AGUS

AGUS
Rasa Penasaran



Suasana yang lebih ramai saat masuk dalam Kerajaan Loa, Agus melihat sekitar dengan pandangan matanya yang penuh kesan. Banyak ras lain yang disebut Beastkin, mereka mendapatkan perlakuan buruk yang sering dikatakan orang sebagai perbudakan. Mereka tidak menyembunyikan apa pun tidak seperti Kerajaan Folion, yang masih menyembunyikan budak agar tidak terlalu mencolok di setiap jalan. Agus memalingkan muka dengan berat hati, ia lebih memikirkan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. "Ahh! Sakit! Maaf!" Suara pedih semakin didengar Agus semakin tak tahan.


“Tempat ini lebih mewah tapi perlakuan terhadap budak lebih sadis,” gumam seorang pria.


"Jangan asal bicara, setiap tempat beda-beda," kata pria lainnya.


Ada seorang anak laki-laki yang mengemis, dia meminta sedikit uang atau roti. Anak laki-laki itu terlihat sangat kotor dengan pakaian yang begitu buruk. Agus memberikan 2 koin Bronze, ia juga tidak memberikan uang banyak untuk kebaikan bocah itu agar tidak mendapat masalah dari orang-orang yang berniat buruk. Ada yang menasihati Agus agar tidak terlalu baik di tempat asing. Agus menilai, sesuatu yang diberikannya hanya bisa membeli dua potong roti. Sesampainya di gudang tujuan, mereka menurunkan barang di sana. Agus membantu, dia bukan orang yang bertangan besi, rekan-rekannya juga berinisiatif melakukannya juga.


"Sungguh, kamu selalu terkenal baik hati," kata salah satu Mercenary.


"Haha, aku sedikit membantu untuk menyelesaikan lebih cepat."


Mereka beristirahat di salah satu penginapan termurah, Agus tidak keberatan, selama dia bisa istirahat dia akan baik-baik saja. Dia hanya mengaku setara. Dia melihat suasana kota saat malam hari, pandangan tertuju ke suatu Istana. Agus tersenyum pahit jika ia membandingkan orang biasa dan orang kaya. Kereta kuda dengan gerbong yang terlihat memukau, Agus yakin adanya bangsawan yang akan menghadirkan pesta, ia hanya menebaknya.


"Apa yang sedang Anda lamunkan, Bos?"


"Kamu jangan panggil aku begitu, aku sedang jadi Mercenary sekarang." Agus bersandar sambil berbicara dengan salah satu Mercenary.


Agus berharap bisa berpetualang, suara merdu layaknya senandung wanita seketika mengubah mood Agus. Dia mengenang istrinya, Agus mendapat tepukan di bahu, dan seseorang meminta Agus untuk istirahat. Keesokan paginya semua orang kembali ke Kerajaan Folion. Meninggalkan tempat suram itu dengan perasaan lega, Agus berharap dalam doanya suatu saat nanti ada yang bisa mengubah keadaan Kerajaan Loa. Agus melihat misi yang terpampang di Request Board. Sementara itu berburu akan lebih baik baginya, dia tidak ingin ikut serta dalam mengawal barang-barang yang tidak memberinya lebih banyak keuntungan.


"Apakah kamu ingin pergi sendiri?" tanya Nona Resepsionis.


"Ya, aku lebih suka sendirian karena aku hanya berburu monster yang lemah."


Banyak yang berharap Agus didampingi oleh yang lebih senior, Agus menolak dengan sopan dengan alasan mencari pengalaman. Agus sedang mencari seseorang yang akan membawanya ke hutan, Agus membayar sebanyak 50 Bronze. Agus melawan monster secara sembunyi-sembunyi. Dia melawan mereka dengan cara yang aman untuk tidak membahayakan dirinya sendiri.


Dia seperti orang bodoh saat tersenyum sambil memandang bintang-bintang di langit, Agus menutupi wajahnya dengan satu tangan, ia butuh waktu begitu lama. Dua hari menelusuri di hutan, dia berburu kelinci, mengumpulkan semua tanduknya. Agus pulang dengan sambutan yang hangat, namun raut wajahnya terlihat sangat sedih. Suara ketukan pintu saat Agus hendak tidur membuat Agus membuka pintu, seorang gadis remaja tanggung berambut hijau bernama Tiara langsung memeluk Agus.


"Kenapa kau tiba-tiba memelukku?"


"Aku merindukan kakakku yang selalu sibuk."


"Apakah kamu merasa kesepian ditinggalkan oleh kakakmu?"


Tiara duduk di tempat tidur. "Jujur aku kesepian."


"Terima kasih telah menjadi adik yang baik selalu membantu orang tua kita."


Tiara mendekat, dia menatapnya dengan serius. "Kapan kamu pergi lagi?"


"Kamu tahu bahwa ayah dan ibu sebenarnya sedih, mereka sangat mengkhawatirkanmu."


"Aku bingung Tiara, aku tidak tahu harus berbuat apa, jika aku ingin melanjutkan keinginan secara pribadi, aku khawatir tentang waktu yang dihabiskan."


Tiara berbaring, dia memejamkan mata mencari solusi tetapi tidak menemukannya. Agus ikut berbaring, ingin tertawa dengan sikap kekanak-kanakan dan kurang tegas. Dia ingin mencari keberadaan Lulu, apakah dia masih ada atau tidak, dia akan sangat bodoh jika yang dia cari tidak ada. Agus hanya diam saja saat adiknya memeluknya saat tidur. Agus membelai rambut Tiara sambil tersenyum.


Agus mulai bertanya tentang Dark Elf terdekat. Semua orang tidak mau menjawab karena mereka tidak ingin berurusan dengan ras yang memiliki akal sehat seperti manusia. Seorang pria berambut biru bernama Koen mendekati Agus. Pria itu menceritakan bahwa ada sebuah desa yang dihuni oleh Dark Elf.


Lelaki itu bisa mengantar Agus ke tempat tujuannya, tapi lelaki itu tidak berani melewati batas. Dark Elf sulit diyakinkan, Agus membayangkan sesuatu yang berbahaya. Koen menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu nama pemimpin para Dark Elf. Agus yang penasaran ingin pergi memastikan semua yang ada di pikirannya.


"Aku sudah memberitahumu, apakah ada hadiah yang pantas untukku?"


"Berapa banyak yang kamu inginkan?"


"Untuk harga seorang teman, kamu bisa memberiku 50 Bronze."


"Terlalu mahal untuk harga seorang teman," gumam Agus.


"Tidak mahal, menurutku terlalu murah, kamu sangat butuh informasi Dark Elf."


"Aku rasa seperti kena tipu," gumam Agus.


Koen memberikan peta yang memiliki lingkaran merah di atasnya. Agus menatap serius lingkaran merah di peta. Sebagai orang bijak, pria itu meyakinkan Agus bahwa sebaiknya jangan terlalu terbawa suasana untuk memasuki wilayah Dark Elf lebih jauh, itu sangat berbahaya.


"Ayah, aku akan pergi untuk waktu yang lama."


"Mau kemana, Nak?"


"Aku mau pergi ke suatu tempat," kata Agus, berusaha tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa tempat yang ditujunya berbahaya. Dia sudah berlatih sejak kecil, ia yakin bisa mengatasinya. Agus pun langsung memikirkan secara rinci saat-saat akan pergi.


"Kakak, kamu harus selalu waspada ya?"


"Aku akan selalu waspada, jika yang kuinginkan sudah tercapai aku akan langsung pulang."


Nona Resepsionis melaporkan yang Agus ingin lakukan, Guild Master mengizinkan jika Agus bersungguh-sungguh. Dan akan sangat bagus jika Agus bisa mengetahui lebih lanjut kebenaran adanya Dark Elf di hutan tersebut. Koen hanya melambaikan tangan, ia tidak ikut dengan Agus begitu juga yang lain. Agus tidak punya niatan berpamitan kepada Jarvis dan Hilma, Agus tidak ingin membuat kedua orang itu khawatir. Tidak ada transportasi yang berani ke hutan tersebut, Agus berjalan kaki pergi ke hutan itu.


"Kalau dipikir-pikir, aku seperti orang aneh yang terlalu bucin dengan istriku," kata Agus, ia menertawakan diri sendiri.