AGUS

AGUS
Pekerjaan Yang Agus Lakukan



Lina lebih menempel padanya, tingkah yang terlalu manja dan menjadi-jadi seiring waktu. Seminggu berlalu dengan kejadian itu walau bukan yang pertama, Agus merasa seperti sangat berbeda, ia rasa sikapnya semakin tidak baik jika terus berlanjut, tubuh yang ia miliki sekarang juga punya nafsu yang begitu besar. Lina berpamitan karena ada yang harus ia kerjakan di luar kota. Agus pun dengan lembut melambaikan tangan, ia berjanji tidak akan lengah dengan yang dirinya lakukan. Nicolas datang dengan sikap angkuh ia masih sempat mengancam yang jadi target adalah Lina Setiawan.


"Ingatlah kalau kau juara satu akan terbebas dari hutang, dan aku."


"Aku paham, tidak perlu kau ingatkan lagi."


Martin Lut semakin tertarik ia mulai menyelidiki mengenai Agus yang punya hutang dengan Nicolas, pembicaraan Agus dan Martin secara pribadi akan memberikan uang sebanyak 80 juta dengan sarat agar Agus bisa menjadi bawahan Martin Lut. Agus pun berpikir dan menerima tawaran tersebut. Dia tidak usah bekerja keras menjadi sang juara cukup sebagai pengawal dari Martin Lut. Nicolas berusaha untuk menolak yang yang Martin berikan tapi dengan desakan yang cukup kuat sampai Nicolas terdiam saat terpojok oleh kata-kata Martin Lut.


"Kau tidak harus buat masalah denganku, aku tertarik dengan anak ini jika kau mempersulit dia berarti kau juga mempersulit aku."


Nicolas memukul meja saat Agus pergi, Nicolas tidak punya pilihan selain menyerahkan Agus kepada orang besar seperti Martin Lut. Tidak sampai di situ, selama Agus bekerja juga akan mendapatkan gajih sebesar 5 juta setiap bulan, untuk sebelumnya adalah nilai uang kesepakatan untuk tetap berada dalam Martin Lut.


"Sekarang kamu bebas, tidak perlu khawatir dengan ancamannya, aku bisa memastikan orang terdekat kamu akan tetap aman," kata Martin.


"Terima kasih karena Anda mau membantuku, aku hanya bisa melakukan dengan kemampuan yang aku punya untuk Anda."


"Kalau begitu kita langsung pada intinya, apakah kamu sudah terbiasa dalam membunuh seseorang?"


Membunuh seseorang suatu yang berbeda, Martin Lut tertawa saat Agus cemas dengan target yang harus menjadi incarannya. Martin menegaskan kalau orang-orang yang menjadi target, mereka adalah orang yang melakukan tindakan jahat yang sulit untuk dimusnahkan, Martin ingin menghilangkan orang yang seperti itu, ia butuh orang yang punya bakat dalam menyingkirkan para orang jahat. Yang paling sulit adalah orang yang punya jabatan tinggi, mereka punya orang kuat yang sebagai penjaga mereka. Agus pun pulang dan istirahat, dia tergeletak untuk menyamankan dirinya, ia melihat layar Smartphone, ada beberapa panggilan dan pesan dari Lina.


"Halo Sayang, kamu sangat sulit aku hubungin, apa kamu sedang dalam masalah?"


"Tidak. Aku hanya sibuk dan sekarang aku punya pekerjaan baru."


"Sungguh, kamu mendapatkan perkejaan seperti apa?"


"Hanya sebagai pengawal seseorang."


"Masih tidak jauh dari perkejaan sebelum, masih membahayakan dirimu..."


Lina menceritakan kalau perkejaan yang ia lakukan sangat sibuk, ia akan pulang dalam satu Minggu. Agus mendengar semua cerita Lina dengan banyak keluhan, Lina mengatakan kerinduan dengan maksud yang mendebarkan, Agus hanya tersenyum sambil mendengarkan semuanya.


"Kamu istirahat saja, sudah malam," kata Agus.


"Besok kita kan teleponan lagi jam yang sama, ya?"


"Kalau ada waktu aku akan menghubungi kamu."


"Baiklah kalau begitu..."


Lawan yang menjadi tes adalah orang yang terlatih, ia bisa menggunakan berbagai macam seni beladiri, Agus memahami semua cara yang pria usia 30-an tahun itu. Mengambil tindakan cepat dengan menyerang titik buta lawannya, Agus berhasil menumbangkan musuh dalam sekali serangan dalam beberapa kali. Suara decak kagum dari banyak orang, banyak yang setuju kalau Agus akan bergabung dalam tim. Agus meminta informasi tentang targetnya, ia ingin tahu seberapa buruk yang akan menjadi targetnya.


"Dia orang yang buruk dalam memperkerjakan anak di bawah umur."


"Aku ingin menyelediki lebih lanjut," kata Agus.


Limus yang akan membantu Agus mengusut secara langsung, Martin Lut tidak tersinggung dengan kepercayaan dari Agus yang ingin menindak. Dia dan Limus pun menyamar sebagai orang yang ingin mencari relasi untuk bekerja sama, dari situ Agus banyak berpikir bahwa orang yang diincar itu benar-benar jahat. Orang yang bertindak sebagai bos, dia dijaga ketat. Agus dan Limus menyusun rencana agar mereka berhasil dan membebaskan anak muda dari cengkeraman orang ini. Ketika ada kesempatan, orang tersebut jauh dari pengawasan, Agus langsung menghabiskannya di tempat dan membebaskan para tawanan yang dijadikan pekerja seperti budak.


"Aku akan membereskan sisanya, kau langsung pergi menemui Tuan," kata Limus pada Agus.


Tidak ada penyesalan darinya karena terbukti orang itu adalah orang jahat, perasaan tidak menunjukkan bahwa dia salah dan di kehidupan sebelumnya dia telah banyak membunuh meskipun mereka adalah monster. Dengan penuh kekaguman, Martin Lut sangat senang dengan hal ini. Dia tahu seberapa serius dan seberapa besar potensi Agus dalam pekerjaan ini. Kata-kata Martin menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan hanyalah permulaan dengan langkah mudah ada banyak hal yang lebih sulit dan orang biasa tidak dapat melakukannya tanpa bakat alami mereka untuk membunuh. Limus datang dengan berita bahwa semuanya telah diselesaikan dan tidak akan ada yang tahu tentang pembunuhan itu.


Perkataan Martin Lut tersebut menyatakan bahwa jika Agus tidak dapat memiliki pekerjaan yang normal, Agus menyadari betapa rendahnya pendidikannya, tidak akan mampu membangun bisnis yang menjanjikan harga yang layak, ia akan sukses dengan cara yang biasa, akan begitu penuh kesulitan yang sudah bisa dia bayangkan. Limus menyarankan agar Martin Lut memperbolehkan Agus untuk mengikuti pelatihan tersebut karena tidak hanya bertarung seperti preman yang harus dilawan, Agus juga harus bisa menggunakan senjata seperti senapan dan pistol. Berbeda dengan wajib militer, Agus hanya perlu belajar dari orang-orang yang sangat ahli.


Agus mulai berlatih dengan bimbingan Limus dan para senior, banyak cara membunuh secara langsung maupun tidak langsung, bahkan dengan cara yang licik, seperti menuangkan racun. Semakin Agus belajar, semakin dia tahu orang seperti apa yang menjadi kaki tangan Martin Lut. Agus memutar otak untuk tidak menyangka bahwa Martin Lut adalah orang yang benar-benar mencari tujuan untuk memberantas kejahatan seperti yang dikatakannya. Limus sering mengajak Agus berbicara dan memberi nasehat jika yang dilakukannya tidak cocok untuk Agus. Agus mengerti bahwa semua yang dia katakan tidak salah tapi ini yang bisa dia lakukan. Pikiran Agus tak jauh dari pasrah dan menerima apa adanya.