AGUS

AGUS
Ketagihan



Masalah yang datang tidak dapat dengan mudah diatasi ketika semua orang tahu bahwa membunuh Agus akan sulit. Dickie dari Beruang Hitam, dia mengatakan apa yang dia ketahui dari kemampuan Agus yang tidak masuk akal untuk dengan mudah membunuh anak buah Dickie. "Harus ada pembunuh profesional dengan bakat gila untuk membunuhnya."


Clodoveo dari Singa Hitam sangat frustasi, pria bernama Ken Otto dari Elang Biru hanya mendengarkan amukan Clodoveo. Dickie tentu menjebak Agus, hanya orang kuat dan kuat yang tidak tahan peluru dan bom? Clodoveo dan Ken saling memandang tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, ada banyak kemungkinan jika itu bisa berguna.


"Kalau aku bisa membunuhnya, tentu aku bisa memanfaatkan situasi untuk mendekati Lina Setiawan," kata Ken.


"Kamu tertarik dengan wanita bekas orang lain?" Clodoveo bertanya.


"Ayolah, yang kita bicarakan tentang keuntungan, Lina juga tipe yang aku inginkan, jika aku sudah mendapatkan semuanya, aku akan membuangnya."


"Ya ampun, beberapa orang benar-benar sampah," gumam Dickie.


Mereka berencana untuk menghalalkan segala cara, mereka akan mengambil tindakan ekstrim untuk mendapatkan keuntungan. Dickie punya sesuatu yang lebih cepat untuk menculik Lina Setiawan. Ken Otto tersenyum centil, dia ingin mencoba merebut sesuatu yang menguntungkan, Clodoveo hanya menghela napas, sesuatu yang buruk membuat tipuan yang memalukan.


Sementara yang sedang mereka bicarakan, kini sedang liburan. Agus melihat sesuatu yang menarik untuk tidak dipandang, tubuh seksi Lina Setiawan yang diselimuti Bikini warna putih membuat Agus membungkam mulutnya agar tidak banyak bicara. Agus sangat ingin memanjakan dan menuruti Lina, tapi yang dia lakukan hanyalah pergi berlibur sesuai rencana.


"Kenapa berjemur saja, kamu juga harus berenang." Lina menarik Agus untuk bangun.


"Aku tidak suka berenang," jawab Agus.


"Kamu sangat suka berenang, jangan bohong padaku!"


"Ehem, sekarang aku tidak suka," kata Agus.


Lina mengambil kacamata hitam yang dipakai Agus. "Bangun!"


“Hmm…” Agus menjadi gugup meski sudah melihat dari apa yang dilihatnya sekarang.


Berlibur di Villa— pulau kecil, tempat yang begitu indah selama Agus mengamati hanya ada lautan luas, ia berharap tidak ada tsunami besar yang segera meratakan pulau kecil ini. Agus merasa aneh ketika mereka berdua bersama, dia bertanya-tanya mengapa dia harus menempel pada Lina seperti ini? Sesuatu yang menekan dadanya dengan lembut, Agus terpaksa menundukkan kepalanya agar bisa melihat apa yang harus dilihatnya. Seorang wanita yang tak berani malu, meski sudah bertunangan namun sangat aneh Lina semakin tergila-gila dengan perbuatan yang sebenarnya ada dalam batas-batas tertentu.


"Seperti ada sesuatu yang tegak, tapi bukan keadilan?"


"Cantik-cantik kurang ajar ya?"


"Ha-ha-ha..."


Setelah keluar dari pantai, Agus pergi mandi untuk membersihkan diri, tapi masalahnya tiba-tiba ada yang ikut masuk ke kamar mandi. Agus menutupi wajahnya dengan satu tangan, dari sela-sela jarinya ia bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan Lina saat ini.


"Mengapa kamu masuk?"


"Tidak boleh?" tanya Lina dengan ekspresi pura-pura kecewa.


Mereka membutuhkan waktu hingga satu jam hanya untuk berada di kamar mandi. Agus merasa Lina tidak seperti biasanya, wanita itu jelas memiliki stamina yang tidak normal. Lina mengumumkan bahwa dia merasa jauh lebih baik karena hubungan yang semakin dalam dilakukan.


"Entah kenapa tidak lelah sama sekali," gumam Lina.


"..." Agus berharap liburannya cepat selesai.


Agus melihat aktivitas yang Lina lakukan belakangan ini, Lina terinspirasi dari apa yang Agus lakukan: Meditasi dan Yoga sangat berbeda, Lina lebih memilih apa yang disukai wanita agar tetap bugar.


"Lihat aku bisa melakukan ini?"


"Hati-hati, punggungmu akan sakit..."


"Selama mengikuti metode yang benar dan pemandu yang melatihku semuanya akan aman."


Di pulau pribadi yang menguntungkan saat Agus bermeditasi dia bisa menyerap energi yang cukup banyak dibandingkan di kota. Lina memperhatikan sambil duduk bersila tepat di depan Agus sambil memejamkan mata. Lina merasa sangat aneh meniru Agus dan duduk di dekatnya, sesuatu yang hanya samar-samar bisa dia rasakan.


Sesuatu yang mengganggunya ketika apa yang dia serap tidak stabil seperti sebelumnya. Agus melihat dengan salah satu mata kirinya, energi yang diserapnya seakan terbagi karena diserap oleh tubuh Lina. Dia tidak marah dan melepaskannya, semua yang dia lakukan tidak berbahaya, tidak akan ada banyak energi untuk Lina dapatkan.


"Panas sekali," kata Lina.


"Apakah ada yang aneh?" Agus bertanya.


"Menjadi panas setelah beberapa saat, aku tidak pernah tahu Meditasi akan memiliki efek samping?"


"Hmm, jika saya ikut meditasi, apa yang akan saya dapatkan?"


"Kamu akan lebih sehat."


"Kalau begitu aku akan ikut meditasi setiap hari ... boleh, kan?"


"Boleh saja, jika kamu kuat."


"Ahem, aku kuat ... aku pasti akan kuat bermeditasi."


Selama seminggu Lina bermeditasi, dia menemukan dirinya lebih kuat dalam melakukan aktivitas. Lina merasa tubuhnya lebih ringan agar, Agus sudah bisa melihat Lina mulai mengalirkan Mana di tubuhnya, kekuatannya tidak akan seperti orang normal jika Lina bisa lebih baik dan rutin.


"Aku akan kembali dalam dua hari," jawab Lina saat menerima telepon.


"Kau terlalu seenaknya, kalau aku pulang kau akan mendapatkan hukuman!"


"Ayah, aku sudah sering bilang kalau aku sedang tidak bekerja, aku sudah mengatasinya."


"Omong kosong apa itu, bilang saja kau terlalu gila untuk memanjakan dirinya."


"Yah, seorang lelaki akan bosan kalau wanitanya selalu sibuk kerja, aku tidak mau kalau priaku jadi berpaling."


Perdebatan semakin panjang, Agus mendengar sesuatu yang sangat aneh ketika ayah dan anak saling bertengkar. Agus kaget saat Lina memintanya menikah lebih cepat dari yang disepakati. Lina menutup telepon dengan kesal beberapa detik kemudian.


"Itu benar-benar lucu, kamu sangat ingin menikah."


"Ah?" Lina menoleh karena Agus bicara seperti itu.


"Tunggu sebentar!, coba ulangi lagi?"


"Itu benar-benar lucu, kamu sangat ingin menikah."


Lina kesal. "Apa kamu tidak suka?"


Agus merasa terpojokkan. "Aku suka."


"Kamu tahukan kalau aku tidak begini, ayah akan selalu mengulur waktu pernikahan kita..."


"Sebenarnya menikah itu tidak mudah," kata Agus.


"Pasti akan mudah selama kamu setia padaku," kata Lina dengan malu-malu kucing.


"Cantik-cantik masih labil," kata Agus, ia bangun dari duduknya.


"Aku tidak labil!"


"Akhir-akhir ini sikapmu seperti anak-anak, aku cuma bercanda."


"Begini, aku hanya senang sampai tidak sadar jadi terlalu bersikap aneh, kamu tahu, sikap aku dari dulu seperti ini tapi lama-lama semua jadi berubah..."


"Kalau begitu tetap saja seperti dirimu yang kamu inginkan."


"Sayangku, terima kasih telah memahamiku."


"Betapa lucunya ketika kamu berbicara dengan malu-malu seperti itu."


Lina mengerucutkan bibirnya. "Sayang..."


"Aku jalan-jalan..." Agus buru-buru pergi, dia tahu Lina punya maksud tersembunyi.


"Ah, sepertinya ketahuan," gumam Lina sambil menggigit bibir bawahnya.


Agus menghela napas. "Dia seperti ketagihan ... aku yang kerepotan sekarang."