita tidak bisa lebih lama, aku harus pulang dan mempersiapkan sesuatu." Yuna.
"Kalau begitu, aku sangat berterima kasih karena kamu meluangkan waktu."
Agus puas dengan semua yang ia lakukan, ia menelpon Marika La Brisa untuk terus mengawasi Yuna Starly. Marika seakan enggan karena dia tidak mendapatkan keuntungan jika membantu Agus lebih banyak lagi. Agus hanya menawarkan dirinya yang kelak akan membantu Marika jika dalam masalah. Agus memberikan dirinya yang pandai berkelahi selama yang harus Agus selesaikan adalah orang-orang yang terbilang jahat.
"Kalau begitu aku akan bantu kamu," kata Marika.
"Baguslah, sampai sini saja ..."
"Tunggu, kamu ingin tutup telepon?!"
"Tentu saja, aku harus pulang karena ada yang menunggu."
"Ya ampun, memang sangat hebat, kamu cukup brengsek untuk seorang pria..."
"Kau bicara apa, aku tidak seperti itu."