
Hutan dengan kabut tebal, Agus memasuki hutan tanpa ragu. Dia dengan perasaan ingin tahu melihat sekeliling berharap jika Dark Elf muncul. Itu bukan hutan yang sama di kehidupan sebelumnya, juga jejaknya tidak sama. Dia memperhatikan begitu banyak perbedaan tetapi dia tetap berharap. Suara seperti burung hantu terus terdengar saat dia berjalan, dia menoleh ke arah suara dari semak-semak. Agus mengikuti sesuatu dan melihat di balik semak-semak hanya ada binatang yang berlarian, kelinci hitam. Agus kembali melanjutkan perjalanannya.
Serigala itu langsung melompat menerkam, warna hitamnya sangat mengejutkan dari balik pohon, Agus langsung menebaskan pedangnya ke leher serigala itu. Dia melihat semua pohon, di atas lubang pohon seseorang bersembunyi, dia waspada terhadap panah atau bola api yang akan dilemparkan ke arahnya. Ada beberapa sarang laba-laba yang menghalangi perjalanan, Agus sudah bisa menebak monster apa yang akan muncul. Tarantula dengan ukuran yang tidak biasa itu kini saling memakan, Agus mengamati dari balik pepohonan. Hampir semua monster yang dia lihat didominasi oleh warna hitam.
Anak panah yang mengarah ke arahnya langsung ditepisnya dengan pedang, Agus melihat dengan seksama bahwa itu adalah Dark Elf yang jauh berbeda, kulit dengan warna yang sangat gelap dan iris berwarna biru, dia ingat seharusnya berwarna hijau. Agus mencoba berkomunikasi, namun tidak ada respon dari kedua ras Dark Elf tersebut. Keduanya langsung menghunus pedang untuk melawan Agus. Pertarungan sengit satu lawan dua. Tatapan mereka penuh kebencian tanpa ragu untuk membunuh, mereka tidak peduli dengan pertanyaan Agus tentang Lulu Aite.
"Aku akan membunuhmu Manusia!"
"Mati kau!"
"Sialan, aku sedang bukan untuk melawan kalian!" Agus terpojok, dia tidak punya pilihan selain membunuh salah satu dari mereka.
Benar-benar bermusuhan dan berniat membunuh, Dark Elf yang dilihatnya juga sangat berbeda. Agus mencoba mencari tahu lebih jauh. Dia hanya mengira ada sedikit perubahan fisik dari Dark Elf. Semakin jauh dia pergi, yang dia dapatkan hanyalah bahaya yang tak ada habisnya. Dia memutar lengan lawannya dengan paksa, dia ingin berkomunikasi untuk menyembuhkan perasaannya yang semakin tidak menentu. Fakta yang semakin mengingatkan bahwa dunia yang ia tinggali sekarang jelas jauh berbeda, Agus terduduk frustasi karena kelelahan.
"Apakah dunia sekarang berbeda dengan saat aku bersama Lulu..." Dia menabrak pohon di sebelah kanan.
Salah satu pimpinan penjaga perbatasan langsung menemui Agus, Dark Elf meminta agar semua yang dilakukan Agus sangat merugikan para Dark Elf yang tidak mencari permusuhan terlebih dahulu. Agus bertanya kepada pria itu tentang Dark Elf dengan nama belakang Aite. Pria itu menjelaskan bahwa baik Klan Aite maupun ras Dark Elf tidak memiliki nama seperti itu ditambah Dark Elf tidak mungkin berusia lebih dari 1000 tahun untuk seorang pemimpin desa mereka.
"Sial, aku mengerti, aku minta maaf atas apa yang telah kulakukan."
"Mengatakan maaf saja tidak cukup, kamu sudah membunuh banyak orang dari Klan Sanz.
Semakin banyak orang datang, Agus sudah terkepung tapi dia masih bisa melawan sambil kabur dari hutan. Dia ingat semua yang dikatakan lelaki itu, tidak ada yang memiliki nama belakang yang sama, desa yang pernah ada bahkan ciri-ciri yang disebutkan Agus. Sambil kabur dari kejaran, Agus membunuh banyak lawan untuk bertahan hidup, mereka tidak segan-segan melawan Agus sampai titik darah penghabisan. Hujan turun dengan derasnya, membasahi tubuhnya. Agus mengalami luka serius. Dia memegang tangan kanannya. "Kurasa aku mungkin akan bertemu dengannya lagi, atau keturunan Dark Elf yang kukenal." Agus tersenyum pahit, setidaknya dia tidak membunuh Dark Elf dengan ciri-ciri yang familiar baginya.
Dia bersembunyi untuk sembuh, dia meminum ramuan yang dia beli sebelum pergi, dia terharu sampai menangis. Sesuatu yang pernah dia jalani sebelumnya seperti mimpi, dia meratapi semua yang dia rasakan. Lulu Aite dan dia tidak akan pernah bertemu lagi. Menjalani hidup yang menjadi tujuan baginya, mengenai masa lalu ia tidak ingin mengingatnya lagi jika hidupnya begitu berbeda. Nasib sepertinya mempermainkannya terlalu jauh.
Saat sampai di Guild Mercenaries, Agus melaporkan semua yang terjadi mengenai adanya Dark Elf. Setalah pembicaraan yang panjang lebar dengan Guild Master, Agus memutuskan untuk pulang ke rumah. Dalam setengah bulan kedua orangtuanya begitu khawatir, mereka memeluk Agus yang datang dengan kondisi kehilangan arah. Tiara menghibur Agus yang sudah hampir seminggu mengurung diri di kamarnya. Agus sadar kalau tak seharusnya ia seperti ini tapi ia tidak bisa melupakan sudah hidup lama dengan istrinya, keinginan bertemu jelas lebih kuat dari apa pun sampai ia memiliki rencana yang matang.
"Kamu jangan seperti ini, kamu selalu kuat, kamu tidak seperti kakak yang kukenal!" Tiara marah.
“Kamu kecewa dengan kakak yang terpuruk seperti ini?”
"Kak, aku sebenarnya sudah menebak apa yang kamu cari dalam hidupmu, aku sangat mendukungmu tapi jujur aku khawatir kamu akan kecewa, aku ingin memberitahumu tapi aku tidak berani."
"Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, tujuan yang saya inginkan sia-sia."
"Kamu jangan berpikir seperti ini, lupakan apa yang membuatmu khawatir, jika kamu mengingat masa lalu, lebih baik kamu lupakan semua itu." Tiara membimbing Agus untuk menatap wajahnya.
Agus kembali menjalani kehidupannya seperti biasa, tak ada tujuan lain selain melakukan segalanya bersama keluarganya. Miranda dengan lembut menasihati Agus untuk memikirkan masa depan, Miranda tidak tahu apa yang membebani Agus tapi Miranda sangat ingin Agus seperti dulu. Jack menepuk bahu Agus sambil meminta Agus mencari kebahagiaan untuk masa depan membentuk keluarga dengan wanita yang disukai Agus. Tiara tidak menyangka ayah dan ibunya menyarankan Agus untuk segera menikah, Agus tersenyum dan memilih untuk memikirkan permintaan tersebut.
“Alangkah baiknya jika menikah di usia yang minim, akan memiliki banyak kesempatan untuk memiliki banyak keturunan,” ujar Jack.
Tiara merasa sangat gugup. Menurutnya, menikah terlalu cepat memang tidak baik. Miranda tersenyum, karena Agus adalah laki-laki maka wajar jika cepat menikah. Agus angkat bicara, dia akan mencari wanita yang sangat disukainya, dia tidak mau karena perjodohan.
“Maksudmu, kamu ingin mencari wanitamu sendiri untuk dijadikan istri, Nak?” Miranda bertanya dengan bersemangat.
"Ibu benar, aku akan menemukan wanita yang benar-benar cocok untukku."
“Kalau itu kamu pasti banyak orang yang mengantre untukmu, Nak,” kata Jack tiba-tiba. Agus tersenyum ketika orang tuanya banyak bertanya tentang tipe wanita yang disukai Agus.