AGUS

AGUS
Marika La Brisa



Johnson memberikan informasi tentang orang bawah tanah, Agus membacanya dan menilai mereka tidak jauh dari seorang gangster. Suatu yang mengejutkan adalah tentang Agus yang meminta sesuatu yang tidak perlu dikerjakan. Agus hanya ingin tidak terlalu menjadi lemah dan melakukan yang memang ia bisa. Dia perlu membersihkan suatu yang kotor di dunia ini untuk lebih baik dan tidak jadi halangan di masa depan. Suara langkah kaki Johnson terhenti waktu Agus ingin pergi ke suatu tempat, Johnson dilarang untuk ikut bersamanya.


"Anda akan pergi kemana?!"


"Tempat yang menyenangkan untukku," jawab Agus.


"Kalau begitu saya akan menjaga Nona."


"Tolong jaga dia dengan baik, jika ada apa-apa hubungi aku secepatnya."


Ada lingkungan yang penuh dengan orang-orang jahat, mereka punya pemimpin bernama Clodoveo. Agus mencari informasi lebih lengkap dari orang-orang yang melakukan tindakan kriminal, orang yang suka berbuat kejahatan di malam hari. Klub Malam adalah tempat yang paling cocok untuk bergabung dalam tindakan yang buruk, Agus mendapatkan suatu ide seperti menjadi berandal seperti dalam film yang pernah ia tonton. Dia kembali kebiasaan lamanya, ia membelikan sebungkus rokok. Klub Malam yang begitu bising, ia tertegun melihat para wanita sungguh menarik dengan penuh semangat.


"Apa yang ingin Anda pesan?"


"Yang tidak beralkohol," jawab Agus.


Bartender menyiapkan kopi, Agus langsung mengiyakan. Ada beberapa orang yang tertawa kecil dengan pesanan Agus yang begitu memalukan. Tidak lama kemudian ada wanita yang duduk disebelah Agus. Wanita pirang— mata biru itu berpenampilan sangat seksi, ia merokok dengan tenang dan menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Aku baru pertama kali melihatmu," katanya.


"Aku baru pertama kali datang ke sini," jawab Agus.


"Apakah kau mencari seseorang yang bisa menghiburmu, aku punya banyak pengalaman," katanya.


"Ah, aku tidak mencari itu."


"Mmh, jadi apa yang kamu cari di sini?"


"Seperti kita harus bicara berdua," kata Agus.


"Oh, baiklah, kita cari tempat terlebih dahulu."


Mereka memesan tempat yang bagus untuk bicara berdua, wanita itu memilih hotel sebagai tempat yang paling cocok. Agus tanpa banyak pikir, ia langsung pada intinya. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur, ia menyulut rokok. Nama yang sangat terkenal membuat wanita itu diam sejenak dan menghela napas.


"Kau lebih baik tidak mencarinya," katanya.


"Aku harus mencari dia untuk mendapatkan yang kuinginkan."


"Dia itu sangat berbahaya—, sapa namamu, kau belum menyebutkan namamu." Wanita itu tersenyum.


"Namaku Agus."


"Namaku Marika La Brisa," kata Marika.


"Namamu seperti seorang bangsawan."


"Terima kasih atas pujiannya."


"Kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku pergi."


"Hei, kau pergi begitu saja?!"


Marika akan memberitahu kalau dia mendapatkan imbalan yang layak, karena sangat berbahaya jika ia tetap tinggal di satu tempat kalau-kalau dia dalam bahaya. Agus bertanya dengan jumlah imbalan yang harus di bayarkan—, 50 juta yang Marika minta.


"Sayang, kamu pasti sudah siap untuk informasi letak orang itu, jangan bilang kamu tidak punya uang." Marika tersenyum.


"Aku tidak punya uang," kata Agus, ia hanya punya uang sebesar 1 juta.


"Miskin sekali," kata Marika, ia beranjak dari duduknya. "Bagaimana kalau kau membayarnya dengan tubuhmu?"


"Hah?"


"Jangan salah paham, tidak jauh dari sini ada pertarungan dengan taruhan yang besar jika kau bisa menang aku bisa dapat banyak uang dan sudah cukup karena aku juga dapat hiburan."


Agus ikut dengan Marika untuk bertemu dengan seseorang, cara bicara Marika begitu menggoda dengan nada suara yang memancing gairah seorang pria. Marika ditawari untuk datang ke rumah orang itu, Marika hanya tertawa, ia akan memikirkan tawaran yang pria itu berikan. Agus bisa menilai Marika wanita yang seperti apa, bukan hanya wanita licik dan berani, dia wanita yang tidak punya suatu yang harus dijaga sebagai seorang wanita.


"Kau yakin kalau pria itu bisa berkelahi?"


"Aku sangat yakin, Sayangku sangat kuat," jawab Marika.


Agus jadi ingat dengan Arena Macan, tempat yang tak jauh berbeda tapi di sini tidak ada peringkat, langsung bertarung dengan membawa petarung yang kuat untuk menjadi alat taruhan. Marika menyulut rokok, ia melihat Agus yang sudah memasuki arena yang dikelilingi terali besi. Suara sorak-sorai semua orang memanaskan suasana.


"Seorang pendatang baru akan melawan sang juara! Host berteriak memberitahukan semuanya.


"Pria yang nekad, dia akan pingsan sekali pukul."


"Ah, akan menarik kalau dia jadi babak-belur," gumam Marika.


"Hah, kenapa kau malah bicara begitu? Wanita yang gila kau masih suka melihat seseorang hancur lebur jadi bubur."


"Mmmh, sangat menggairahkan, kan?" Marika gigit jari telunjuk.


Saat pertarungan dimulai, Agus hanya bertahan, ia ingin mengukur kekuatan lawan. Orang bernama Max itu punya badan kekar, tinggi dua meter. Agus menghindar dengan terampil sampai ia terpojok. Seorang pria yang berada di ruangan VIP, ia melihat pertarungan dari layar monitor. Pria itu adalah Clodoveo, orang yang Agus cari. Clodoveo tertarik dengan cara Agus bertarung seperti bermain-main dengan lawannya. Seorang pria menunjukkan website yang ada informasi tentang Agus Nugroho, yang sekarang sebagai Agus Setiawan.


"Dia yang pernah menaklukkan Arena Macan?"


"Dia sangat kuat, Anda bisa lihat dari cara ia bertarung di video yang kita miliki."


"Mmh," gumam Clodoveo.


Semua orang saling meningkatkan taruhan sampai ke jumlah 80 juta total dari semua taruhan. Semua yang bertaruh untuk Max, mereka khawatir karena Max butuh banyak waktu untuk mengalahkan Agus. Layar yang menunjukkan nilai yang dipertaruhkan, Agus tersenyum dan langsung menendang leher sisi kiri Max, ia terjatuh dalam sekali serang.


"Apa kau cuma bisa menghindar!" Max emosi.


"Bukannya aku sudah menendang lehermu barusan," kata Agus yang meremehkan.


Max menyerang secara gila-gilaan, ia tidak percaya semua tinjunya bisa ditahan oleh tangan Agus. Badan yang jauh lebih kecil itu begitu kuat dan keras, Max merasa kalau lawannya adalah orang yang tidak normal. Max penasaran dengan latihan Agus yang bisa menentukan gerakan dan memiliki kekuatan yang hebat. Agus memiliki kuda-kuda seperti boxing tapi serangan yang Agus gunakan bukanlah boxing. Max berusaha akan menerjang Agus dan membantingnya, tapi usaha yang Max lakukan gagal saat punggung mendapatkan pukulan dari Agus.


"Kuh!" Max terkapar, tengkurap di lantai.


"Aku tidak menggunakan kekuatan, kau tidak mungkin kalah dengan begitu mudah, taruhan perlu dinaikkan," kata Agus dengan sombong untuk membakar emosi Max.


Max yang terbakar emosi, ia langsung melesatkan tinju ke sisi kiri wajah Agus. Dengan cepat Max menangkap kepada Agus, dan memeluk wajah Agus dengan lutut.


"Hahaha!" Max tertawa puas karena ia berhasil memberikan serangan yang brutal.