
Serangannya yang mematikan, tidak berdampak apa pun, tidak membuatnya tumbang. Agus melesatkan tinju tepat mengenai wajah Max. Pria besar yang terhuyung ke belakang, dan dibalas dengan cara yang sama. Wajah Max terkena hantaman lutut kanan Agus. Noda merah mengalir dari hidup, Max menggelengkan kepalanya untuk bisa tetap sadar karena ia seakan-akan pingsan dalam pertarungan ini. Max mengerakkan tangannya kanannya, Agus menghindar dengan sigap menendang lutut Max. Tangan kiri langsung memeluk perut dengan keras, tapi Max mereka kalau ia seperti tidak memberikan damage pada Agus yang tersenyum.
"Apa-apaan, kau bukan manusia!"
"Apa maksudmu, aku ini manusia normal," jawab Agus, ia melompat-lompat kecil.
Agus berputar dan mengenai sisi kiri dagu Max dengan tumit kaki kirinya.
Max!, Max!, Max!, Max!" Semua pendukung Max tidak menyerah untuk memberikan semangat.
Agus tidak mendapatkan tekanan dari suara mereka yang bergemuruh. Dia maju dan berbalik untuk menendang lurus ke arah perut Max. Clodoveo yang melihat dari balik layar, ia tidak mampu berkata-kata, jika ia harus melawan Agus, akan sangat merugikan dan membahayakan. Marika La Brisa, semakin terpesona dengan yang Agus lakukan. Pria yang begitu kuat adalah selera Marika, wanita itu memasang wajah genitnya.
"Kau membawa orang gila," kata seorang pria.
"Ah, ada yang hangat dari diriku, ahh..." Marika tidak bisa menahan hasratnya.
Marika mendapatkan keuntungan yang banyak dari Agus, Marika pun mengajak Agus pergi. Agus menagih yang Marika La Brisa janjikan. Suatu yang harus disepakati satu lagi adalah bermain satu malam, Agus menolak dan menatap Marika dengan tajam.
"Kamu jahat sekali, Sayangku~."
"Jangan banyak omong, aku sudah sabar dari tadi!"
Mereka berdua kembali ke hotel, Marika memberikan semua yang ingin diketahui Agus. Marika dengan penuh penekanan berbicara, kalau Clodoveo, ada ditempat sebelum dan sayangnya tidak bertemu dengannya, padahal Marika sempat khawatir kalau dia akan menemuinya dan Agus.
"Kau beritahu aku dimana dia tinggal!"
"Tech, kasar sekali," gumam Marika.
Clodoveo adalah Ketua Singa Hitam, Agus mendapatkan alamat dari kelompok tersebut. Agus pergi setelah mendapatkan yang ia cari, Marika dengan kecewa diambang pintu. Suara telepon berdering dari Smartphone milik Marika, ia menerima panggilan yang tak lain dari Clodoveo. Marika La Brisa menceritakan semuanya tapi ia tidak tahu apa yang sengguhnya Agus cari dari Clodoveo.
"Apa kau tahu nomornya?"
"Sayangnya aku tidak punya nomor telepon, aku sudah memberitahu alamat Anda padanya."
"Kalau begitu aku akan menunggu dia, dan mempersiapkan untuk menyingkirkan dia jika dia membahayakan Singa Hitam."
Saat telepon mati, Marika La Brisa tak punya pilihan selain mengikuti rencana selanjutnya.
Saat Agus pulang sudah mendapatkan tatapan tajam dari Lina Setiawan. Foto dari layar Smartphone langsung membungkam mulut Agus yang tidak bisa mencari alasan. Agus dan Marika La Brisa, yang jadi pembicara mereka berdua. Johnson yang mencoba untuk membantu dihalangi oleh Agus.
"Kupikir kau tidak akan selingkuh!"
"Aku tidak selingkuh," jawab Agus.
Agus menjelaskan kalau ia tidak selingkuh, ia mengenal wanita itu hanya kebetulan. Lina meminta Smartphone milik Agus, ia memberikan dan setelah Lina memeriksanya tidak ada nomor kontak selain milik Lina, Harit Setiawan dan Johnson.
"Apa kau tidak punya Smartphone lain?"
"Kamu bisa memeriksanya," kata Agus, ia mengangkat kedua tangan.
Secara diam-diam Lina menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang wanita dalam foto. Agus yang berada di kamar mandi, ia dapat mendengar yang Lina bicara dalam telepon. Lina mendapatkan pesan tentang Marika La Brisa, seorang wanita penghibur yang sulit untuk diselidiki karena wanita itu punya sisi gelap yang berbahaya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Ah—ada telepon!" Lina terkejut.
"Apa kamu masih curiga padaku?"
"Tidak," jawab Lina.
"Jangan bohong, aku tahu kalau kamu curiga, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita lain."
"... Kau tidak bohong?"
"Untuk apa aku bohong?"
"Kamu dulu suka bohong," ucap Lina.
"Aku jadi seperti yang jahat. Aku janji aku tidak akan curiga padamu," kata Lina.
"Aku akan pergi besok, aku akan menyuruh Johnson terus ada disamping kamu."
"Kau mau kemana?!"
"Aku akan bertemu seseorang," jawab Agus.
"Sial, kau janji akan yang menjagaku, kenapa harus Johnson!"
Agus menoleh. "Marah?" Agus tersenyum.
"Aku marah." Lina menatap Agus.
"Marah karena cemburu sebenarnya tidak baik, aku bukan tipe yang akan selingkuh."
"Kamu dulu selalu selingkuh."
"Aku yang sekarang berbeda."
"Sama saja kalau dekat dengan wanita berarti belum berubah."
"Bukannya kita sudah tunangan?"
"Apa gunanya tunangan, orang yang menikah pun masih ada yang selingkuh!"
"Mmh..."
Karena semua tidak sesuai rencana Agus memilih untuk menunda sampai Lina tidak marah lagi, Agus akan meminta Johnson untuk menyelidiki alamat yang sudah ia terima. Banyak informasi yang ingin Agus ketahui karena dunia ini memiliki sisi yang lebih buruk dari yang ia kira, tindakan kejahatan begitu parah dan ditutupi sangat rapat menjadi lingkungan bawah tanah. Agus menyuruh orang lain yang dipercaya mampu untuk menjalankan tugas, orang itu yang diberikan oleh Harit Setiawan. Pemuda bernama Dusten, yang punya banyak cara untuk mencari informasi dan banyak orang-orang yang ikut dengan untuk menjalankan tugas rahasia.
"Aku ingin menugaskan kau untuk mencari informasi selain Clodoveo."
"Kalau lebih dari Clodoveo, akan sangat berbahaya Tuan."
"Apa bahayanya?"
"Begini, Clodoveo sendiri yang paling mudah, untuk yang lain akan bahaya, mereka bisa melakukan banyak cara untuk menyingkirkan orang-orang yang akan ingin tahu tentang kehadiran mereka."
"Kalau begini, orang seperti itu harus disingkirkan," gumam Agus.
"Maksud Anda?"
"Bayangkan saja kalau orang macam mereka terlalu banyak?"
"Saya paham yang Anda maksud, tapi Anda juga pikiran dengan risiko yang akan kita hadapi, Tuan Harit Setiawan sendiri tidak ingin ikut campur dengan urusan orang-orang seperti mereka."
"Apa kau tidak mau?"
"Maaf..."
"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya lagi." Agus menyuruh Dusten pergi.
Harit Setiawan menanyakan semuanya dari Dusten. Harit tidak ingin keluarganya akan tertimpa masalah dengan tindakan tak masuk akal Agus. Sementara itu Lina yang tak tahu apa-apa mencoba mengetahui rahasia Agus, tetapi ia seperti menemukan jalan buntu saat bertanya pada Johnson dan Dusten.
"Ayah, aku ingin bicara!"
"Hmm, bukannya kau sekarang sedang bicara?"
"Mmm, mulai lagi bercandanya... Ayah, aku ingin mempercepat resepsi pernikahanku."
"Hah, kamu ingin cepat resepsi pernikahan?" Harit Setiawan tak percaya dengan permintaan putrinya yang menggebu-gebu.
"Tahun depan itu terlalu lama, aku tidak bisa menahannya!"
"Aih, kamu memalukan sekali, kamu seorang wanita, kenapa bicara seperti itu," kata Harit Setiawan, ia melangkah pergi.