
Perkembangan yang diinginkan Lulu sangat jelas, ia merasa tidak sia-sia membimbing Agus menjadi penyihir berelemen api yang menjadi andalan ras Dark Elf— peri kegelapan. Tina berpikir sudah waktunya bagi mereka untuk pergi ke desa Dark Elf lain, dia tidak ingin berlama-lama lagi untuk mencari tahu mengapa monster mengamuk di Desa Dark Elf. Ras Iblis yang dia curigai sebagai penyebabnya, itu adalah kepastian yang terkenal, pikiran semua ras di dunia ini selalu tidak senang dengan kejadian para Iblis.
"Apa yang Anda khawatirkan lagi, Yang Mulia, kita harus bergerak sekarang," kata Tina.
"Maafkan aku, aku terlalu banyak pertimbangan Tina," jawab Lulu, dan melihat Agus.
"Kamu jangan ragu, aku akan berusaha untuk kamu," kata Agus.
"Hah, baiklah kalau kamu sudah sangat yakin."
Dua bulan yang berat telah dilalui begitu lama, Agus yang dulunya hanya manusia biasa kini sudah sangat jauh dari dirinya yang dulu. Fisik yang mumpuni untuk mengerjakan pekerjaan berat tak lagi direpotkan, Agus mengasah insting tajamnya saat berburu kelinci lincah. Mereka melangkah keluar dari tempat mereka bersembunyi, sudah tidak ragu jika ada monster yang lebih kuat. Suara yang gemerincing terdengar, mereka bersembunyi dan yang mereka lihat adalah monster yang menyerang desa. Kalung itu gemerincing dengan nyaring yang menandakan kalau dia adalah sosok yang memimpin para monster tersebut. Lulu tidak ragu menarik Agus untuk buru-buru pergi mengabaikan mereka karena jauh lebih penting untuk menemui Dark Elf di desa lain.
Lulu Aite memimpin untuk memakai jalan yang aman, ia tidak ragu memilih arah mana yang harus dia tempuh. Tina yang biasanya tenang merasa gelisah, ia sangat buruk dalam mengendalikan emosi. Agus menebak semua terjadi karena mental Tina sudah sangat tak terkendali selama berjalannya waktu. Suara yang keras terdengar di belakang, mereka berbalik hanya ada sosok Slime yang lewat.
"Ternyata hanya Slime, aku kira ada Ogre." Lulu mengelus dada.
"Ternyata kamu bisa tegang juga, Lulu."
"Aku khawatir nanti akan terjadi sesuatu padamu, Agus."
"Yang Mulia, kita sudah sampai di jalan bercabang."
"Kita lewat yang kiri, di sana lebih mudah dan jarang ada monster yang lewat sana."
"Apa masih sama seperti yang kamu tahu?" tanya Agus pada Lulu.
"Aku rasa tidak jauh berbeda, tempat itu sangat dihindari oleh monster sejak lama."
Agus melewati jalan yang curam. "Pantas saja tidak ada monster di sini."
Lulu Aite tersenyum. "Kamu harus hati-hati, jalannya sangat berbahaya."
"Yang Mulia, jembatannya terlihat sudah cukup rapuh," kata Tina.
"Semoga saja setelah lewat sini semuanya selesai," gumam Agus.
"Ayo Sayang," kata Lulu, ia mengulurkan tangannya.
Tina melihat dari belakang, kedekatan antara Lulu dan Agus. Tina masih berduka dan merindukan suaminya, ia sungguh tidak terima karena semuanya yang terjadi membuat ia kehilangan suaminya. Hembusan angin terasa begitu dingin, Tina melihat jauh ke langit, ia mendoakan agar suami tenang dalam tidur abadinya.
"Apa kamu baik saja, Tina?" Agus menoleh.
"Saya baik saja, Yang Mulia."
"Kadang kamu memanggil namaku jadi Yang Mulia, sangat aneh rasanya."
"Anda adalah suami, pemimpin kami, jadi sangat wajar kalau saya bicara seperti itu."
"Mmm, lain kali panggil Agus saja."
"Tidur boleh, hanya aku yang boleh memanggil namamu secara langsung," sahut Lulu.
Setelah melewati jembatan, mereka melanjutkan perjalanan dengan segera. Agus melihat ke belakang, ia punya rencana lebih baik memotong tali jembatan gantung tersebut. Lulu dan Tina saling memandang, mereka berdua menyetujuinya. Lebih baik memotong untuk tidak ada orang lain yang menggunakan jembatan yang sudah rapuh, dah terhindar dari monster yang akan melewati jalan yang sama untuk jalan pintas.
"Sudah mau sore, kita istirahat dulu." Agus mengusap keringat di dahinya.
"Aku juga sama, kita harus menetap selama semalam di sini."
"Tempat ini sangat sunyi," gumam Agus.
"Mungkin karena adanya serangan monster sebelumnya," kata Lulu.
"Mungkin saja..." Agus merasa semakin tidak nyaman karena kelelahan.
Agus memandangi api unggun, ia termenung dengan semua masalah yang menimpanya. Lulu menyamankan dirinya saat bersandar pada Agus. Tina tertidur dengan lelap, posisi tidurnya memunggungi mereka berdua.
"Aku sangat kasihan padanya," kata Agus.
"Apa karena dia kehilangan suaminya?" tanya Lulu.
"Begitulah, awalnya dia hidup dengan bahagia, tiba-tiba ada masalah seperti ini, pasti dia sangat berusaha menahan emosinya."
"Karena kamu bicara begitu aku jadi cemburu."
"Kenapa kamu cemburu?"
"Aku juga merasa kehilangan, semua yang aku pimpin terbunuh." Lulu mendekatkan wajahnya. "Tolong hibur aku..."
"Nanti dia melihat kita." Agus gugup.
"Tidak, dia tidak akan lihat."
Malam yang mendebarkan ketika mereka berdua melaksanakan kebutuhan hati. Tina yang belum tidur, ia mendengarkan sesuatu dari pembicaraan Agus dan Lulu, mereka berdua perpindahan ke tempat yang lebih baik. Tina mengikuti diam-diam dengan rasa penasaran, ia butuh hiburan untuk menutupi rasa pedih di hatinya. Dari balik pohon, Tina mengintip, suatu yang tidak dia duga terjadi, ia selalu menduga kalau manusia dengan usianya yang singkat tidak akan bisa bertahan lama, faktanya sangat lebih baik dari pria para ras Dark Elf. "Sulit dipercaya, dia bisa sampai seperti itu." Tina menelan ludahnya sendiri.
Pagi harinya, Tina sangat lesu, ia tidak dapat tidur nyenyak waktu malam hari. Lulu Aite tersenyum, ia menyadari kalau semalam Tina melihatnya begitu lama. Setelah setengah hari perjalanan, mereka sampai pada tujuan. Desa Dark Elf yang mereka lihat sudah tidak ada, hanya banyak puing-puing dan banyak potong-potongan yang mengerikan untuk dilihat. Bau menyengat dan amis tersebar menusuk hidung. Mereka mendoakan untuk korban, dan merencanakan tujuan selanjutnya.
Tina datang untuk melaporkan yang dia temukan. "Tidak ada yang selamat, Yang Mulia."
"Mungkin desa lain juga bernasib sama, kita tetap akan pergi ke desa selanjutnya." Lulu Aite menekan dahinya.
"Saya rasa kita harus berhenti, Yang Mulia." Tina menyerah akan melanjutkan perjalanan.
"Tina, kita harus menemukan Dark Elf lainnya." Lulu membelai rambut putih Tina.
Agus yang hendak meminta agar korban dikremasi langsung ditolak oleh Lulu, karena tidak tahu kapan para monster akan kembali lagi. Agus mengikuti perintah, ia tidak ingin mengakibatkan masalah karena keegoisan yang ia punya. Tina yang punya pandangan seperti Agus, Tina bisa memahami. Lulu Aite mendekati, dan meminta Agus tetap fokus dengan tujuan utama.
"Tinggal satu desa lagi yang aku ketahui." Lulu mencoret tanda silang di dalam peta yang ia bawa.
"Kalau desa yang kita tuju mengalami hal yang sama, terus apa yang akan kita lakukan kedepannya?" Agus memandangi Lulu.
"Kalau terjadi seperti yang kamu duga, tidak ada pilihan, selain kita mencari bantuan dari pihak lain."
"Pihak lain?" Agus tidak memahaminya.
"Apakah Anda ingin kita pergi ke Elf lain, pasti tidak suka dengan kita, Yang Mulia."
"Belum tentu, kalau semua mengalami kejadian yang sama, kita harus mengesampingkan masalah pribadi."