
Martin Lut target yang akan diburu Agus terlebih dahulu, orang yang awalnya bermasalah dengan Agus. Ia akan menyingkirkan Martin Lut, apalagi Agus bisa menjamin apa yang dilakukannya lancar. Dalam penyelidikan, yang ditemukan Agus adalah keberadaan Limus yang ternyata sudah meninggal. Menurut informasi langsung dari Harit Setiawan, Martin lebih sibuk di rumah pribadi di luar kota. Rumahnya dijaga ketat dan ada CCTV yang akan menjadi masalah jika dia tidak berhati-hati, sementara dia menggunakan kemampuannya yang sangat membantu untuk menyembunyikan keberadaannya. Diam-diam membunuh orang yang terlihat paling ceroboh, tidak semua penjaga sempurna, Agus melihat banyak celah dalam kecepatan tinggi.
"Satu sudah selesai." Agus.
Dia menyergap satu orang yang dia lumpuhkan dengan memutar kepalanya. Jasad satpam, Agus sembunyikan di sebuah ruangan kosong yang di dalamnya terdapat lemari pakaian. Dia benar-benar membunuh tanpa pandang bulu, tidak seperti biasanya yang memiliki belas kasih dan pemaaf, dia tidak ingin mengecewakan seseorang yang sangat dia percayai. Dia melihat ke bawah ke jendela, ada pilihan naik tangga atau lift. Agus lebih memilih sesuatu yang agar tidak mudah diketahui, lift mungkin memiliki kamera pengawas.
"Sayang, aku akan pulang terlambat, aku akan bawakan kesukaanmu." Seorang pria.
"..." Agus diam-diam memperhatikan, dia menunggu sampai orang di tangga itu pergi.
Setelah lelaki itu pergi, Agus menaiki tangga untuk naik lebih jauh, dia bersembunyi ketika melihat ada kamera, ada jalan keluar, dia menempelkan telinganya ke pintu dan ketika tidak ada suara dia membuka pintu. Jalan aman baginya untuk melewati penjaga yang menurutnya cukup mudah karena banyak keunggulan tingkat inderanya dari rata-rata manusia normal. Dia bisa mendengar suara dan langkah kaki seseorang, saat dia akan bersembunyi. Semua yang dilakukan tidak jauh berbeda di kediaman Clodoveo.
"Apakah kamu mendengar bahwa mereka ingin bekerja sama?" Seorang pria.
"Ya, aku mendengar beritanya dan kita akan memanfaatkan kegagalan mereka jika itu terjadi." Pria lain.
"Semoga saja mereka gagal."
Agus penasaran dengan pembicaraan kedua pria itu. Dia menargetkan keduanya dan melupakan satu, dan membuat yang lain tetap terjaga untuk mengumpulkan informasi. Semuanya mengarah pada dua orang, yaitu Clodoveo dan Ken Otto. Jadi Agus punya sesuatu yang harus dia selesaikan setelah semuanya selesai.
"Jadi dia salah satunya." Agus bergumam yang mengarah ke Ken Otto.
Ada cukup banyak penjaga di lantai paling atas. Dia melumpuhkan mereka satu per satu. Agus sudah mengecek tidak ada kamera pengintai dan orang yang merekamnya di ponselnya. Sepuluh orang tidak dapat menahannya, meskipun merekalah yang secara khusus dipilih untuk menjaga Martin Lut tetap aman. Agus bisa mendengar seseorang berbicara di dalam ruangan. Martin Lut masih sibuk di kamar khusus yang tersedia. Agus yang tak mau berlama-lama langsung membuka pintu. Martin Lut terkejut dengan sosok Agus yang berani datang sendiri ke sarang musuh.
"Bagaimana kamu bisa masuk!" Martin.
"Apakah kamu lupa seperti apa kemampuanku?" Agus.
"Sial, kupikir aku akan menghabisimu dalam beberapa hari." Martin.
"Sayangnya takdir punya rencana lain, ya?" Agus.
Orang yang dia duga adalah monster gila yang bisa menerkam seseorang yang pernah menjadi majikannya, Martin Lut tidak menyangka dia akan jatuh seperti ini, jadi dia tahu apa yang akan terjadi pada Nicolas Hadin jika Agus mencarinya. Metode lama dan muak dengan pengulangannya— Martin Lut menodongkan pistol. Martin Lut terkejut sesaat karena satu-satunya yang menunjuk ke arahnya adalah sepatu yang menghantam hidupnya dengan cepat. Hidung Martin Luth berdarah, dia melihat darah menetes di langit. Agus memanfaatkan kebodohan sembrono Martin Lut, Agus melayangkan tinjunya ke wajah Martin Lut.
Pistol yang dipegangnya jauh darinya, Agus mengambil pistol dan menempelkan moncong pistol ke dahi Martin Lut. Agus menanyakan tentang rencana pihak lain yang tidak dijawab oleh Martin Lut, dugaan yang mengejutkan bahwa semuanya terkait dengan Clodoveo dan Ken Otto.
"Bagaimana kau bisa tahu! Martin Lut.
Martin Luth, dengan berbicara seperti orang gila, mengancam jika dia meninggal akan ada orang lain yang akan menjadi ancaman bagi Keluarga Setiawan. Agus tak bergeming, ia tetap menekan kening Martin Lut dengan pistolnya.
"Kamu pikir dengan menghancurkanku kamu akan selamat, kamu tidak tahu banyak yang mengincar Keluarga Setiawan, terutama dirimu sendiri." Martin Luth.
Agus menyelesaikan semuanya dalam satu tembakan, dia menghancurkan semua bukti yang mengarah padanya. Butuh banyak waktu baginya untuk menghilangkan bukti, semua jejak yang dia tinggalkan dari banyak orang dia singkirkan dengan berbagai cara, membakar orang dan bangunan.
"Selanjut Clodoveo, kau yang mulai cari gara-gara denganku." Agus pergi saat semua mulai terbakar.
Tidak butuh waktu lama untuk berita yang benar-benar mengerikan menyebar ke seluruh kota, di berita dan media sosial. Harit Setiawan tidak menyangka Agus akan bertindak se-ekstrim itu, namun dengan cara yang begitu ampuh sangat aneh tidak ada bukti yang mengarah padanya, banyak orang membuat berita miring bahwa semua itu terjadi karena Martin Lut diketahui memiliki banyak musuh, dia berakhir dengan sangat tragis karena perbuatannya sendiri. Marika La Brisa yang serba tahu tak banyak bicara saat bertemu Agus yang menanyakan apa saja yang diketahui Marika.
"Aku sudah mencari informasi bahwa kamu punya koneksi dari mereka semua." Agus.
"Kupikir kamu hanya seseorang yang tahu cara bertarung ... kamu tidak bodoh..." Marika menyesap rokok dan menghembuskan asap dari mulutnya.
Marika La Brisa, wanita malam yang tidak hanya menjual harga dirinya, dia pandai mengatur untuk kepentingan pribadi, dia adalah tipe wanita yang memanfaatkan segalanya demi uang. Percakapan menjadi tegang ketika Marik sakit hati bahwa ternyata banyak orang yang lebih kuat dari orang-orang hebat yang dikenal Agus.
“Nicolas Hadin, Martin Lut, Ken Otto dan Clodoveo bukan satu-satunya yang berbahaya. Ah, kamu kenapa mau buang-buang waktu untuk menyingkirkan orang-orang seperti ini…” Marika La Brisa. "
"Mereka pantas tidak ada di dunia…” Agus menatap tegas.
“Mmm…” Marika merokok, kaki kirinya menopang yang lain.
“Ceritakan tentang yang lain.”
“Apa tidak ada yang lebih tahu dariku? "
"Lebih dari kamu, siapa?"
"Pastinya Ken Otto ..." Marika mematikan rokoknya di asbak.
Orang yang mencoba mendekati Lina memiliki peran yang lebih baik dari Clodoveo, bahkan Agus tidak akan langsung ke intinya. Ken Otto lebih kuat menurut informasi dari Marika La Brisa, Agus mendengarkan semua yang dikatakan wanita seksi itu. Marika yang tidak mau dibayar murah hanya meminta 100 juta atau Agus sendiri sebagai bayarannya.
“Masalah biaya informasi yang sering kau berikan, aku akan bayar kalau semuanya sudah selesai…” Agus bangkit dari duduknya.
"Tech, padahal ada yang lebih mudah, kok lebih milih bayarnya pakai uang ... mengecewakan..." Marika gigit jari sambil melihat ke arah pintu yang baru saja di tutup.