AGUS

AGUS
Yang Harus Diakhiri



Harit Setiawan yang baru pulang langsung menemui Lina untuk menanyakan perkembangan perusahaan. Lina yang dengan pandai dalam bicara, ia mengatakan secara jujur. Harit puas dengan pekerjaan putrinya. Namun, Lina meminta agar yang dijanjikan untuk tetap dilaksanakan. Harit berpikir seperti susah untuk menentukan, ayahnya yang seperti ingin mengulur-ulur waktu membuat Lina semakin tidak tahan.


"Yang pasti tahun depan..."


"Tidak jadi dipercepat, bukannya ayah sudah janji!"


"Kenapa kamu begitu terburu-buru, kamu jadi seperti tidak baik dengan sikapmu!"


"Ayah!" Lina sedang kesal.


"Jangan seperti anak kecil, tahun depan itu cepat..." Harit beranjak dari tempat duduk.


"Ayah tahukan kalau aku tidak suka dibohongi?"


"Kau ini banyak bicara!"


"..." Lina langsung bungkam.


Lina pergi, ia membanting pintu saat menutupnya. Agus yang berada di luar hanya mendengarkan semua percakapan tersebut. Mereka sangat sulit jika dalam pernikahan, Agus tak ingin mengambil pusing karena tinggal menunggu waktu saja agar mereka menikah, benaknya juga tak nyaman jika pernikahan tidak terjalin maka sama saja dia seperti pria brengsek yang tak bertanggung jawab. Agus berjalan di halaman belakang rumah, ia melihat langit malam yang begitu menenangkan diri. Dia seperti pecundang yang hanya bisa melihat semua itu dengan pandangan yang menerawang, sulit baginya untuk berguna pada suatu yang tak dalam kemampuannya.


"Sayang?"


"..." Agus menoleh.


Kehidupan ini yang paling sulit dan rumit dengan kekayaan yang bisa membuat seseorang mendapatkan pengakuan, ia yang hanya pandai berkelahi tak menemukan cara yang paling cepat untuk dirinya jadi sosok yang luar biasa. Lina khawatir dengan ekspresi wajah Agus yang tak seperti biasanya, itu seperti menunjukkan kalau ia sedang banyak pikiran.


"Apa kamu khawatir kalau kita tidak bisa bersama?"


"Seharusnya sebaliknya, aku yang menanyakan tentang itu?"


Lina menekan dada Agus dengan dadanya, kedua tangan melingkari lehernya Agus. "Aku mencintaimu..."


"Entah aku yang beruntung apa kamu yang bodoh, kamu memberikan segalanya untuk orang sepertiku."


"Bodoh, namanya juga cinta..."


"Cinta ya..." Agus tersenyum.


Agus tak tahu apa ia juga bisa mencintai tanpa ada kebimbangan, Lulu Aite yang paling jelas ia cintai untuk pertama kalinya, dan sosok Tiara. Lina Setiawan sosok yang paling banyak membantu dalam hidupnya di dunia ini. Sulit jika harus memakai perasaannya yang benar-benar tulus.


"Ada apa?" Lina menatap semakin dekat.


"Kamu sangat cantik," kata Agus.


"Tumben kamu mengatakan seperti itu, biasanya cuma waktu bersemangat saja kamu bicara romantis." Lina menjauhkan diri.


"... Lebih baik seperti ini saja..."


"Apa?"


"Apa aku lebih baik hanya seperti ini saja?" tanya Agus merubah ucapannya yang mengarah ingin memberitahukan kebenarannya.


"Aku kurang paham?" Lina mendekat.


"Cuma kamu wanita yang seperti ini Lina..."


"..." Lina tersipu malu, ia sungguh tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Sejujurnya aku tidak punya usaha apa-apa..."


"Hmm?"


"Aku layaknya seperti pengangguran..." Agus memalingkan wajahnya.


"Terus?"


"Ayah mengakui kamu sudah cukup, maksudmu beladiri, ayah dari dulu suka hal semacam itu, tapi—, aku tidak mau kamu bekerja dalam hal kekerasan."


"Aku hanya bisa melakukan hal kekerasan."


"Jangan lakukan, aku tidak suka."


"Aku harus melakukannya."


"Kenapa kamu sekarang suka hal semacam ini, kamu dulu lebih suka tak ikut campur walaupun ada orang yang dipukuli."


Agus menekankan kalau semua orang pasti berubah, dalam hal apa pun sampai merubah kebiasaan. Lina mendengarkan dan tak setuju dalam beberapa hal untuk Agus yang mulai lebih suka berkelahi. Niat yang memang baik jika bisa membantu orang untuk menyingkirkan orang jahat—, Lina Setiawan menyangka bagaimana keyakinan Agus untuk melakukannya.


"Apa kamu ingin jadi pahlawan?" Lina menatap tajam.


"Aku hanya ingin melibatkan diri untuk hal yang aku bisa dan tak jadi masalah di masa depan."


"Kenapa kamu begitu yakin?"


"Mmm?"


"Yang kamu pikirkan memang baik untuk ke depannya, tapi kamu juga pikiran kalau orang yang kamu lawan akan membalas dendam..."


"Aku akan menghadapi mereka, aku sudah cukup banyak menambah kekuatan." Agus tersenyum.


"Aku tidak kuat, kamu sudah memikirkan apa yang mungkin terjadi tidak ke arahmu setiap saat."


"..." Agus baru sadar tentang kalau orang lain yang akan dalam masalah, mereka yang belum disingkirkan kemungkinan merencanakan sesuatu.


"Aku tidak tahu sekuat apa kamu, tapi aku sudah melihat sendiri metode yang luar biasa yang kamu lakukan." Lina mengerakkan matanya ke arah kiri tak berani menatap. "Bukan maksudku untuk banyak bicara, aku hanya selalu memikirkan sesuatu yang buruk terlebih dahulu..."


Setelah bicara dengan Lina, Agus pergi menemui calon mertuanya. Harit Setiawan hanya diam saat Agus bicara, bukan hanya masalah pernikahan, juga orang-orang yang dihadapi Agus sebelumnya. Harit menjelaskan kalau ia sudah tahu besar kecilnya masalah yang Agus hadapi dengan sembrono.


"Kamu tidak perlu khawatir tentang keselamatan Lina, kalau kau bisa sungguh-sungguh menyingkirkan kedua orang yang akan membawa masalah."


"Aku akan menyingkirkan mereka, saya mohon jaga diri Anda dan Lina."


"Sangat mudah bagiku, kalau kau bisa melakukan lebih baik tanpa ragu-ragu dan melenyapkan sampai akarnya, aku berjanji semua bagian dari Keluarga Setiawan akan jadi milikmu."


"Saya tidak cocok dengan semua itu karena saya bodoh. Lebih baik Anda mempercayakan semuanya pada Lina."


Pembicaraan berakhir dengan keyakinan Agus yang akan pergi. Lina mendapatkan kabar yang baik saat Agus kembali akan jadi tanda kalau mereka akan langsung menikah. Harit Setiawan yang sedang bersama Johnson, Harit Setiawan tak banyak bicara selama mendengarkan semua yang dikatakan Johnson.


"Mereka akhir-akhir ini merencanakan sesuatu, orang yang saya miliki memberitahukan pergerakan mereka."


"Orangmu yang kamu latih sebagai mata-mata masih dapat kamu percaya?"


"Saya masih percaya kalau dia belum ketahuan."


"Kamu suruh dia untuk membantu Agus, rencana ini tidak akan mudah meski dia kuat." Harit Setiawan menghela napas.


Orang-orang yang mengkhawatirkan sangat licik untuk dikalahkan, mereka punya cara kotor yang sangat berbahaya, keberuntungan Harit Setiawan lah yang sering menang untuk membuat dirinya selalu aman dari kejadian-kejadian yang tak terduga. Johnson mendapatkan laporan kalau akan ada suatu yang menargetkan Lina Setiawan, dan Agus juga menjadi target.


"Fokuslah pada putriku, orangmu bisa membantu dia walaupun hanya satu orang."


"Saya paham, kalau begitu saya permisi untuk menjalankan rencana.


Waktu pagi harinya, Lina melarang Agus pergi, ia akan ikut namun Agus melarang. Lina menemui ayahnya karena Agus mendapatkan suatu tugas yang tidak masuk akal.


"Dia sangat kuat dan bisa melawan mereka."


"Sekuat apa pun dia cuma manusia!"