
Agus menunggu hingga Lulu kembali, ia begitu bersemangat mencari tanaman obat. Kelinci yang diburu masih bisa bertarung. Agus berharap tidak lengah. Dia mencoba menangkapnya dengan cara apa pun yang dia bisa. Menarik napas yang begitu tenang untuk mendekat diam-diam Agus mengintip dari semak-semak ketika melihat seekor kelinci bertanduk lancip kini berinisiatif melangkah lebih jauh. Daging yang akan nikmat jika dipanggang oleh Agus hingga menyeka ludah yang hampir menetes. Panah yang dia tembak dibuat sederhana, sayangnya tidak mengenai target utama. Agus sedikit frustrasi karena tidak hanya dua kali mengenai kelinci. "Dia sangat hidup." Agus membidik lagi.
Dia mengikuti dari dekat, berhati-hati jika monster muncul. Agus tertegun saat kelinci masuk ke dalam lubang tempat persembunyian kelinci. Agus memalingkan muka, membiarkan kelinci itu kabur dari mangsanya. Dia melihat ke tempat lain, tidak jauh dari sarang kelinci, di mana ada beberapa kelinci berkelompok lima. Dia membidik yang paling besar dan tepat di tubuh kelinci, yang lainnya lari meninggalkan kelinci yang tergeletak tak berdaya. Puas dengan satu kelinci besar, Agus mencari Lulu untuk kembali ke persembunyiannya. Suara langkah kaki terdengar jelas, dan Agus bersembunyi.
Agus melambaikan tangannya. "Kupikir ada monster, sayang aku di sini!"
"Aku mencari kamu sejak tadi," kata Lulu.
"Aku cuma dapat satu."
"Kelinci yang gemuk."
Keduanya memasak kelinci dengan bumbu yang tersedia, beberapa tanaman obat menjadi tambahan makanan kesehatan. Agus merasakan sesuatu yang familiar ketika makanan berasa seperti makanan rumah sakit dengan rasa obat yang kuat. Mereka menunggu Clovis dan Tina yang belum kembali meski hari sudah larut. Agus dan Lulu mulai khawatir dan berpikiran sama untuk mencari mereka berdua. Tina pulang sendirian, dia begitu kelelahan dengan luka di tubuhnya yang penuh darah dan sayatan.
"Mengapa kamu jadi seperti ini, apa yang terjadi!" Lulu sangat khawatir.
"Saya dan Clovis saat mencari informasi penting, sayangnya ada ras iblis yang memimpin para monster."
"Lalu bagaimana dengan Clovis?!"
"Maaf Yang Mulia..." Tina sedih.
Dua botol yang tersisa sebagai ramuan penyembuh. Tina meminum ramuan tersebut dengan susah payah ia terlalu lelah untuk banyak bicara dan diminta untuk istirahat. Lulu Aite berharap semua akan baik saja mereka tidak ditemukan saat bersembunyi. Agus melihat semua yang terjadi lebih parah dan sulit untuk menghadapi suatu seperti iblis. Lulu Aite hanya punya satu pilihan ia akan bersembunyi dengan waktu yang cukup lama sekaligus memastikan kalau iblis tidak datang ke tempat persembunyian. Saat Tina bangun ia makan suatu yang sudah tersedia namun wajah Tina masih begitu sedih ia tidak banyak bicara memilih untuk makan dengan lahap.
"Kita hanya bisa bersembunyi sambil mengambil tindakan agar mereka tidak tahu keberadaan kita," gumam Lulu.
"Yang Mulia, saya sungguh minta maaf tidak mampu membawa Clovis kabur."
"Tidak apa-apa, kamu jangan terlalu larut kesedihan."
Esoknya hanya Agus dan Tina yang mencari buruan dan tanaman obat. Lulu Aite memilih untuk menyendiri sebagai meditasi, ia akan berusaha mencari solusi dalam ketenangan. Dalam kurun waktu lima hari Agus sudah banyak mendapatkan buruannya, ia sudah sangat terampil dalam fisiknya juga semakin berkembang membentuk otot lengan yang kokoh.
"Yang Mulia pasti akan sangat senang melihat kamu yang begitu sehat."
"Hahaha, dia pasti sangat kagum."
"Kamu sangat berusaha keras sejak awal datang ke desa."
"Mmm, aku hanya berusaha sebisa yang aku punya, aku bahkan hanya sedikit membantu kalian."
Wanita yang berusaha tetap tabah menerima segala yang ia tinggalkan, Tina telah kehilangan pria yang ia cintai. Hari demi hari terlewati begitu saja sampai Lulu Aite keluar dari kamarnya. Agus tertegun karena istrinya lebih cantik dari sebelumnya, Agus terheran-heran dengan yang ia lihat jika sebuah pertapaan seperti yang ia pikirkan sungguh sangat mustahil oleh perkembangan seorang wanita lebih terawat dari sebelumnya. Lulu mengaku kalau dia sudah lebih kuat dalam tampungan energi lebih besar dari sebelumnya, akhirnya dia bisa ketingkat lingkaran delapan.
"Selamat untuk Anda Yang Mulia." Tina memberikan hormatnya.
Tina yang hanya sampai lingkaran lima, ia ingin jauh lebih kuat dan membalas kematian semua orang dan suaminya. Agus tersenyum melihat kedua wanita yang kini saling berpelukan, keduanya seperti saudari kandung selama Agus mengamati. Mereka berdua sangat mirip— Peri Kegelapan tidak jauh berbeda, mereka memiliki rambut putih dan kulit gelap, mata hijau begitu cerah.
"Apakah kamu bisa membantu aku agar jauh lebih kuat?" tanya Agus kepada Lulu Aite.
"Aku berencana akan membantu sebisaku, kamu punya perkembangan yang cepat, namun ingat untuk tidak memaksakan diri."
"Aku tidak akan memaksa diri jika sampai batas."
Rencana setelah selama dua bulan akan pergi ke desa lain untuk melihat jika ada desa Peri Kegelapan yang masih dalam keadaan baik. Lulu dan Tina saling berdiskusi, mereka berdua begitu serius dalam rencana yang terdengar sangat meyakinkan. Lulu meminta Agus untuk istirahat karena mulai besok akan latihan yang cukup melelahkan. Agus hanya melamun dengan lengan kiri di dahinya, ia berpikir segala kemudahan yang ia harapkan akan terjadi. Suara pintu yang terbuka membuat Agus menoleh, jam untuk istirahat untuk dia dan Lulu Aite.
"Apakah kamu gugup untuk besok?"
"Aku sangat gugup dan banyak yang kupikirkan."
Lulu duduk dekat tempat tidur. "Agus..."
Agus bangun dan duduk, ia mendengarkan semua keluhan dari Lulu yang begitu sedih. Merasa begitu hangat dalam pelukannya, Lulu berpikir tentang suatu yang tidak seharusnya dia menikah dengan ras yang belum pernah ia ketahui, Lulu tidak menyesali keputusan yang mungkin membawa petaka. Agus memperlakukan wanita dengan senyaman mungkin, istri yang berbeda dengan manusia kini mendapatkan kesedihan yang begitu rumit untuk ia jelaskan. Agus terkejut saat ada sesuatu yang menekan dadanya dan menggelitik telinganya. Dia mencoba menahan dengan godaan yang begitu intens, dengan banyak gerakan yang menguji kesabarannya. Agus langsung mengambil tindakan untuk membaringkan tubuh Lulu, wanita itu tersenyum dan menyentuh kedua pipinya.
Agus tidak lama kemudian berbaring. "Aku harus segera tidur."
Lulu menoleh dengan banyak pertanyaan dalam benaknya. "Apakah kamu kelelahan?"
"Aku tidak lelah, hanya ingin cepat tidur, besok aku mulai dapat pelatihan darimu."
"Agus, aku sebenarnya memikirkan kamu dengan usiamu yang begitu singkat."
"Dalam hitungan kamu yang berumur panjang memang singkat, bagiku sangat lama dan sudah puas dengan hidup yang mungkin sampai 80 tahun."
"Kuharap setelah kamu belajar sihir akan memperpanjang kehidupan kamu, aku tidak ingin sendirian tanpa kamu."
"Ucapan kamu buat aku deg-degan."
"Caramu bicara sangat lucu." Lulu Aite tersenyum.
"Aku prihatin tentang Tina," gumam Agus.
"Yang dialaminya sudah jadi takdirnya," sahut Lulu.