
Dia ingat tahu lebih banyak dan pergi bersama Miranda ke toko roti yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Banyak yang melihat ke arah mereka berdua, Agus sadar salah satu dari mereka terlalu jauh mengamatinya, Agus berinisiatif mengabaikan orang itu— Agus sepenuhnya berpura-pura. Seorang wanita tua menyarankan agar Miranda mengadopsi Agus akan lebih baik dan tidak ada hal buruk yang akan merugikan. Miranda tersenyum seolah sedang memikirkan apa yang dikatakan wanita itu. Agus melihat banyak toko, yang paling menarik baginya adalah Equipment Shop— toko perlengkapan untuk berburu monster.
"Apa kamu mau sesuatu?" Miranda bertanya.
"Saya tidak butuh apa-apa, Bu," jawab Agus.
Mereka tidak pergi lama, mereka pulang dan membuka toko bunga. Agus memeriksa bunga di pot bunga, dia mengambil sesuatu yang tidak nyaman untuk dilihat. Semakin Miranda memperhatikannya, dia semakin rukun dengan anak itu. Agus memiliki sikap yang baik dan sopan terhadap orang lain, tidak seperti anak-anak seusia Agus yang umumnya dikenal Miranda. Tiba-tiba Agus minta izin jalan-jalan, Miranda merespon cukup lamban seolah enggan mengizinkan Agus pergi. Agus meyakinkan akan pulang setelah urusannya selesai, Miranda mengizinkannya, Agus pergi setelah berpamitan.
"Hati-hati di jalan, kamu harus cepat pulang!"
"Ya Bu!"
Miranda bergumam resah. "Semoga kamu tidak mendapatkan masalah di luar." Miranda melanjutkan pekerjaannya.
Agus dicegat oleh dua orang laki-laki, mereka menarik Agus ke sebuah gang. Laki-laki berambut pirang itu memarahinya, agar Agus memberikan uang yang didapat, Agus mengatakan kalau saat ini ia tidak punya uang. Saat pria itu mengangkat tangan kanannya, Agus menerobos dan berlari lebih jauh ke gang, kedua pria itu mengejarnya sambil mengumpat dengan kasar. Agus terhalang oleh gang buntu, dia berbalik, matanya tidak menunjukkan rasa takut. Pria berambut pirang itu hanya memanggil Agus dengan anak tak bernama, pria yang dulunya merawat Agus, setelah Agus jadi anak yatim— pemilik tubuh aslinya.
"Anak tidak tahu diri, aku telah menghabiskan banyak uang untuk menjagamu!"
"Saya tidak peduli," kata Agus.
Seorang gadis rambut hijau, dan iris mata hijau, ia berlari ke arah Agus.dan menariknya. Gadis itu bernama Tiara, sang pemilik tubuh dekat dengan gadis itu sesuai dengan ingatan yang dimilikinya. Gadis itu semakin dekil dengan baju putih yang sudah coklat, Tiara senang karena Agus baik-baik saja. Agus yang tak disebut namanya langsung menyebutkan namanya yang sekarang, Tiara kaget karena Agus begitu berbeda, yang dulu selalu mengacuhkan Tiara. Gadis itu juga seorang yatim piatu, dia yang terlihat seperti anak berusia 9 tahun sudah menerima perlakuan buruk dari pria berambut pirang sebelumnya.
"Kamu ikutlah denganku."
"Kemana kita akan pergi?"
"Di mana kita akan tinggal, aku akan mendapatkan izin dari Tuan dan Nyonya."
"Aku sangat menyusahkanmu."
“Kamu tidak ngerepotin, dulu kamu juga sering bantuin aku,” kata Agus mengingat banyak hal tentang Tiara.
Saat Jack pulang, Miranda menceritakan semuanya, Jack tidak merasa kesulitan jika menambah dua keluarga, dia juga punya cita-cita mengadopsi Agus dan Tiara. Saat makan malam, Agus ingin mencari pekerjaan, Jack terheran-heran dengan keputusan Agus yang penuh tekad dan tak mau ditolak. Bocah yang mengaku lebih kuat dari anak normal ini, mampu mengangkat beban yang cukup berat jika bisa bekerja di tempat yang membutuhkan tenaga ekstra. Guild Trade tempat yang mungkin cocok buat Agus, di sana menerima banyak pekerjaan apa pun statusnya asalkan bisa bekerja dengan baik, siapa pun akan diterima.
Tiara tinggal di rumah untuk membantu Miranda, sedangkan Agus pergi bersama Jack yang akan menemani Agus menemui seseorang yang ada di Guild Trade. Seseorang yang harus ditemui Jack untuk mendapatkan persetujuan, Jack mencari Jarvis Len Keller, pemilik Guild Trade. Mereka berdua harus menunggu lama untuk bisa bertemu dengannya, pria berambut putih dan bermata biru itu adalah Jarvis Len Keller. Dia tidak mengabaikan dan menyambut, dia mengundang mereka ke ruang kerja. Jarvis yang pernah ditolong oleh Jack bersikap ramah waktu hanya ada mereka bertiga.
"Jadi anak ini akan bekerja di sini?"
"Maaf kalau ini terdengar aneh, tapi saya yakin, Anda tidak akan kecewa dengan Agus."
Diakui Agus, jika dia bisa membaca dan berhitung, dia juga bisa pertahanan diri ketika menerima ancaman dari orang lain. Jarvis bangkit dari tempat duduknya, dia memberinya buku catatan di atas kertas dan menuliskan beberapa angka tambahan. Jack terkagum-kagum dengan kepintaran Agus yang tidak disangka-sangka oleh Jack, anak laki-laki yang awalnya lusuh dari tempat kumuh ternyata memiliki kepintaran layaknya anak seorang bangsawan. Jarvis tersenyum, dia berpikir cukup lama dan akan memberikan waktu sebulan. Mereka berdua pulang setelah bicara, untuk bulan depan mereka akan kembali lagi, Jack penasaran dengan pekerjaan yang akan diterima Agus karena butuh waktu bagi Jarvis Len Keller untuk memutuskan.
Tiara terdiam karena kagum dengan cerita Jack yang mengatakan bahwa Agus bisa membaca dan menulis, bahkan berhitung. Tiara yang mengetahui kebenaran tentang Agus, Tiara hanya mengikuti arus. Saat istirahat malam, Agus sedang tidur di ruang tamu, Tiara mendatangi Agus untuk bertanya. Agus yang tak mau berbohong menceritakan semuanya, ia meminta Tiara merahasiakan semua yang ia dengar. Gadis itu tahu penyebab keanehan yang dia rasakan, dia akan tetap merahasiakannya, dia cukup sedih karena anak laki-laki yang dia kenal sudah tidak ada lagi.
"Kamu pasti sangat terkejut, aku juga tidak tahu kenapa aku harus memiliki tubuh ini."
"Mungkin ini takdir, aku berterima kasih, meskipun kamu tidak mengenalku, tetap mau menolongku."
Agus mengatakan bahwa dia berasal dari dunia lain, dia tidak menceritakan bahwa dia dulu tinggal bersama para Dark Elf. Hari-hari berlalu dengan damai, keduanya membantu pekerjaan di toko bunga. Miranda sangat puas, tidak Larut dalam kesedihan karena tidak memiliki anak. Agus dan Tiara telah membuat hidup wanita itu lebih berwarna, dia hanya ingin memiliki anak seperti mereka suatu saat nanti. Saat ada waktu luang, Agus melakukan meditasi dan senam fisik, dia senam untuk membentuk otot agar tidak terlalu lemah meski masih anak-anak.
"Bocah sialan, kau pasti bahagia karena hidupmu jauh lebih baik sekarang?" Pria berambut pirang yang pernah ditemui Agus kini mencegatnya di jalan."