
Lina memejamkan mata, ia memeluk dengan nyaman, semua kesedihan dan rindu telah lenyap saat ia memeluk Agus. Wanita harus menjaga harga diri, harus tetap sopan dan tidak berlebihan: Lina tak ingin meneruskan sesuatu yang sangat normal jika ia bisa melepaskan kerinduannya.
"Bukannya kamu harus melakukannya pekerjaanmu?" Agus melonggarkan pelukannya.
"Jangan berhenti..."
"Setiap bersamaku, kamu jadi kekanakan," kata Agus.
"Apa kamu tidak kangen denganku?"
"Aku kangen," jawab Agus.
"Sangat tidak meyakinkan, kamu memeluk saja tidak seperti sedang kangen?"
"Harus bagaimana?"
"Ayolah, lebih agresif..."
Agus mengerutkan keningnya. "Astaga..."
"Kamu kenapa tidak bertindak?"
Agus mengetuk dahinya Lina. "Aneh..."
"Aneh, kenapa aneh?"
"Lina, aku akan berada di sini tidak lama."
"Sayang, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Lina berekspresi sedih.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Lina merasa kalau Agus menjaga jarak dan tidak ada kesan rindu, bahkan buru-buru selalu ingin mengakhiri telepon saat ia menelpon. Agus menegaskan kalau ia sibuk, akan sangat aneh jika terlalu fokus dalam masalah pribadi saat sedang bekerja. Lina sangat khawatir sampai berlebihan, karena ayahnya mungkin akan membuat Agus dalam masa-masa sulit yang begitu mengacu pada suatu yang berbahaya.
Lina menjauhkan diri. "Kamu harusnya tahu kalau aku sangat sedih kalau kamu seperti itu..."
"Manja ada batasan, kamu tahu kalau kita punya hubungan yang terikat pertunangan..."
"Mmm, tapi namanya juga khawatir..."
Lina meremas lengan kirinya, ia hanya mendengarkan semua yang dikatakan Agus, Lina merasa kalau ia terlalu banyak disalahkan padahal ia tidak berbuat salah karena ia sangat khawatir. Agus duduk untuk mencairkan suasana, Lina meminta seseorang untuk membuatkan kopi. Agus punya yang harus ia selesaikan, pikiran kembali terbayang Yuna Starly yang segera ia hilangkan. Tidak lama kemudian Lina menerima kopi yang ia pesan, ia pergi ke arah Agus yang kini memilih untuk berbaring di sofa.
"Minumlah dulu," kata Lina.
"Nanti saja," jawab Agus, lengannya menutupi wajahnya.
"Apa kamu marah padaku?"
"Tidak..."
"Aku terlalu cerewet ya tadi?"
"Tidak, aku ingin tidur dulu."
Lina merasa ada yang tidak beres, sangat berbeda dari sikap Agus yang biasanya. Lina tersenyum dan mencoba memahami keinginan Agus yang tak ingin diganggu, Lina melanjutkan pekerjaan yang harus ia selesaikan. Lina melihat jam sudah berlalu sampai dua jam, Agus yang baru saja bangun hanya melihat ke arahnya, dan pergi ke kamar mandi. Suatu yang tidak nyaman, ia diabaikan, Agus kembali tidur di sofa. Lina tidak masalah walaupun Agus terlihat sangat pemalas, ia sudah terbiasa melihat Agus seperti itu di masa lalu.
"Mungkinkah, ia akan seperti dulu, aku akan sulit meyakinkan ayah jika itu benar terjadi," gumam Lina, ia tersenyum.
Banyak yang menganggap pilihan yang ia pilih sangat bodoh dan tidak masuk akal, tapi ia sudah terjebak dengan suatu mengenai perasaannya. Pria yang sedang sibuk untuk tidur itu adalah sosok yang membuatnya buta akan namanya cinta. Lina mengangkat kedua tangan. Saat waktu senggang ia menghampiri Agus, Lina menyingkirkan tangan Agus yang menutupi wajahnya.
"Dia pasti sangat kelelahan, tidak mungkin dia mengabaikan aku..." Lina menyentuh wajah Agus.
Dia khawatir dengan kesulitan yang Agus alami, ia akan menyerang dengan usahanya, mungkin dalam hari-hari yang telah dilalui bisa saja Agus memilih untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.
"..." Agus terbangun.
"..." Lina menjauhkan tangannya.
Dengan tanpa ragu Lina menanyakan banyak hal yang mungkin membebani Agus, Lina tetap berbicara walaupun Agus hanya diam sambil menatapnya. Suara yang lemah lembut berubah menjadi suara yang sedih. Agus mulai tersenyum dan menyentuh pipi kanan Lina. Suatu yang membingungkan, kekhawatiran yang ia rasakan sirna begitu saja.
"..." Lina hanya diam membisu, ia mulai memikirkan yang Agus katakan.
"Kurasa aku kelewat batas, kamu jadi terlihat sangat sedih?"
Lina memukul pundak Agus. "Jahat!"
"Hahaha, ayolah begitu saja mau nangis."
"Bodoh, yang kamu lakukan parah sekali!"
"Ya ampun, dia marah," kata Agus yang langsung pura-pura tidur.
Saat pulang waktu malam hari, Lina tidak henti-hentinya marah-marah pada Agus yang meminta maaf. Suatu tempat yang bukan rumah, sebuah tempat yang asing. Agus mengingat kalau tempat ini adalah yang pernah jadi kenangan antara Lina dan Agus—, pemilik tubuh aslinya. Dari sini Agus jadi merasa bersalah, ia tetap bungkam mengikuti Lina. pantai di dekat jalan yang sunyi, langit yang gelap bersama bintang di langit. Agus melihat ke atas, ia jadi memikirkan banyak hal yang sulit ia lupakan.
"Aku jadi ingat tempat ini, apakah kamu ingat yang pernah kita lakukan?"
"Apa ada hubungannya dengan yang mencium mendadak?" tanya Agus.
"Mmm..." Lina merona merah.
Lina melihat ada beberapa pasangan kekasih di tempat yang dulunya menjadi tempat yang sunyi. Agus bisa mendengar helaan napas yang penuh kekecewaan dari Lina. Wanita yang ia lihat selalu saja membuatnya bingung, karena cinta sampai mengabaikan status. Dia bisa memilih jika ia mau, ia tidak kurang apa pun dalam hidupnya. Agus berjalan sampai berdiri tepat dekat di belakang Lina.
"Apa kau tidak malu pacaran di tempat sepi seperti ini?" Agus memeluknya dari belakang.
"Mmm, untuk apa malu?"
"Benar juga karena kamu cantik-cantik tidak punya malu."
"Kasar sekali!"
"Hahaha, dia marah."
"Kenapa mereka ke sana?" Lina penasaran.
"Mungkin mereka mau enak-enak," kata Agus.
Lina tidak ingin melanjutkannya. "..."
Agus meminta lebih baik untuk segera pulang, tidak nyaman untuk di tempat yang ada beberapa orang yang melihatnya. Lina mengikuti, mereka pergi ke mobil. Lina tidak menyalakan mobilnya, ia hanya melihat Agus seperti menunggu sesuatu. Agus mengerutkan keningnya. Wanita yang terus saja menatap seperti meminta sesuatu darinya.
"Kurasa cuma kamu wanita yang aneh di dunia ini..."
"Hah?!" Lina yang tadinya ingin suatu yang romantis, ia berubah menjadi kesal.
"Aku tahu yang kamu pikirkan tidak jauh dari yang orang tadi lakukan, Sayang, kamu tidak perlu terkejut begitu."
"Jadi tidak mood lagi," gumam Lina.
"Apa kamu sangat ingin melakukannya?"
"Tidak." Lina cemberut.
Lina Marasa aneh dengan Agus yang seperti punya hasrat layaknya pria normal, ia menatap dengan curiga sampai jarak wajahnya cukup dekat. Agus tersenyum dan melihat yang dilakukan Lina sangat tak masuk akal dan sangat berani.
"Kamu masih normal, kan?"
"Sayang sekali, aku sudah tidak normal lagi," kata Agus.
"Pantas saja selalu lemah waktu melakukannya."
Agus yang kini jadi kesal. "Aku hanya tidak ingin kalau kamu terlalu berlebihan."
Lina menekan pipi kiri Agus dengan jari telunjuk. "Apa kamu bosan denganku, dan jadi suka dengan pria, Sayang?"
Agus menangkap tangan Lina, dan menggigit pelan jarinya.