AGUS

AGUS
Dickie



Wanita yang akan menjadi istrinya itu begitu cantik dengan balutan gaun pengantin yang menawan. Agus tak banyak bicara soal harga mahal untuk memaksimalkan penampilan istrinya yang sangat cantik itu. Dia hanya bisa menilai secara sederhana, Agus mendapat senyuman dari Lina yang sangat puas dengan ekspresi wajah Agus.


"Mengapa diam saja?"


"Aku masih tidak percaya bahwa hidupku menjadi seperti ini."


Lina terkekeh dan menyelesaikan urusannya, dia sudah mengumumkan kapan gaun pengantin akan diantarkan ke rumahnya. Agus bisa mendengar orang berbicara di belakangnya. Lina mengajak Agus pergi, sudah waktunya kencan.


"Kamu masih ingat ini kafe favorit kita sebelumnya?"


"Ya, aku ingat," kata Agus.


Lina menyentuh punggung tangan Agus, Lina merasa Agus sedang banyak pikiran. Agus tidak memberitahukan apa masalahnya, dia hanya tersenyum dan berjanji semuanya akan baik-baik saja. Meski tak begitu mengerti, Lina hanya mengangguk, ia hanya mengira Agus mengkhawatirkan sesuatu yang sulit dihadapinya. Mata Agus beralih ke jendela kafe. Mobil yang lewat semakin banyak satu demi satu.


"Apakah kamu bosan denganku?"


"Tidak. Aku tidak bosan."


"Mmm... kamu selalu bosan saat kita berduaan..."


"Jangan sedih Lina, kamu tidak membosankan, aku terlalu pendiam."


"Terlalu pendiam, apa yang kamu bicarakan, kamu selalu banyak bicara." Lina berusaha untuk tidak tertawa.


"Ya, aku diam akhir-akhir ini, apakah aneh kalau aku banyak berubah?"


"Sebenarnya, perubahanmu sangat bagus."


Lima belas menit kemudian mereka pulang, Lina menceritakan semua yang terjadi pada ayahnya. Harit Setiawan puas dengan kebahagiaan Lina yang selalu melebih-lebihkan Agus. Agus masih ingin menyelesaikan masalah untuk memberantas orang jahat. Johnson mendengar semua yang dikatakan Agus, sesuatu yang dianggap tidak terlalu berguna. Kegiatan seperti pahlawan benar-benar tidak tahu apa manfaatnya, Johnson hanya menuruti perintah. Setidaknya ia bisa menguranginya, ia hanya selalu memikirkan sesuatu yang selalu ia tunda seumur hidupnya.


"Begitu banyak, apakah ini semua orang penting yang berpengaruh?"


"Mereka berpengaruh di area kerja negatif," kata Johnson kepada Agus.


"Mmm..."


"Apa yang kamu lakukan Sayang?" Lina yang datang langsung menghampirinya.


"Kamu telah selesai berbicara dengan Tuan?"


"Jangan bicara seperti itu, panggil saja ayah," kata Lina.


"Kalau begitu saya permisi dulu."


...


"Ambil ini..." Agus memberikan secarik kertas kepada Johnson.


"Apa itu?" dia bertanya.


"Hanya usaha kecil-kecilan," kata Agus.


"Kamu mau berbisnis?"


“Usaha kecil-kecilan saja, aku tidak nyaman hanya nganggur."


Lina senang dengan keputusan Agus mau bekerja. Agus sangat malu dengan perkataan Lina. Agus yang dahulu adalah benar-benar sampah yang hina. Agus menegaskan bahwa dirinya benar-benar tidak seperti dulu, Agus meminta Lina untuk melupakan Agus yang dulu. Agus menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang sekarang, Agus akan selalu sibuk hingga tiba waktunya pernikahan. Lina hanya tersenyum dan sabar menunggu pernikahannya. Dari daftar nama yang ditulis Johnson, Agus memilih yang terlemah dalam daftarnya.


"Tuan baik-baik saja dengan apa yang Anda lakukan," kata Johnson.


Agus turun dari mobil, ia membawa helm hitam bergaris biru. Di sebuah gang sepi, Agus segera tiba di lingkaran orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk melihat-lihat. Semuanya menatap Agus dengan heran. Agus bertanya di mana bos mereka, tapi malah diserang tanpa banyak bicara.


"Padahal aku bertanya baik-baik," gumam Agus setelah memukul salah satu dari mereka.


Mereka bertarung tidak hanya dengan tangan kosong, ada yang membawa kayu ada yang membawa pipa besi. Agus menguatkan seluruh tubuhnya, dia melawan mereka semua dengan cetakan. Ada yang jatuh ke tong sampah dan ada yang kepalanya membentur tembok.


"Katakan di masa bos kalian!" Agus menarik kerah baju pemuda botak.


"A-aku akan beritahu—tolong maafkan aku tidak ingin mati!"


Agus menarik pemuda itu untuk ikut, pemuda itu menggiring Agus ke area yang lebih berbahaya yang dipenuhi oleh orang-orang bertubuh kekar dan wanita-wanita yang berpenampilan seksi. Semua orang di sini tidak punya masa depan, sebagian dari mereka kabur dari rumah karena pergaulan yang salah, mereka memilih hidup seperti gelandangan yang sengsara.


"Bukannya si botak, kenapa dia babak belur!" Seorang pria langsung mendatangi Agus. "Biarkan dia pergi!"


"Tolong saya bro, dia yang mencari Bos!"


Pria itu langsung melayangkan tinjunya, sebelum tinjunya mendarat, Agus sudah meninju perut pria yang menyerangnya. Beberapa orang yang melihat langsung melangkah mendekati Agus.


Johnson diam-diam mengawasi atas permintaan Harit Setiawan. Agus mengetahui keberadaan Johnson, namun Agus tetap membiarkannya. Meski dipukuli, ia masih mampu membalikkan keadaan. Agus menjadi orang yang mengajari semua orang. Rekaman video tersebut dikirimkan kepada Harit Setiawan yang justru menikmati hasil adu jotos tersebut.


“Dia lebih bagus dari yang kukenal, bocah gila, dia bisa mengalahkan lebih dari 20 orang,” gumam Harit Setiawan.


Seorang pria gemuk dan botak sedang menikmati alkohol dengan pria dan wanitanya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, justru ia menikmati segala kenikmatan duniawi yang begitu nikmat. Suara pintu yang dibuka paksa mengagetkannya. Seorang pria menceritakan apa yang terjadi.


"Kau bilang hanya satu orang!"


"Dia sangat kuat Bos, kita tidak bisa mengalahkannya."


Agus yang datang dengan banyak bercak merah di bajunya. Bos bernama Dickie: Bos Geng Beruang Hitam, Dickie sangat marah dan bangun, dia dibantu oleh lima orang yang menjadi orang terkuat yang dia yakini.


"Kau tidak akan berhasil keluar dari wilayahku hidup-hidup."


"Aku mengerti, sebagai gantinya kamu akan berakhir sekarang."


Para wanita yang berada di sana segera melarikan diri. Lima orang menyerang Agus secara bersamaan. Suara adu jotos terdengar sangat keras saat Agus memukul kepala seseorang. Dickie yang awalnya sombong menjadi tegang. Dickie panik ketika orang-orang yang dia percaya runtuh dalam keadaan menyedihkan.


"Sekarang giliranmu," kata Agus.


"Kau pikir itu akan mudah melawanku seper—" Dickie mendapat pukulan di wajahnya.


"..."


"Bajingan, kau tiba-tiba menyerang." "Apakah kamu bermain badut?"


"Badut?" Dickie menggertakkan giginya.


"Bangun!" Agus menendang kepala Dickie.


"Akh!" Dickie terkapar, ia bangkit dan bersiap untuk menyerang.


Dickie berusaha mengimbangi Agus. Lelaki gendut yang selalu menang dengan fisiknya yang selalu diunggulkan dalam pertarungan, dipukuli sepihak hingga merasa tak mampu berdiri tegak. Agus meninju perut Dickie dengan keras hingga Dickie memuntahkan cairan bening dari mulutnya.


"Uhuk uhuk!"


“Bangun…” Agus melihat lawannya begitu lemah.


Agus menyebut nama Johnson. Pria yang sebelumnya menonton secara diam-diam sekarang tampak gugup ketika dia muncul dari persembunyiannya. Agus tersenyum, dan menyuruh Johnson untuk mengurus sisanya. Agus memeriksa di sekitar bahwa ada banyak obat yang seharusnya tidak digunakan. Agus tidak mengalami luka serius, wajahnya masih aman dengan helm yang dikenakannya.