
Ketika Agus terbangun ia merasa sangat lemas, ia tidak menyangka ini akan menjadi yang paling melelahkan dari kehidupan sebelumnya. Wanita di sampingnya masih tertidur lelap, dia membuka matanya untuk bangun ketika Agus bangun dari tempat tidur. Lina tersenyum lembut saat melihat Agus yang memberinya senyuman.
"Kita harus pulang," kata Agus.
"Tolong bantu aku," kata Lina.
Lina memesan baju di toko online, mereka menunggu pesanan datang. Agus memaklumi perilaku manja Lina, menurutnya lebih baik tidak selalu pergi liburan, ia tahu banyak tentang betapa ganasnya wanita manja ini. Sangat canggung memakai jas biru tua yang dipesan, Agus dibantu untuk memakainya, ia cukup tidak suka memakai dasi, memutuskan untuk tidak memakainya kecuali ada acara formal.
Lina mengerucutkan bibirnya, dia ragu untuk membeli pil kontrasepsi yang tersedia di toko online. Agus penasaran dengan Lina yang terlalu sibuk dengan Smartphone-nya, wanita itu banyak berpikir dan terhenti saat Agus menelponnya.
"Kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-napa, hanya saja aku bingung apakah harus membelinya..."
"Kamu mau beli apa?" Lina menunjukkan layar Smartphone miliknya.
"Ini, apa yang harus saya beli?"
"Mengapa kamu mau membeli ini ..."
"Kurasa aku akan hamil jika berlebihan," gumam Lina sambil menunduk dengan senyum masam.
"Itu akan buruk untukmu, jika sesuatu terjadi aku yang bertanggung jawab, lagipula aku yang melakukannya."
"Jadi, kau tidak keberatan jika itu terjadi?"
"Ya, tidak masalah lagipula akan menikah juga, ehem ..."
Waktu yang sangat romantis dalam perjalanan pulang, mereka memanggil taksi untuk pulang. Agus tersenyum saat Lina terlalu memanjakan dirinya saat bersandar di bahu kanan Agus. Sopir taksi tidak banyak bicara selain sesekali melihat mereka. Agus terbatuk sejenak sebagai peringatan kepada sopir taksi yang kembali fokus mengemudi.
"Apakah kamu tidak terlalu melekatkan dirimu?"
"Apakah kamu tidak menyukainya?"
Agus tak bisa memungkiri bahwa apa yang dilakukan Lina tidak merugikan, justru ia senang dan berusaha untuk tidak tersenyum seperti orang mesum. Lina mendapat telepon tak lain dari ayahnya, Lina dituntut untuk tidak main-main mengabaikan perusahaan yang telah dititipkan ayahnya kepadanya.
"Ayah tenang saja, aku sudah mengaturnya, aku tidak bodoh mengambil kepercayaan ayah."
"..." Agus hanya mendengarkan.
Sesampainya di rumah dan mulai merencanakan untuk melakukan pekerjaan, Lina hanya tersenyum karena akan disibukkan dengan urusannya. Agus tidak keberatan dan meminta Lina untuk menjaga kesehatannya. Tugasnya hanya menjaga calon istrinya, mertuanya yang sibuk ke luar kota menyuruhnya untuk lebih menjaga Lina daripada mengurus dirinya sendiri.
“Harus tetap waspada jika ada gerak-gerik yang mencurigakan, untuk saat ini serahkan masalah Lina kepadaku,” kata Agus kepada Johnson.
"Saya akan melaksanakan perintahmu dengan baik." Johnson pamit pergi.
Agus pergi bersama Lina untuk menemui seseorang dari negara J. Orang-orang penting dalam bisnis mobil. Agus yang berperan sebagai bodyguard dipandang rendah. Calon menantu yang tidak mendapat perhatian, tidak memiliki kendali dalam bisnis dan saham.
"Baru kali ini saya melihat Anda, Tuan," kata pria itu.
“Ya,” kata Agus saat menjawab.
Cara berbisnis di dunia ini tidak bisa dianggap enteng. Agus hanya melihat tanda-tanda yang menurutnya kurang baik. Pria itu melihat Lina dengan cara yang berbeda. Agus menopang pipinya dengan kepalan tangan.
"Ini seharusnya pembicara pribadi, kamu bisa datang ke tempatku."
"Rasanya tidak begitu sopan," jawab Lina.
Pria beralasan lebih nyaman bersama, mereka akan lebih fokus jika ada sesuatu yang bersifat pribadi tanpa diganggu orang lain. Agus yang merasa terhina, ia menatap tajam, bahkan mendapat senyuman sinis dari laki-laki itu.
"Terima kasih, kamu terlalu memujiku," kata Lina, dan melihat respon dari Agus.
Lina bahagia di dalam, dia bisa melihat dari mata emosional Agus. Lina tersenyum pada pria bernama Ken yang sepertinya sengaja berbicara dengan nada yang sangat lembut.
"Aku berharap kita bisa bertemu satu sama lain," kata Ken.
"Saya pikir itu akan sulit, seseorang akan marah jika saya melakukannya," jawab Lina.
Pria bernama Ken Otto dari Negara J, dia pergi setelah pembicaraan selesai. Agus hanya menatap pria yang jelas-jelas memulai provokasi dengan menggoda wanita orang lain. Lina menghela napas lega, dia sudah menahan emosi berbahaya seperti itu jika dia terbawa suasana, tapi dia cukup senang seseorang cemberut.
"Dia pria yang hebat dan dia terkenal dengan otomotif, dia memiliki banyak bisnis selain otomotif." Lina melihat Agus yang mulai kesal.
"Kamu tidak tahu seperti apa dia, aku bisa melihat dia bukan pria yang baik."
Lina tersenyum. "Banyak yang bilang dia baik."
Agus berbalik. "Mereka bodoh ketika mereka mengatakan itu."
"Hahahaha, kenapa kamu terlihat sangat marah apa kamu sangat kesal, atau cemburu?" Lina menggodanya.
"... Wajar kalau aku cemburu," sahut Agus.
"Syukurlah, kamu bisa cemburu padaku, aku sangat senang."
"... Kamu senang?"
"Hampir mustahil melihat kamu cemburu, sekarang begitu memuaskan kalau aku jadi berharap banyak."
"Hati-hati kalau berusaha dengan dia." Agus bangkit dari kursi.
"Kamu harus sering menemani aku kalau begitu," kata Lina.
Menantu yang tidak bisa berbuat apa-apa menjadi topik hangat perusahaan, para karyawan saling membicarakan. Agus santai menikmati kopi di kantin. Dari pihak karyawan perusahaan sendiri sangat bingung dengan cara berpikir Lina Setiawan. Agus hanya memiliki wajah tampan dan tubuh yang bagus, selain itu tidak ada lagi kelebihan yang menonjol.
"Apakah karena dia kaya sehingga tidak masalah?"
"Wanita kaya selalu memiliki selera yang aneh, aku sering mendengar dari teman-temanku."
"Aku juga pernah dengar dari bibiku, kalau ada juga wanita usia 40 tahun yang punya simpanan pria yang masih 18 tahun."
"Gila banget, bibimu punya kenalan yang seperti itu!"
"Mungkin bos kita seperti itu, bukan hanya pria tak berguna itu, mungkin banyak lagi yang jauh lebih tampan."
Agus yang sempat mendengar percakapan kedua karyawan wanita, Agus memutuskan untuk pergi setelah menghabiskan kopinya. Agus memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, ia mengenakan jas biru tua, namun ia hanya terlihat keren dari sudut pandang karyawan wanita. Agus melihat seorang karyawan wanita yang sedang sibuk di mesin fotocopy, wanita tersebut mendapat jeritan dari wanita lain untuk bekerja lebih teliti. Wanita yang terlihat sangat polos, kacamata yang dikenakannya menambah kesan norak. Agus datang membantunya, perempuan yang banyak bicara itu langsung berhenti.
"Kamu sudah bekerja di sini selama hampir setengah tahun tapi kamu masih lamban!"
"Maaf, aku akan bekerja lebih keras..."
"Kalau bukan karena CEO, aku akan memecatmu dari awal."
"Maaf," katanya sambil menunduk.
"Tidak perlu berbicara kasar seperti itu, dia sudah sibuk dengan pekerjaannya, aku melihat dia tipe pekerja keras."
"K-kamu..."