
Sebulan kemudian yang di nanti telah tiba, sebuah pernikahan yang mewah dari Keluarga Setiawan. Momen ini yang paling membahagiakan untuk Agus dan Lina. Harit Setiawan tak banyak komentar selain merestui pernikahan mereka berdua. Agus masih ingat di mana ia dalam masa lalu, pernikahan ini tidak bisa ia samakan dengan dirinya dengan Tiara, sengat berbeda jauh. Agus menikmati semua kehidupan yang diberikan, ia masih dalam gaya yang suka bersantai tapi dibalik semua itu ia berperan penting waktu ada masalah dalam keluarga Setiawan.
"Sesuai janjiku pada ayah, aku tak akan ikut campur dalam bisnis keluarga."
"Aku menghargai janjimu." Harit Setiawan.
Dalam waktu seminggu setelah pernikahan, Agus mendapatkan kabar dari Lina. Wanita yang hamil dalam dan usia kandungan sudah seminggu. Agus menetapkan kalau ini adalah berkah yang dijanjikan. Anak laki-laki yang menjadi anak pertama, Agus memberikan nama Arya Setiawan untuk anak laki-lakinya. Lina bahagia karena selain ia punya suami yang baik juga sangat menyayangi anaknya walaupun masih balita. Pria yang selalu ada yang mendapatkan gosip miring karena tak tahu apa yang ia perbuat dalam keluarga selain membuat bisnis kecil yang tak seharusnya dilakukan oleh menantu laki-laki.
"Mmm..." Lina terbangun di tengah malam, karena tangisan bayi.
"Seperti Arya perlu ganti popok."
"Aku akan menggantinya."
Lina merasa bersalah karena banyak yang Agus lakukan, perkejaan yang bisa dikatakan terbalik. Lina merasa tak ada bakat sebagai ibu yang harus lebih banyak waktu untuk anaknya. Suatu hari waktu siang hari, Lina mendapatkan kejutan suatu sarapan yang Agus buat sendiri. Pria itu punya bakat masak yang tak dimiliki Lina.
"Nasi goreng yang sangat enak, kenapa baru sekarang kamu buatkan untuk aku?"
"Sebelumnya aku tak punya banyak waktu luang." Agus tersenyum.
Kadang-kadang Agus masih sempat menemui Marika La Brisa, wanita itu hanya menjawab singkat kalau semuanya masih dalam kendali. Agus merasa lega kalau semua sudah terhenti sampai di sini.
"Aku sama sekali tak punya kesempatan, saat aku tahu kalau kamu menikah, hah," kata Marika.
"Hemm, tandanya tak berjodoh," jawab Agus dengan santai.
Jika ada waktu luang Agus pergi keluar, ia menggunakan helm dan jas hitam. Agus punya suatu hobi yang tak jauh dari perkelahian, ia jadi satu sosok yang sangat misterius. Agus melakukan aktivitas seperti itu karena menurut giliran suatu kelompok preman dan penjahat yang meresahkan untuk ia basmi. Tidak kriminal mulai berkurang sejak Agus memulai aksinya selama setengah bulan.
"Sihir yang Dewi berikan sangat membantu orang-orang yang kesusahan," gumam Agus membaca koran di sebrang jalan.
Putranya bernama Arya Setiawan mulai tumbuh dengan usianya yang masih 5 tahun sudah terbilang pandai, ia lancar dalam bicara dan suka bermain. Agus melihat ini suatu bakat yang mungkin diperoleh darinya dan istrinya. Arya punya cita-cita ingin menjadi pemain sepakbola, Agus terkejut karena ia tak pernah punya hubungan dengan sepakbola.
"Ayah suka main bola?"
"Tidak," jawab Agus.
Saat Lina pulang kerja, ia langsung di peluk oleh anaknya, yang menceritakan ia ingin jadi pemain bola profesional. Agus yang tak tahu menahu soal sepakbola secara keseluruhan, ia hanya pernah menonton tanpa praktek untuk bermain sepakbola.
"Itu olahraga yang sangat berbahaya, Sayang."
"Berbahaya..." Arya melihat ibunya, dan menoleh ke ayahnya.
Agus hanya menyarankan untuk mengikuti yang Arya mau. Lina pun mengikuti semua yang Agus katakan, suatu yang menegaskan kalau keinginan seorang anak kecil akan cita-cita mereka sangat penting. Suatu yang tak nyaman untuk menentukan suatu yang sangat cocok bagi putranya, Lina tak ingin kalau Arya sampai terluka karena menjadi pemain sepakbola.
"Dengarkan Mama, sepakbola tidak cocok denganmu, Nak."
Arya berekspresi sedih "..."
Agus menilai kalau keduanya sangat mirip mereka sangat punya sifat yang sama jika tidak dituruti keinginannya, mereka pasti akan berekspresi sedih. Arya pergi setelah mengutarakan yang ia inginkan, Agus hanya diam sambil tersenyum selama melihat Lina yang sadar kalau yang ia lakukan suatu kesalahan fatal.
"Kenapa kau malah seperti itu, dia masih kecil..."
"Sudah terlanjur, aku saja yang akan menemuinya, dia anak yang pintar, pasti akan baikkan setelah aku bicara padanya."
"Sayang, aku ikut ya?"
"Mmm ..." Agus tersenyum.
Saat di kamar Arya, Agus memberitahukan kalau Lina setuju dengan yang Arya inginkan. Bocah usia 5 tahun itu langsung senang dan memeluk Agus. Lina merasa tersisihkan karena tak mendapatkan pelukan dari anaknya.
"Peluk Mama," kata Agus.
Arya melihat berapa detik, dan merentangkan tangannya untuk memeluk Lina. "Mama..."
"Imutnya~" Lina memeluk Arya.
Saat mereka tidur bertiga di satu tempat tidur. Agus memimpikan suatu yang tak asing, wanita dengan rambut putih, kulit gelap, telinga runcing dan warna emerald hijau melingkar pupil matanya. Wanita itu hanya tersenyum bahagia di tengah ekspresi yang sedih. Tidak ada yang Agus katakan selain melangkah kaki perlahan sampai dekat dengan wanita tersebut, Agus sangat ingat betul siapa wanita yang ia lihat sekarang.
"Lulu..."
"Agus..."
Yang Agus rasakan sebuah perasaan yang sulit untuk dijelaskan, debaran yang begitu kencang, karena Lulu sendiri adalah suatu yang paling berbeda dan wanita yang punya ketulusan yang begitu dalam pada dirinya sejak datang ke dunia lain. Agus meminta maaf karena ia mengkhianati Lulu, Agus sudah menikah dua kali, kehidupan sebelumnya bersama dengan Tiara dan sekarang dengan Lina. Senyuman Lulu menunjukkan ia tidak masalah, ia senang karena dalam hidup Agus bisa menemukan tiga kebahagiaan sekaligus. Lulu sangat bersyukur semua ini bisa terjadi, dengan pertemuan, dan semua yang Agus lakukan dalam dua kehidupan, ada rasa cemburu karena mereka lebih banyak mendapatkan kebahagiaan dari banyak hal suatu keluarga yang tak dimiliki Lulu, selain waktu bersama Agus.
"Aku sangat cemburu pada wanita yang kamu nikahi di dunia ini," kata Lulu.
"Apa yang kamu cemburukan?" Agus tersenyum.
"Waktu itu aku berpikir jika aku punya anak denganmu, aku pasti akan bahagia..."
"Lulu," kata Agus.
Suatu yang membuat Agus penasaran, Agus tanyakan. Lina menceritakan selama Agus meninggal dunia, walaupun dia bisa hidup sangat lama sampai usianya 5000 tahun. Agus hanya menutupi wajahnya dengan satu tangan. Selama usianya Lulu berakhir selalu menunggu, dan menunggu Agus yang mungkin akan datang seperti waktu pertama kali bertemu tapi yang Lulu harapkan tak pernah terjadi hingga akhir hayatnya.
"Seperti sudah waktunya..." Tubuh Lulu semakin menghilang layaknya menjadi transparan seiring berjalannya waktu.
"Lulu ..."
"Aku bahagia karena permintaan yang kuinginkan diwujudkan, aku mencintaimu, Agus..."
"..." Agus berlinang air mata, ia tak henti untuk menangis karena disaat ia menjadi hidup yang bisa dikatakan indah, Lulu masih menunggu di dunia yang berbeda sampai nafas terakhirnya.
Agus terbangun dari tidurnya, semua itu hanya mimpi mungkin untuk sebagai orang, Agus berpendapat kalau itu ada campur tangan dari Dewa yang mungkin mewujudkan keinginan Lulu. Dia melihat Lina dan Arya masih tertidur lelap, Agus memejamkan mata diikuti air matanya, dan membatin: kalau ia sangat meminta maaf pada Lulu Aite.