
Agus memberitahu Martin Lut, dengan semua yang di tulis lewat pesan WA. Lina bertanya dengan keputusan Agus yang berbahaya, karena sudah jelas kalau Harit tidak menyukai Agus. Keyakinan dari Agus menggugah perasaan Lina yang mencoba untuk memahaminya. Suara yang merdu menyampaikan rasa rindu dan penjelasan masalah perjodohan yang tidak ia setujui.
"Kamu tidak perlu khawatir, Lina. Aku tahu kamu tidak menyukai keinginan ayahmu."
"Syukurlah kalau kamu percaya, aku takut kalau percaya dengan semua yang ayah katakan." Lina menyentuh pipi Agus dengan kedua tangan. "Kenapa kamu sangat nekad?"
"Bagaimana ya, aku sebenarnya aku ingin lebih mengenal keluargamu," kata Agus, ia beralasan.
Harit Setiawan memanggil Lina untuk bicara secara pribadi. Lina tidak setuju dengan perkataan ayahnya yang menilai Agus lebih baik jadi orang yang bermanfaat untuk Keluarga Setiawan. Masalah yang sebenarnya yang sulit diatasi adalah sebuah ancaman dari banyak pihak, Agus yang bisa beladiri yang luar biasa dapat membantu Keluarga Setiawan.
"Itu sama saja kalau ayah memanfaatkan dia!"
"Aku bisa saja menyetujuinya sebagai pendamping kamu, jika dia bisa jadi manfaat kita."
"Ayah! Aku tidak setuju!"
"Lina! Kamu jangan keras kepala, coba pikir apa gunanya pria miskin seperti dia!"
"Sangat berbahaya untuknya ayah, aku tidak mau dia jadi dalam bahaya gara-gara aku," kata Lina.
Agus yang bermeditasi bisa mendengarnya, ia mengumpulkan semua energi Mana yang mengelilingi tubuhnya. Agus belum dapat informasi selain percakapan ayah dan putrinya. Dia harus dapat kepercayaan dari Harit Setiawan untuk bisa memastikan semuanya. Harit memanggil Agus untuk bicara berdua, selam pembicaraan Agus mendengarkan secara rinci apa saja yang akan ia lakukan.
"Kalau kau ingin menjadi orang yang mampu melindungi keluarga, dan Lina. Aku hanya mau bilang kau harus punya nilai, kata Harit.
"Nilai seperti apa yang Anda inginkan, saya akan berusaha memenuhi nilai yang Anda inginkan."
"Bagus kalau begitu, kamu akan ikut aku pergi ke suatu tempat."
"Baiklah, saya akan ikut."
Agus ikut bersama Harit, Lina mencoba mencegah tetap Harit menyuruh Lina untuk melakukan kegiatannya sendiri. Agus pun menjalankan semua yang diinginkan Harit Setiawan. Suatu tempat di bangunan yang kosong ada orang-orang yang sudah terikat, mereka adalah mata-mata dari pihak lain.
"Apa kau sudah pernah membunuh sebelumnya?"
"Aku belum pernah," jawab Agus.
Lima orang yang terikat itu memohon pengampunan, Agus menatap mereka dengan tajam setelah membaca semua laporan tentang ke-lima mata-mata tersebut. Harit Setiawan menyebutkan kalau mereka ada hubungannya dengan Nicolas Hadin, Agus terdiam sesaat, ia berpikir pasti semua terhubung dengan Martin Lut.
"Aku ingin lihat tekadmu untuk putriku," katanya.
Tantangan atau ancaman, Agus tidak mempedulikan, ia sudah tahu sebagian dari pekerjaan Harit Setiawan sudah menjadi kunci dari sebuah pintu yang ingin Agus tahu di dalamnya. Harit menekankan kalau ia hanya mau sosok yang bisa bermanfaat untuk keluarga. Dan yang lebih penting bisa sangat membantu dirinya di masa depan.
"Pasti kau sangat membenciku karena membunuh dengan mudah untuk sesama manusia ini seperti tindakan tercela. Ingatlah, jika kita terlalu naif akan menghancurkan semua yang harus lindungi," kata Harit Setiawan.
"Seharusnya Anda teliti terlebih dahulu, mereka bisa saja tidak berbahaya, mereka hanya melakukan semua itu karena terpaksa."
"Mmh, kau hebat dan tidak punya keraguan, tapi cara pikirmu sangat buruk."
"Kenapa kau terlihat muram?"
"Anda tidak harus mengusir mereka."
Harit Setiawan menghela napas dengan semua yang Agus katakan, Agus tidak setuju dengan orang-orang yang sesungguhnya tidak perlu pindah karena sebuah pembangunan yang akan Harit Setiawan lakukan. Pesan masuk dari Martin Lut menjelaskan kalau masalah itu akan sangat merugikan banyak orang, Agus diminta untuk bisa menyelesaikan, dengan cara menyingkirkan Harit Setiawan.
Agus masih meminta waktu untuk melakukannya, ia masih ragu. Lina Setiawan yang akan menderita jika Agus membunuh Harit Setiawan. Dia tidak ingin bodoh dengan semua yang akan ia lakukan, selain masalah Harit Setiawan, Agus ingin memastikan Nicolas Hadin dan Martin Lut lebih jauh lagi. Banyak pengalaman dan cerita untuk dunia yang keras. Harit Setiawan membicarakan masa lalu yang pahit dengan tangan yang kotor dengan noda merah. Waktu mudanya Harit Setiawan adalah orang yang begitu menderita, ia bisa berada dipuncak dengan cara yang tidak baik, ia mengakuinya dengan jujur selama berbicara dengan Agus.
"Akan sangat lucu kalau kau tidak punya keinginan menjadi orang yang paling berkuasa," katanya.
Banyak tugas yang akan Agus lakukan, dia membaca semua yang Harit berikan. Selama satu hari Agus pergi untuk bertemu Martin Lut. Agus tidak memberitahu yang terjadi lebih lanjut, ia hanya menekankan kalau pembunuhan dan pengusiran yang sebelumnya yang Agus berikan.
"Sepertinya aku harus berhenti," kata Agus.
"Apa maksudmu berhenti?!"
"Aku tidak mungkin bisa membunuhnya."
Martin Lut memukul meja. "Jangan bercanda padaku, kau tahu apa yang akan terjadi dengan kekasihmu!"
"Untuknya, aku yakin kalau dia akan aman saja, aku berterima kasih dengan ini aku tahu kebenarannya," kata Agus.
"Sialan, kau berubah pikiran karena suatu yang sepele."
Uang tidak bisa merubah yang Agus inginkan, Agus yang dipandang mudah untuk diatasi karena naif tiba-tiba menjadi sulit dan berpihak pada lawan yang harus Martin Lut singkirkan. Agus mengatakan dengan singkat kalau Martin Lut tidak berpihak dalam kebenaran, karena orang yang berpihak dalam suatu kebenaran tidak akan menyuruh seseorang membunuh dengan mudah.
"Dia juga membunuh seseorang begitu mudah, kenapa kau lebih membela dia."
"Kurasa karena kamu lebih buruk," kata Agus yang terdengar tidak masuk akal.
"Kupikir aku bisa mengatasinya sendiri."
"Hei, apa kau lupa kontrak kita?"
Agus menatap tajam. "Apa kau mau cari masalah denganku?"
"Hahaha, lucu sekali!"
Dua orang menghalangi Agus, mereka langsung tumbang dengan beberapa gerakan yang singkat. Martin Lut yang kesal menyumpahi dengan ancamannya yang akan membunuhnya. Agus tidak peduli, ia ingin bergerak tanpa ikatan dari seseorang yang tidak perlu, ada suatu yang menyulitkan jika ia tetap dengan Martin Lut.
"Untuk sementara aku harus fokus dengan Harit Setiawan," gumam Agus.
Harit Setiawan mendapatkan informasi dari anak buah yang ia percaya, semua tentang Agus yang menjadi bawahan Martin Lut. Suatu yang sangat mengejutkan kalau Agus langsung berubah pikiran untuk membelanya daripada terus bersama Martin Lut.
"Kau awasi saja dia terus," kata Harit Setiawan pada bawahannya.