AGUS

AGUS
Harit Setiawan



Dua kehidupan sebelumnya yang telah memuaskannya. Agus merasa lebih baik diakhiri, terjerumus ke dalam jurang maut, pikirannya berubah ketika melihat seorang wanita yang kini tertidur lelap, Agus merasa risih sambil membelai rambutnya. Sikap tak menentu inilah yang selalu membuatnya ingin lari, meski sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Tubuhnya mungkin tidak bisa mengambil sesuatu yang rumit dan membuatnya tampak jauh lebih rendah dari biasanya. Agus bangun tengah malam untuk jogging dan menghangatkan badan agar tidak melemah. Ada dua orang laki-laki yang sedang mabuk di taman tempat latihan, Agus menyuruh mereka segera pergi.


"Kenapa mereka malah minum di sini," gumam Agus.


Pria itu kembali dengan lima temannya. Agus tidak takut jika harus melawan tujuh orang sekaligus, ia malah mencoba menghasut mereka untuk menyerang sekaligus. Semua serangan para remaja itu mudah dihindari Agus, ia bisa melihat pergerakan secara terbuka, ia melakukan serangan balik ke arah titik-titik vital setiap orang yang melayangkan tinju dan tendangan ke arahnya. Ada yang sangat kesakitan meski lututnya membentur kepala Agus, kepala itu sekeras beton. Tendangan yang diblok oleh siku, Agus menatap tajam ke arah pemimpin remaja, pemimpin mereka semua berlutut untuk meminta maaf. Agus memukul wajah mereka satu per satu hingga babak belur, Agus selesai dan meninggalkan taman.


Saat Agus pulang waktu pagi hari, di depan pintu apartemen ada seorang laki-laki yang tak lain adalah Limus, dia ingin menemui Agus untuk mengajaknya pergi. Limus dan Lina berbicara satu sama lain, pembicaraannya hanya tentang pekerjaan sebagai bodyguard, dan alasannya adalah karena mereka memiliki partner di tim yang sama. Lina memperhatikan dengan cemas namun disambut dengan senyuman hangat dari Agus sehingga Lina bisa tersenyum untuk melupakan kejadian tadi malam. Mereka sarapan bersama, banyak tawa yang mengalir seperti air, Agus kagum dengan kemampuan Limus menutupi kenyataan.


"Kalian masih pacaran dan tinggal di satu apartemen?" tanya Limus.


"Begitulah, tapi itu karena aku memaksanya," jawab Lina.


Pria itu menyindir iri, dia melakukannya dengan lelucon yang menggoda Agus dengan kehidupan oleh wanita cantik. Banyak pria yang ingin seperti Agus, menjadi seseorang yang menikmati hidup dengan wanita yang baik hati dan tidak pelit serta materialistis seperti kebanyakan wanita. Limus berjanji akan menjaga Agus selama dia bekerja, dia juga meminta nomor agar mereka bisa saling berkomunikasi. Lina melihat Agus yang membalasnya dengan senyuman, Lina pun memberikan nomor teleponnya kepada Limus. Saat berangkat kerja, Limus menyenggol Agus dengan lembut. Lagi-lagi, Limus mengungkapkan betapa beruntungnya Agus mendapatkan keuntungan yang didambakan banyak pria.


Agus tidak mau lagi membicarakan pacarnya, dia ingin lebih fokus pada cita-citanya. Limus membuka mulutnya lagi untuk menyarankan agar Agus berhenti dari pekerjaannya sebelum dia tidak bisa melarikan diri lagi. Agus pun memikirkannya namun tetap teguh bahwa ia hanya bisa bekerja dengan kemampuan fisiknya dalam adu jotos. Pesan dari Martin Lut, Limus juga mendapat informasi tentang target selanjutnya, seseorang yang memiliki bisnis ilegal. Harit Setiawan adalah sasaran selanjutnya, Agus mengingat ada yang akrab dengan nama ayah Lina Setiawan. Seorang pengusaha terkenal dengan barang haram menghalalkan segala cara yang bisa Agus baca dari informasi yang didapatnya, Agus berniat mengusut lebih lanjut.


"Akan jadi masalah jika yang kamu pikirkan benar," kata Limus.


"..."


Agus akan bertindak sendiri dengan menyamar sebagai pekerja baru sebagai bodyguard keluarga Setiawan. Lina yang Agus kenal cukup banyak bermasalah dengan ayahnya sendiri. Agus tidak mendapat restu dari calon mertuanya. Harit Setiawan langsung terdiam setelah membaca lamaran kerja Agus. Harit tak menolak, ia bahkan ingin mengetahui kemampuan pria yang disukai putrinya itu. Tes yang diajukan tidak mudah karena tes lanjutan Agus harus berhadapan dengan senior-senior yang ahli. Di tempat lain Lina sangat terkejut mendengar kabar dari ayahnya.


"Ayah tolong jangan mempersulit dia!" Lina dengan panik saat menjawab telepon dari ayahnya.


"Akan kulakukan saat kau pulang," jawab Harit pada Lina.


"Jika kamu terus seperti ini, aku bisa memecatmu!"


"Jika Anda ingin memecat saya, saya tidak peduli karena keluarga saya lebih penting!"


"Lina, biarkan aku mengantarmu!"


"Aku bisa pulang sendiri, Rangga, terima kasih sudah banyak membantuku."


Rangga memegang lengan Lina. "Aku akan mengantarmu, kamu jangan pulang sendirian karena berbahaya, rumahmu juga sangat jauh."


Pertemuan Agus dan Harit untuk pertama kalinya menjadi sangat berbeda dari pertemuan calon mertua dan menantu, tidak ada tatapan mata yang hangat saling mengerti. Agus bisa mengalahkan tiga orang berjas hitam, Harit tersenyum dengan banyak maksud tidak hanya merendahkan. Harit ingin bicara dengan Agus secara pribadi, Harit berharap kalau akan putus dengan Lina, tetapi Agus menolaknya dengan tegas seolah-olah ia bisa menanggung beban hidup untuk Lina. Harit Setiawan terdiam, ia pun memberitahukan kalau Lina akan datang. Agus ikut pulang bersama Harit Setiawan yang menutup Agus ke rumah mewah.


"Aku selalu tidak mengerti yang Lina suka darimu yang hanya anak biasa saja," kata Harit.


"Karena kami saling mencintai," gumam Agus yang menjawab.


Terlihat sangat jelas bahwa ada banyak perbedaan antara dia dan Lina. Agus tidak mencari alasan untuk menghindari fakta tersebut. Harit Setiawan menegaskan Lina Setiawan sudah memiliki tunangan yang dipilih Harit. Tunangan itu tidak jauh berbeda dengan mereka, sama status dan kekayaannya. Agus merasakan sensasi dipermalukan, ia mencoba bersabar dan mengikuti adat di keluarga Setiawan. Malam harinya, Lina datang khawatir saat Agus sedang beristirahat di kamarnya. Lina mendapatkan ceramah dan memilih orang yang cocok sebagai calon suami Lina.


"Rangga Nou telah banyak membantu keluarga kita, kamu harus menyadari betapa dia menginginkanmu."


Harit tak menghalangi Lina ingin bertemu Agus. Lama mereka berdua saling berpandangan, raut khawatir di wajah Lina hanya dijawab dengan senyuman oleh Agus. Sang tunangan yang disebut-sebut bukan orang yang disukai Lina meyakinkan Agus untuk tidak meninggalkannya. Agus pun menjawab tidak akan mengambil tindakan dengan pikiran pendek. Agus berencana selain meluruskan hubungan mereka, Agus akan menuntaskan tugasnya mendapatkan informasi buruk tentang Harit Setiawan. Saat makan malam Lina meyakinkan ayahnya bahwa Lina akan tetap bersama Agus walaupun Agus sendiri adalah orang biasa, namun Lina sangat menyayanginya.


"Kau tetap saja bodoh, padahal kau anak yang berpendidikan tinggi." Harit Setiawan menyindir putrinya sendiri.