AGUS

AGUS
Mengikuti Arusnya



Seperti ada jarak yang sulit untuk Lina pahami, kekasihnya memang lebih baik dan pengertian namun suatu keanehan jika terasa begitu asing pada saat-saat tertentu. Agus lebih fokus pergi untuk ke suatu tempat setiap malam dan akan kembali esoknya. Lina kadang melihat jelas bekas memar di wajah Agus yang dicoba untuk disembunyikan. Lina Setiawan pun mencoba tidak untuk bertanya, tapi hanya senyum ramah dan beralasan kalau tidak ada apa pun yang terjadi selama Agus sibuk pergi setiap hari.


"Jangan coba untuk membohongi aku, aku tahu kalau kamu sedang melakukan suatu yang tidak seharusnya."


"Aku tidak melakukannya, kamu tidak perlu cemas, hanya pekerjaan yang kujalani sekarang begitu banyak menguras fisikku."


Lina sering mengikuti diam-diam setiap pagi Agus pergi ke taman untuk melakukan olahraga, fisik yang jauh berbeda dan sangat terbalik dengan Agus yang Lina kenal. Lina penasaran dan tertarik dengan perubahan aneh tersebut sampai dimana ia menjadi lebih ingin tahu dan bertanya secara terang-terangan. Agus melihat seketika saat Lina memanggil. Agus menjelaskan kalau ia hanya membentuk otot lengan dan mempersehat dirinya. Waktu malam hari Lina melihat Agus pergi bersama orang dengan mobil berwarna hitam, mobil BMW. Agus pulang dengan keadaan yang tidak jauh berbeda, dan sampai Lina angkat bicara menanyainya.


"Kamu tidak hanya bekerja normal, kan? Kamu jujur saja denganku Sayang." Lina bertanya dengan banyak perasaan tidak nyaman.


Agus pun menceritakan perkejaan yang sedang ia lakukan, ia tidak ingin menutupi lebih jauh dengan semua yang dikatakan, Lina Setiawan terdiam dan melarang Agus untuk melakukan perkejaan yang berbahaya, Lina memiliki cukup uang uang bisa membantu. Agus menolak karena tidak sewajarnya, ia pria yang punya harga diri karenanya ia menolak seperti itu. Lina menyentuh pipi Agus dengan kedua tangan, Lina dengan mata berkaca-kaca memohon Agus untuk berhenti.


"Aku akan berhenti kalau semua urusanku sudah diselesaikan."


"Kapan akan selesai, kamu akan jadi babak-belur jika terus begini."


Lina mencari sebuah solusi untuk Agus, ia ingin Agus berhati dan mencari jalan yang lebih baik untuk menyelesaikan semua hutang yang ia punya jika Agus tidak mau menerima bantuan. Pria yang menjadi lebih baik tapi ada jarak di antara mereka, yang seperti jalan buntu sulit untuk diselesaikan dengan cara yang biasanya Lina gunakan, Agus tidak menerima uang yang diberikan secara percuma. Saat Agus akan pergi, Lina mencegah dengan pelukan yang membimbing untuk tidak pergi. Agus menasehati ia akan pulang esok hari.


"Tolonglah hormati perasaanku, kamu jangan pergi untuk berkelahi."


"Ini jalan yang mudah yang bisa kulakukan," kata Agus.


Agus bertarung sengit dengan pria bertubuh kekar. Nicolas dengan kebanggaan ingin meminta semua kenalannya memberikan taruhan yang lebih layak sampai puluhan juta. Pria yang jauh lebih besar dari Agus, pria tersebut sampai kewalahan dan memutuskan menggunakan cara licik dengan mengunci gerakan Agus. Hantaman keras dari siku Agus membuat pria itu terhuyung ke belakang, ia melepaskan cengkraman. Suara penonton berteriak keras waktu pria besar itu jatuh dalam sekali pukulan yang menghantam wajahnya. Agus mulai menghafal semua serangan dengan tehnik gulat milik lawannya, terlalu lambat dan sudah terbaca semuanya.


"Kuh!" Pria itu menyentuh lantai dengan tangan kirinya.


"Selesai!" Agus melompat, berputar untuk menendang kepala pria itu.


Agus yang sudah mempercayakan dirinya pada Mana yang menyelimuti tubuh, ia jadi harus berusaha lebih keras karena lawan yang ia lawan sejak tadi memiliki fisik yang jauh lebih kuat dari orang normal. Nicolas dengan bangga menepuk-nepuk pundak Agus, Nicolas berjanji akan lepas tangan dan mengakhiri semua hutang yang Agus miliki.


"Kau sudah sampai pertengahan, kau akan menjadi juara dalam tiga besar kalau bisa bertarung seperti ini."


"Bagus kalau begitu," jawab Agus dengan singkat, ia pergi untuk pulang.


"Nic, kau yakin akan melepaskan dia jika jadi juara?"


"Jangan bilang kau menggunakan madu dan cambuk seperti kebiasaan yang kau lakukan."


Ada cara yang bisa Agus ambil, dia sudah merasa kalau energi yang banyak dalam tubuhnya, dia punya cara untuk mengakhiri semua dengan singkat tapi ada alasan yang aneh ia menjadi semakin tertarik bersama keinginan tahuannya. Smartphone berdering dengan pesan yang masuk, semuanya ada 5 pesan yang belum Agus baca. Pesan itu dari Lina yang khawatir agar Agus tetap berhati-hati. Seorang pria setelan jas hitam, ia menjemput Agus untuk diantar pulang. Pria itu melihat Agus dengan tegas dari balik kacamata hitam yang ia kenakan.


"Apakah ada sesuatu?" tanya Agus.


"Kamu sangat hebat dalam berkelahi," kata pria itu.


Sopir itu seperti pengemar dadakan yang begitu banyak bicara untuk bertanya latihan yang Agus gunakan sampai bisa sekuat itu, Agus hanya mengatakan kalau ia hanya bisa olahraga dan berlatih sedikit bela diri. Pria itu pun menyebut Agus menjadi seorang yang jenius jikalau semudah itu menjadi kuat dalam waktu singkat. Sesampainya di rumah, Agus membuka pintu setelah menekan password yang sudah ia hafalan. Agus melihat kalau Lina belum pulang, Agus mempunyai inisiatif untuk memaksakan seadanya yang bisa ia buat untuk makan malam. Agus meletakkan hidangan dia atas meja, ia langsung pergi ke kamar setelah semuanya selesai.


Agus tidak ingin terlalu berlama-lama tapi ia juga tidak ingin pergi dengan alasan kalau Lina sangat senang yang bahagia selama mereka berdua dalam satu atap yang sama. Suara ketukan pintu terdengar samar-samar, Agus pun bangkit dan membuka pintu kamarnya. Lina dengan raut wajah yang sedih melihat Agus, suara yang tidak nyaman terdengar bergetar dari mulut Lina.


"Apakah kamu sangat kesal padaku sampai tidak ingin diam di ruang tamu untuk menungguku?" tanya Lina.


"Maaf, aku terlalu lelah, aku langsung tiduran."


"Sayang, aku sebenarnya punya masalah..."


"Kamu sedang dalam masalah apa, kamu bilang padaku, aku akan membantu kamu."


"Kamu akan membantu aku?"


"Tentu saja."


Lina pun menceritakan kalau dia sedang ada masalah dengan ayahnya. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah karena ayahnya tidak setuju dengan hubungan dirinya bersama Agus. Dalam sebuah ingatan sudah menjelaskan kalau Lina adalah anak perempuan dari seorang yang kaya raya, Lina sampai bisa seperti sekarang karena Agus yang Lina cintai.


"Kamu pasti ingat janji kita, kita akan selalu bersama untuk selamanya," kata Lina.


"Aku masih ingat janji itu aku akan tetap menepati janjiku."


"Syukurlah kalau kamu masih ingat, aku sangat takut kalau kamu sudah lupa dengan janji yang kita buat dulu."


Agus menyentuh kepala Lina, dan membelai rambutnya. "Pasti sangat berat untukmu."