AGUS

AGUS
Tugas (2)



Sakit kepala yang begitu menyiksa, dia tahu penyebabnya adalah stres kerja yang menumpuk, Lina mendapat telepon dari Agus yang beberapa hari tidak pulang. Lina mengawasi wanita yang beberapa hari terakhir selalu mendapatkan perhatian dari Agus. Suara yang menyapa yang tidak lain adalah seorang wanita. Karyawan wanita sudah biasa untuk bergosip, Lina yang tidak membatasi dirinya dan karyawan, Lina mulai bosan dengan ucapan mereka yang menggodanya untuk cemburu. Dia menyuruhnya pergi karena tak mau termakan oleh omongan yang tak perlu. Lina memanggil Agnes Meina untuk datang menghadapnya.


"Kamu tidak perlu takut jika ada masalah langsung bilang padaku saja." Lina.


"Baik CEO..."


Sebagai seorang wanita ia bisa menilai kalau Agnes Meina tidak begitu buruk dalam tampilan sederhana— sebaliknya Agnes terlihat seksi dilihat dari sudut pandang Lina. Terlihat polos, lemah lembut, dada yang montok, pinggul yang ramping, dari belakang juga menggoda. Lina membayangkan kalau Agnes lebih berani untuk merubah penampilan yang modis jelas kalau Lina bisa saja kalah. Dia cemburu dengan alasan yang sudah sangat jelas kalau tak ingin Agus berpaling pada wanita lain walaupun wanita itu sangat baik sikap dan sifatnya.


"Ikut aku, aku ingin bicara denganmu."


"Baik..." Agnes Meina merasa sangat gugup.


"Apa kau sudah punya pacar?" Lina langsung pada intinya.


"Pacar?"


Gosip yang harus ia lurus, tanpa ada maksud yang tak baik Lina bertanya. Agnes menggerak-gerakkan kedua tangan, ia tidak punya perasaan yang seperti yang orang lain pikiran. Lina melihat kalau yang dikatakan kemungkinan jujur tapi dalam ekspresi wajah yang seperti itu sangat penting untuk dinilai lebih lanjut. Suara telepon langsung membuyarkan suasana, Agnes pergi setelah disuruh oleh Lina. Ayahnya meminta Lina untuk pulang lebih awal dari jam pulang. Suatu yang tidak bisa ia tentang namun meyakinkan kalau ia tak mungkin seperti itu karena untuk sebagai contoh para karyawannya.


"Hahahaha, kamu konyol sekali, kamu pulang awal bisa kapan saja."


"Tetap saja tidak bisa, Yah."


Ayahnya menyebutkan kalau Agus akan pulang lebih lama lagi, Lina protes namun ia harus mengikuti yang ayahnya inginkan jika ingin menikah dengan Agus. Suara helaan napas yang berat terdengar dari telepon. Harit Setiawan meminta Lina lebih dewasa karena semua yang Agus lakukan sangat menguntungkan bagi banyak orang. Dia rasa akan sangat kesepian jika semua diundur sampai satu bulan, suatu yang berbahaya juga membayangi Agus jika mendapat suatu permintaan yang tak masu akal dari Harit Setiawan. Andaikan posisinya seperti orang biasa pasti akan banyak waktu bersama Agus untuk ia habiskan.


"Mmm..." Lina tersipu malu dengan pikiran kotornya sendiri.


Waktu pulang sudah ada seorang pria yang menjemput bersama lima orang yang menjadi pengawal. Semuanya jadi semakin jelas kalau yang dilakukan Agus suatu yang tak bisa, Lina khawatir dalam pikirannya sendiri ia sempat takut jika kehilangan seseorang yang ia cintai. Suatu yang terdengar begitu nyaring dari mobil yang berada paling depan, tabrak yang sangat mengerikan sampai membuat Lina terdiam dan menutup mulutnya dengan satu tangan. Sopir membawa Lina ke jalur yang lain untuk kesempatan. Suara dari belakang membuatnya reflek menunduk setelah kaca mendapatkan hentakan dari peluru.


"Anda tidak apa-apa Nona?" Sopir.


"Aku tak apa, siapa mereka!" Lina.


"Saya juga tak tahu ... Tuan bilang akan ada yang menimbulkan keributan makanya kami diminta untuk menjemput Nona."


Sangat tidak mungkin orang yang bekerja secara profesional tidak mengenal penyerang yang sekarang menembaki mobil tersebut. Lina dituduh bersembunyi dari tembakan yang mungkin akan mengenai dirinya kapan saja. Mereka terjebak dengan tiga mobil menghalangi jalan pulang. Lina ketakutan dengan semua yang terjadi, dia ingin mencari cara lain untuk melarikan diri, jika dia membuka pintu dan lari dia akan ditembak. Seorang pria datang dengan lima orang di belakang, pria itu memakai topeng. Lina terpaksa keluar dari mobil, dia menolak dan kaca depan ditembaki padahal kacanya antipeluru.


Linggis memaksa terbuka, Lina terpaksa keluar dari mobil namun tak lama kemudian orang yang akan membawa Lina, mereka berjatuhan satu persatu. Suara tembakan membuat Lina semakin ketakutan. Sebuah suara familiar membuat Lina menoleh, seorang pria berambut hitam dengan wajah tampan yang sangat familiar dengan Lina.


"Alex!" Lina.


"Syukurlah aku tidak terlambat." Alex.


"..." Alex menyentuh pipi kanan Lina, dia memalingkan wajahnya dan pergi.


"Tolong bawa aku pergi..."


"Tentu saja Lina." Lina pulang bersama Alex, hubungan mereka di masa lalu adalah teman masa kecil, Lina yang duduk di kursi belakang tidak banyak bicara.


Lina tidak menyangka pria yang selama ini dia hindari akan kembali dari luar negeri, Alex yang ingin memberi kejutan saat dia pergi ke rumah Lina. Alex tidak menyangka kekacauan yang dilihatnya adalah mobil-mobil milik Keluarga Setiawan. Pertanyaan yang sangat enggan dijawab oleh Lina adalah masalah perasaan. Lina sebelumnya menolak karena ada pria yang disukainya.


"Apakah kamu masih begitu yakin tentang dia?" Alex.


"Masih ..." Lina.


"Meskipun dia adalah orang biasa yang tidak begitu mampu sepertiku, tapi kamu lebih memilih dia." Alex.


"Sebut saja karena cinta, aku sangat yakin karena cintaku padanya." Lina.


"Akan sulit bagimu bersamanya, Paman tidak akan menyukainya." Alex.


"..." Lina tersenyum.


"..."


Kediaman Keluarga Setiawan...


Ayahnya sangat berbeda ketika berurusan dengan Alex. Lina kecewa karena ayahnya tidak bersikap seperti itu kepada Agus. Alex adalah orang dengan nama keluarga terkenal— Keluarga Hanz, mereka memiliki banyak pengalaman dalam hal menyingkirkan seseorang tanpa pandang bulu jika orang itu tidak bisa mereka percayai.


"Untungnya ada kamu." Harit Setiawan.


"Aku bersyukur karena ada aku di sana Paman, sebenarnya apa yang terjadi kenapa mereka mencari masalah denganmu?" Alex.


"Semua ini karena seseorang yang mungkin kau kenal?"


"Yang aku kenal, apakah dia berhubungan dengan keluarga?"


"Dia ada hubungannya dengan Lina." Harit melihat Lina.


Alex mengikuti tatapan Harit. "Um?"


Harit Setiawan memanggil seseorang untuk membereskan masalah tersebut agar tidak diketahui publik, orang tersebut Harit Setiawan bukanlah orang biasa, orang tersebut memiliki jabatan yang dapat membersihkan semua masalah yang sulit untuk ditutupi. Harit melihat gerak-gerik Alex yang sedang menatap Lina. Dari nilai seseorang yang memiliki kemampuan, Alex tidak kalah jauh selain itu Alex juga memiliki sesuatu yang lebih istimewa menjadi pewaris Keluarga Hanz. Banyak calon Harit Setiawan yang sangat baik untuk putrinya, Harit Setiawan hanya harus memilih yang paling menguntungkan, meskipun dia memiliki janji nyata dengan Agus, tetapi dia memiliki rencana sebagai cadangan agar dia bisa berbuat lebih banyak.