
Latihan dimulai dengan banyak usaha, Agus menerima banyak latihan dan saran dari Limus. Yang akan dia lakukan sekarang adalah mengumpulkan uang untuk menempuh kehidupannya di masa depan. Agus tidak ingin terlalu membebani Lina, Agus akan berusaha maju dengan kemampuannya sendiri untuk sepenuh usahakan dia gunakan supaya bisa membantu. Martin Lut menanyakan kegundahan yang Agus rasakan, ia menjawab semuanya begitu mudah tidak ada alasan untuk terlalu memikirkan sesuatu yang hal yang pribadi. Limus melihat Agus yang banyak melamun, ia penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh Agus yang biasanya selalu tersenyum dan menganggap semuanya akan baik-baik saja.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan seseorang yang sedang sibuk."
Jawabannya yang ambigu membuatnya menghela napas dalam-dalam, Limus meminta Agus untuk tetap sehat dalam keadaan apa pun, karena pekerjaan ini juga menguras mental untuk tetap bisa kuat apa pun yang terjadi. Jika Agus mengingat kembali di masa lalu, ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dialami, mental Agus juga sudah terlalu kuat untuk menghadapinya hal-hal yang buruk di dunia. Martin Lut memanggil mereka berdua untuk menjalankan tugas yang selanjutnya. Kedua orang itu sudah bersiap dan langsung pergi untuk menemuinya. Martin Lut menanyakan kesiapan Agus yang langsung menjawab dengan lugas kalau dia sudah sangat siap.
Tugas mereka untuk menghancurkan sebuah kelompok ini menyangkut masalah perjudian, Agus dan Limus saling bertatapan seperti menanyakan kesiapan mereka. Limus jadi penasaran karena dia pun pernah melakukan hal yang semacam ini walaupun dia sudah sangat ahli sebelumnya hanya membunuh bukan untuk menghancurkan kelompok menyangkut perjudian yang sesungguhnya tidak perlu untuk dimusnahkan menurutnya. Suatu yang tidak masuk akal itu tetap saja mereka kerjakan, mereka mencoba menikmatinya dengan cara yang sangat konyol, mereka mulai penyabar untuk berperan menjadi seseorang yang kaya mereka akan ikut dalam perjudian semacam kasino. Hiruk-pikuk orang-orang yang sedang tidak memperdulikan mereka, para pelanggan hanya sibuk dengan yang mereka kerjakan.
"Bukannya Bos seperti tidak ada kerjaan, kita harus melakukan semacam ini?"
"Seperti yang kamu lihat, dia juga turut bergabung. Mungkin, dia ingin mengetes kamu lebih coba lagi," kata Limus.
Martin Lut tertawa lepas, ia tidak tertawa bodoh karena memberikan isyarat kepada mereka berdua. Orang yang Martin tunjuk adalah seseorang yang berperan penting, ia menjadi yang utama dari semua orang yang ada di sana. Orang itu memiliki ciri-ciri yang gendut, tangan orang itu menyentuh bagian belakang seorang wanita, pria itu sungguh tidak punya sopan santun, dia tidak peduli dan menampar bagian belakang tersebut.
Orang gendut yang banyak gaya itu semakin kesal ia kalah dalam berjudi. Kartu yang ia pegang sangat mengecewakan, ia langsung mengambil tindakan dengan amarah yang meledak-ledak. Agus jadi merasa tidak nyaman dengan perilaku orang itu yang semakin memburuk. Limus melihat ke arah Martin Lut yang memberikan syarat dengan cara yang belum pernah dilihat oleh Agus. Dia hanya mengikuti Limus yang menuntun untuk mengikuti pria gendut tersebut, Agus yang akan diminta untuk membunuh pria tersebut padahal ada lima pengawal yang sedang bersama pria itu.
"Aku akan langsung membunuhnya?"
"Kamu harus melakukannya dengan cepat agar tidak ketahuan." Limus memberikan pistol kepada Agus yang langsung menerimanya tanpa ragu-ragu.
Dengan penglihatan yang jauh lebih baik daripada orang normal, Agus langsung penembak tepat pada sasaran mengenai belakang kepala pria tersebut. Dengan adanya peralatan suara tembakan tidak terdengar oleh banyak orang, Agus dan Limus pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Martin Lut mengutarakan kekagumannya, dia tidak salah untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan yang Agus miliki. Suatu yang begitu salah aku selasa akan semakin ia pikirkan semua ini benar-benar tidak cocok untuknya tapi anehnya, dia tidak ingin mengakhiri semuanya begitu saja, apalagi untuk pergi dari pekerjaan yang baru saja dia mulai.
"Apa kabar tidak curiga kalau ini terlalu mudah untuk kita?"
Smartphone berdering untuk beberapa saat, Agus melihat kalau itu telepon dari Lina. Suara yang begitu indah dan ada nada yang menggoda kini menanyainya akan kesehatan dan apa saja yang sedang ia lakukan. Agus menjawab semua pertanyaan dengan suara yang lemah. Lina bisa mendengar kalau ada suara yang bising dari jarak yang jauh. Agus menjawab kalau suatu itu dari televisi yang sedang ia tonton. Lina meminta agar Agus tetap berjaga dengan kesehatannya sendiri dan tidak dalam suatu yang membahayakan, Agus berjanji di tengah kebohongan.
"Ini sudah larut, kamu harus istirahat."
"Kalau begitu aku tutup telepon, Sayang." Lina menjawab dengan lesu.
Kehidupan di dunia kali ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya, ia jadi merasa semakin aneh setiap menjalani semua tugas yang diberikan. Agus pun berpikir jika ingin mengakhiri semua ini ia harus mengembalikan uangnya, tapi setelah ini ia tidak tahu cara mengumpulkan uang dengan cepat. Limus menertawakan kesungguhan yang Agus punya sebagai seseorang yang tadinya ditawari harusnya bisa memilah-milah. Agus bersabda di bangku taman, ia menerima sebatang rokok yang diberikan oleh Limus.
"Kau dan aku seperti orang yang sama, tidak punya tujuan hidup," gumam Limus.
"Tujuan hidupku sudah lama hilang, aku malas berpikir dan melakukan perkejaan yang menghasilkan," jawab Agus.
Seminggu berlalu dengan cepat, Agus sudah terbiasa dalam perjalanan dunia yang gelap sampai di mana ia melihat segalanya semakin tidak nyata untuk dirinya sendiri. Suara langkah kaki mengejutkan diri saat pulang, ketika berbalik ternyata ada sosok Lina yang sudah kembali dalam pekerjaannya. Lina merasa tidak ada yang beres dari Agus yang terlihat sangat begitu buruk dengan tatapan mata yang tidaklah hidup dalam semangat bahkan tidak senang dan heran saat ia sudah pulang.
"Kamu kenapa terlihat begini, apa yang terjadi padamu, Sayang?"
"Aku tidak tahu, aku sangat lelah, ayo kita tidur," jawab Agus, yang langsung pergi untuk masuk ke dalam rumah.
Agus menilai kalau lebih baik hidup dalam dunia yang lebih terbelakang. Dia merasa dunia modern tidak membahagiakan seperti bayangan ia impikan. Agus yang frustasi melampiaskan segalanya di malam hari, semua tercurahkan kepada Lina yang menerima segala perlakuan dari Agus. Lina bisa memahami yan sedang Agus alami, Agus jadi merasa semakin aneh dengan ya dilakukannya.
"Kenapa kamu begitu bertahan dengan semua yang kulakukan, kamu bisa memilih untuk pergi jika kamu mau..." Agus tersenyum.
Lina memalingkan wajahnya, ia tidak menjawab pertanyaan yang seperti itu dari Agus.