
Mark Nou mendengarkan semua yang dikatakan putranya—, Rangga Nou. Pria itu sangat kesal dengan keputusan sepihak dari Harit Setiawan yang memilih orang lain sebagai calon menantu. Mark menelepon Nicolas Hadin untuk mengetahui informasi tentang Agus Nugroho. Nicolas Hadin pun menceritakan segalanya, Mark Nou merasa akan sulit jika harus berharap dengan seseorang yang memiliki kemampuan untuk seni beladiri. Masalah menyingkirkan Agus akan sulit terkecuali mencari orang yang benar-benar berpengalaman. Suara lantang dari seorang wanita mengejutkan Mark dan Rangga, wanita itu adalah Jessie Nou yaitu ibu dari Rangga Nou.
"Apa yang kudengar itu benar kalau mereka tidak akan bertunangan!"
"Seperti yang kau tahu," jawab Mark.
Sementara di Keluarga Setiawan, banyak orang yang membicarakan seorang pria— Agus Nugroho yang jadi topik pembicaraan jadi canggung dengan semuanya. Harit Setiawan banyak menghabiskan waktu dengan Agus, kekuatan Agus seperti dimanfaatkan secara layak untuk menanggung beban untuk Keluarga Setiawan.
"Kenapa ayah terlalu menyibukkan Agus?!"
"Diamlah Lina, kau bilang ingin bersamanya, dia harus punya kegunaan untuk keluarga kita." Harit menekankan. " Sekarang kau tidak perlu kerja ikut orang lagi, kau tidak perlu berperilaku jadi sederhana."
"..." Lina memikirkannya, ia seperti itu karena untuk Agus, sekarang ia tidak perlu melakukannya lagi untuk jadi sosok yang sederhana. "Ya, Yah..." Lina Mengangguk.
Seorang pria botak, kulit gelap bernama Johnson kini sedang menemani Agus yang mendapat tugas dari Harit Setiawan. Mereka berdua akan menyingkirkan seseorang yang telah diketahui mengkhianati Keluarga Setiawan. Johnson banyak bercerita tentang apa saja yang ia lakukan dalam perkejaan ini sampai sudah terbiasa membunuh orang tanpa berpikir dua kali.
"Anda benar-benar langsung setuju dengan keputusan Tuan," kata Johnson.
"Kalau aku tidak setuju, aku yang akan sulit."
"Apakah semua ini karena Nona kami?"
"Ya, sebagai besar karena dia juga."
"Sangat romantis untuk pria yang nekad seperti Anda melakukan demi cinta," kata Johnson yang diakhiri helaan napas.
"Itu target kita?"
"Benar, orang itu target kita."
Pria dengan setelan jas warna kuning yang menyolok itu sedang masuk ke dalam mobil. Mereka berdua mengikuti, mereka harus menyingkirkan orang itu tanpa diketahui. Agus tidak punya pemikiran kasihan atau apa pun, ia mengalihkan semuanya kalau pria itu seperti monster. Johnson mempercepat laju mobilnya, ia melakukannya karena yang diikuti telah mengetahui kehadirannya.
"Anda baru belajar sebentar, apa Anda ingin menggunakan pistol?"
"Aku punya penglihatan yang bagus, aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat, kau cepat dekati mobilnya."
"Saya sudah memeriksa mobilnya tadi, kaca mobil tidak Anti Peluru."
"Lebih dekat," kata Agus sambil membidik.
"Kalau dia bisa langsung menyelesaikan, dia akan jadi orang terbaik dalam membunuh," gumam Johnson.
{Sheeph!}
Suara dari pistol tidak terlalu nyaring karena peredam suara. Pria yang ada di dalam mobil langsung tergeletak. Keadaan seharusnya akan sulit untuk orang profesional jika dalam kecepatan tinggi saling mengejar. Semua selesai dengan mudah dan mereka langsung mengganti mobil pada tempat yang ditentukan. Mereka pun kembali dan melaporkan kalau semua pekerjaan sudah selesai. Harit Setiawan pikir akan menyita banyak waktu tapi sudah selesai sampai sore hari. Target yang sudah diselesaikan kita masuk dalam berita utama atas kematiannya. Agus sudah lulus dari ujian yang Harit Setiawan berikan.
"Kau lulus," kata Harit Setiawan.
"..."
"Aku merindukan kamu," kata Lina, ia memeluk Agus. "Kenapa kamu menerima yang ayah suruh, karena aku kamu jadi nekad menjadi pembunuh."
"Aku juga merindukan kamu," jawab Agus, ia membalas pelukan.
"Hmm, apa aku boleh masuk ke dalam?"
"Boleh, lagipula aku tinggal di rumahmu."
"Mm..." Lina melihat sekelilingnya.
Di ruangan yang lain Harit Setiawan mencoba untuk sabar, ia sangat malu dengan sikap putrinya yang sangat ceroboh. Johnson yang menghadap Harit, Johnson mendapatkan pertanyaan dari Harit mengenai Agus, untuk Agus sendiri dinyatakan orang baik menurut penilaian pribadi Johnson.
"Kenapa kau menilai dia seperti itu hanya dalam sehari."
"Saya melihat prilakunya dan tatapan ia bukan orang yang licik Tuan."
"Kalau dia menjadi menantu, aku tidak yakin kalau dia bisa menggunakan kekayaan dengan benar dan baik dengan Lina."
"Mohon maaf, saya pikir Anda harus tidak seperti itu, Tuan Agus sangat mencintai Nona, saya bisa melihat semua yang ia lakukan juga untuk Nona."
Waktu tengah malam Agus bangun dari tidur, ia melihat Lina yang masih tertidur lelap. Dia sadar suatu yang dilalui seperti kebiasaan, ia sudah melakukan semuanya untuk wanita yang dekat dengannya. Suara Lina yang memanggil membuat Agus menoleh dan tersenyum.
"Kamu sedang apa?" tanya Lina.
"Aku sedang meditasi," jawab Agus.
Lina tidak banyak bertanya saat Agus melakukan meditasi, Lina melanjutkan tidurnya. Agus yang merasa aliran Mana, ia menyerapnya perlahan-lahan karena hanya ada sedikit dan butuh banyak proses untuk memperkuat diri. Suara yang samar-samar dan ingatan masa lalu membimbingnya untuk tetap melanjutkan yang Agus inginkan.
"Pilihan yang menentukan jalan," gumam Agus.
Dia orang yang simpel dan tidak banyak memikirkan suatu yang rumit selain orang yang ada ikatan dalam dirinya. Agus ingat yang ia lakukan semua hanya untuk dirinya yang ingin hidup bersama pendamping hidup, itulah yang akan ia lakukan untuk kehidupan kali ini sama seperti kehidupannya yang lalu-lalu. Suara yang samar-samar dari seorang wanita seakan membawanya ke tempat yang sunyi senyap, Agus tertarik mengikuti wanita itu. Banyak jalur renkarnasi dengan hidup yang berbeda dan kesulitan yang menanti, ada cara mudah untuk Agus menghadapinya, tapi ada kesalahan yang pasti membayangi dalam hidupnya: entah itu orang terdekat sebagai kekasih atau sahabat yang tak tergantikan.
Agus menghembus napas dan membuka kelopak mata, ia melihat sekeliling tanpa adanya Lina Setiawan. Suara yang cukup bisa meyakinkan dari kamar mandi sudah memberitahu kalau Lina ada di sana. Agus bangun dan bersiap untuk melakukan pemanasan, dari balkon ia melihat pemandangan yang indah. Lina yang sudah selesai mandi hanya terbalut oleh handuk, ia mendekati Agus, dan memeluk dari belakang.
"Kamu semalam hanya duduk di lantai, cepatlah mandi biar tidak masuk angin."
"Terima kasih, kamu tidak membangunkan aku."
"Lucu melihatmu seperti itu, kamu mirip Petapa."
"Hahaha, cepat berpakaian, nanti akan masuk angin."
"Aih, kamu membalikkan yang kukatakan."