AGUS

AGUS
Maxim Darma



Merasa sangat lelah selama liburan, Agus bernapas lega saat semua yang ia lakukan selesai. Suara seorang wanita memanggilnya, wanita yang tak lain yang pernah Agus tolong— Agnes Meina. Ucapan terima kasih yang ditebus oleh segelas kopi. Agnes Meina yang terlihat culun dengan kacamata yang begitu menonjolkan karakter seorang yang kutu buku.


"Selama kamu kerja, sudah tak ada yang membully kamu?" Agus mendekati Agnes.


"Berkat Anda, saya sudah tidak di bully lagi..." Agnes tersipu malu.


"Sesungguhnya semua ini berkat Lina, aku hanya memberitahukan kepadanya."


Agus pergi setelah cukup banyak bicara, Lina yang ditemui langsung menunjukkan kalau ia sedang lelah, dalam masalah karena harus pergi keluar kota.


"Kamu sering pergi keluar kota, apa mereka tidak punya orang lain untuk pergi?" tanya Agus.


"Karena diharuskan aku yang pergi, ada pembicaraan dengan salah satu investor." Lina mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk tangan.


"Aku kurang mengerti, aku akan ikut denganmu, aku tak mau kamu kesusahan lebih serius." Agus melihat gelagat Lina.


"Sungguh, kamu mau ikut—kyaa, cintamu~" Lina mengerucutkan bibirnya.


"Mulai~mulai lagi~" Agus menoleh ke kanan untuk menghindari Lina.


"Sayangku, aku butuh pemulihan," kata Lina memohon.


"Lama-lama aku jadi Charger Laptop." Agus tersenyum.


Agus memiringkan kepalanya ke kiri, ia membiarkan sesuatu kegiatan yang diinginkan Lina, setelah Lina puas, Agus menghela napas, buka ia tak suka tapi Lina terlihat kecanduan yang sangat parah.


"Sudah tersisi penuh!" Lina terkejut.


"Dasar anak-anak." Agus menghela napas.


"..." Lina cemberut.


Dalam beberapa hari ada kabar yang sangat viral. Wanita yang menjadi topik pembicaraan dengan menjalankan bisnis keluarga, punya segalanya yang diinginkan wanita, walaupun punya calon suami yang dikatakan cuma numpang makan. Agus tak bisa membayangkan bagaimana reaksi para penggemar dadakan yang memuja Lina, jika mereka tahu kalau kelakuan Lina tidak patut dicontoh.


"Kenapa kamu jadi begini sekarang?"


"... Aku hanya terlalu sayang padamu, makanya aku jadi begini..." Lina tersipu.


Agus menyentuh dahi Lina. "Masih waras."


"Aku masih waras, jahat sekali!" Lina kesal.


Dia harus sabar dengan tingkah manja yang seperti ini, sudah jadi kebiasaan yang harus ia maklumi. Agus menyarankan agar Lina mencari orang yang cocok sebagai sekertaris jika ada apa-apa akan menjadi seorang yang membantunya.


"Sepintar-pintarnya kamu tak akan bisa menyelesaikan semuanya." Agus menasehati.


"Apakah ini tanda cemas darimu?" Lina mendekatkan wajahnya.


Agus menyentuh bibir Lina dengan kedua jemarinya. "Sstt, coba bersikap normal sedikit."


Lina menatap dengan memelas. "Jahat..."


"Kalau aku tidak jahat, nanti kamu tidak akan berhenti. " Agus menyentuh pipi Lina dengan dua tangan, sedikit menekan.


"Mmm..." Lina menyingkirkan kedua tangan Agus.


"..." Agus hanya diam saat kedua tangan Lina melingkar di leher.


Agus mengakhiri semuanya dengan cara menjauhkan tanga Lina, wanita itu hanya melihat Agus pergi sampai di depan pintu keluar. Agus mengunci pintu, dia berbalik dan tersenyum, Lina yang tadinya sedih kembali bersikap normal. Sebagai pria normal ia tidak mungkin lebih lama untuk menahannya, mendapatkan godaan dari wanitanya sendiri.


"Aku juga mencintaimu wanitaku yang genit." Agus mendekati dengan langkah yang mantap.


"..." Lina yang awalnya agresif jadi gugup dan memikirkan rencana. "Aku genit juga untuk kamu."


30 menit kemudian...


Agus melihat cermin yang ada di kamar mandi, ia tersenyum dengan tingkah Lina yang semakin gila. Dia membandingkan dengan kehidupan masa lalu, kali ini yang ia anggap paling parah dari semua wanita yang ia kenal semasa hidupnya. Wanita yang menempel seperti perekat, dengan sikap manja yang tidak normal. Lina yang masih memeluknya dari belakang mengutarakan perasaannya yang rumit jika Agus jelaskan untuk dipuji atau disalahkan. Lina punya tujuan sendiri sampai berani dengan sikap yang keterlaluan, toh dengan begini seorang yang ia cintai tak akan pernah berpaling darinya.


"Keadilan yang tegak sangat hebat, ya?"


"Haduh, pasti ayahmu akan kaget kalau tahu kamu parah begini."


Selama Lina sibuk, Agus berbaring di sofa, ia lebih baik pura-pura tidak jika ingin menghindari masalah yang Lina lakukan, Lina yang sesekali melihat, ia tersenyum puas. Lina memijat kakinya sesekali, kakinya cukup gemetar untuk beberapa saat.


Lina mengangkat telepon dari seseorang yang akan ia temui nanti malam, Lina menyebutkan kalau tunangannya juga akan ikut hadir, tidak ada komplain, orang yang di telepon tidak melarang jika Agus akan ikut hadir dalam pertemuan. Agus bisa mendengar semua percaya dalam telepon walaupun jaraknya dan Lina terbilang cukup jauh.


Malam harinya Lina dan Agus menemui Maxim Darma, seorang yang ingin melakukan kerja sama dengan Perusahaan Setiawan. Pria berusia 40 tahun yang terlihat sangat muda dibandingkan usianya, pria itu sangat akrab dengan Lina ketika bicara. Pria itu juga kenal dekat dengan ayahnya Lina. Pria itu melihat Agus dengan tegas, ia kembali melihat Lina dan tersebut padanya.


"Kamu sudah sangat dewasa dan cantik, Lina."


"Anda terlalu menyanjung saya, Tuan Maxim."


"Ayolah, kamu jangan terlalu kaku, panggil saja aku Paman seperti di masa lalu." Maxim Darma membujuk.


"Akan tidak sopan kalau begitu." Lina melihat Agus yang lebih memilih makan.


"Apa kamu serius lebih memilihnya dari dibandingkan putraku?" tanya Maxim.


"..." Lina terdiam.


Maxim menceritakan masa lalu, ketika Lina sangat dekat dengan Jeremy putra dari Maxim. Agus hanya diam tanpa komentar karena ia tidak ingin mengacaukan pertemuan Lina dengan Maxim. Suatu yang sangat menyindir kalau Agus sangat tidak cocok dengan Lina, begitu juga sebaliknya.


"Bukannya dulu kamu pernah suka dengan putraku?"


"Itu hanya gosip, saya tidak pernah suka..."


"Tidak perlu malu-malu." Maxim memegang tangan Lina.


Agus melihat dengan jelas kalau pria itu butuh hantaman di wajahnya. "Mmm ..."


Pupil mata Lina membulat karena baru pertama kalinya melihat Agus yang seperti itu. Lina menjelaskan kalau semua yang dikabarkan di masa lalu tidak benar, ditambah Lina sangat mencintai Agus. Maxim Darma menatap dengan aneh, cukup jelas seperti seorang yang merendahkan, Agus yang melihat tatapan mata itu, Agus merespon dengan sikap yang biasa saja. Seleranya mulai tidak ada untuk melanjutkan makan. Lina pun kembali ke topik pembicaraan dengan bisnis mengenai pembangunan.


Pembicaraan yang semakin rumit, dapat Agus dengarkan dengan sangat baik ia tidak melewatkan semua yang Maxim dan Lina bicarakan. Agus bersikap seramah mungkin selama Maxim banyak bertanya dengan Agus.


"Andai kamu setuju aku bisa lebih memberikan keuntungan untukmu."


"Terima kasih Paman, aku sudah dapat cukup keuntungan dengan kerja sama kita."


"Sangat sayang sekali, coba saja anakku bisa lebih baik untuk memilih kamu saat itu."


"Haha.itu hanya masa lalu Paman..."