AGUS

AGUS
Nilai Seorang Agus Nugroho



Martin Lut memberikan tugas kepada Limus, pilihan yang sulit tapi ini sudah menjadi tugasnya Limus. Sebagai seorang yang tidak jauh dari tempat memberikan pilihan yang sulit. Limus pun tidak ragu-ragu menemui Agus, WA berdering memberitahukan kalau Limus ingin bertemu Agus. Di tempat sebuah Kafe yang tidak jauh dari kediaman Keluarga Setiawan, Agus dan Limus bertemu dalam percakapan.


"Kenapa kamu lebih memilih mereka?" tanya Limus.


"Mungkin karena aku lebih memilih jalan pemikiran Tuan Harit daripada Martin Lut."


"Aku tak yakin, kupikir kamu seperti ini karena pria itu adalah ayah dari kekasihmu."


"Mmm, aku tidak berpikir sependek itu," jawab Agus.


"Apa kamu tahu alasan aku ingin bertemu denganmu?"


"Aku tahu, pasti kau datang untuk menyelesaikan pekerjaan, aku tidak ingin menyakiti kau Limus."


"Jangan bicara seakan aku yang akan berakhir melawanmu, seharusnya kamu yang berhati-hati, aku adalah senior kamu Agus."


"Biarpun kamu senior, aku lebih unggul darimu, kau pasti sadarkan?"


"Tentu," jawab Limus.


Mereka akan menyelesaikan di tempat yang sepi, gang yang sunyi adalah tempat yang pas untuk mereka berduel sampai akhir. Limus tahu diri akan kalah tapi jika dia tidak menyelesaikan sampai tuntas sudah sama saja ia mengkhianati Martin Lut. Dengan gerakan kaki kanan yang terarah ke leher Agus, yang langsung dapat ditahan oleh tangan sudah jadi tolak ukur.


Taekwondo adalah seni beladiri yang Limus gunakan. Pergerakan kaki yang cepat silih berganti untuk menyerang Agus yang mampu menghindarinya. Agus yang hanya punya cara berkelahi secara acak tidak mengarah pada kiblat seni beladiri tertentu banyak membingungkan Limus yang ingin menebak serang Agus selanjutnya. Senyuman itu seakan-akan mengejek dan mengikuti tempo serangan Limus yang tiada henti. Kaki dengan gerakan menipu mampu mengenai Agus yang dengan aneh masih bisa menepisnya. Limus dengan banyak pengalaman, ia bertanya-tanya bagaimana semua itu terjadi, pria yang bisa menentukan gerakan lawan adalah monster yang sulit untuk diatasi.


"Padahal kau berkelahi seperti preman," kata Limus.


"Kalau begitu terus bukannya kau akan kelelahan dan gagal dengan tugas—, membunuhku?"


Agus lebih memilih bertahan, ia bisa sekuat itu juga dengan bantuan penguatan tubuh dari energi 'Mana' yang sudah ia latihan sejak ia ke dunia ini. Agus menepis kaki kanan Limus dengan kaki kirinya. Irama pertarungan berubah saat Limus menggunakan gerakan yang tidak asing dari salah satu tokoh legendaris. Jeet Kune Do— seni beladiri yang kuat dalam tinju dan gerakan kaki, serangan yang mematikan dari tinju yang melesat langsung Agus tepis.


"Kau orang pertama yang bisa menahan tinjuku," kata Limus.


"Gerakan yang hebat, aku baru tahu kalau dunia ini punya seni beladiri mirip Bruce Lee..."


Jika Agus hanya orang biasa tanpa pengalaman kehidupan sebelumnya, dan bantuan energi yang ia kumpulkan akan bahaya besar baginya yang akan langsung tumbang dalam satu pukulan. Dalam saling melancarkan tinju bersama, mereka berdua tersentak dan dengan akhir kekalahan Limus oleh kesakitan tangan kanannya.


"Kita berhenti sampai sini saja, Limus."


"Kau lebih baik membunuhku saja daripada aku dibunuh oleh dia."


"Aku tidak perlu membunuh kau Limus, kau masih banyak kesempatan untuk hidup, lebih baik kau ikut aku saja."


"Meski aku ingin, aku tidak akan bisa melakukannya, aku akan pergi."


"Apa kau akan kembali padanya?"


"Kalau kau bisa mengalahkan dia, aku jadi berharap banyak padamu," katanya.


Harit Setiawan pun menceritakan mengenai asal-usul keluarga yang begitu kuat di masa lalu. Seni Beladiri— itulah yang dibicarakan setelah banyak membicarakan kekurangan Agus yang punya pendidikan rendah. Lina bisa menutup kekurangan Agus yang akan jadi menarik, Harit Setiawan tertawa dengan cara yang begitu heboh.


"Aku tidak setuju kalau Anda melibatkan Lina," kata Agus dengan tegas.


"Ho, kau tidak ingin bantuan dari putriku," gumam Harit.


"Nak, kau bisa saja jadi calon menantu kalau kau menuruti semua yang kuinginkan."


"Aku bukan alat yang bisa Anda gunakan, Tuan Harit Setiawan."


"Hmm," sahut Harit Setiawan yang tidak peduli oleh perkataan Agus.


Malam harinya keadaan Limus sangat mengawatirkan, ia mendapatkan hukuman dari Martin Lut karena Limus gagal untuk membunuh Agus Nugroho. Martin Lut pun membuat rencana lain untuk menyuruh seseorang membunuh Agus. Suara yang serak dari Limus menekankan akan sangat sulit membunuh Agus, bagaimanapun caranya pasti Agus bisa menghindari pembunuhan yang ditujukan padanya.


"Ternyata kau juga bodoh sampai tidak punya niat melakukan cara apa pun untuk membunuhnya."


"..." Limus tersenyum, dan berakhir dengan dahinya yang tertembus peluru.


"Dia yang paling unggul tapi cacatnya dia terlalu baik," kata seorang pria.


"Sekarang giliran kau membunuhnya," kata Martin Lut dengan amarahnya yang tertahan.


Dalam nilai uang yang sangat tinggi dengan target yang harus dibunuh adalah Agus Nugroho. Nicolas Hadin membaca tertulis di website resmi. Nicolas Hadin menyindir dengan kebodohan Martin Lut yang memberikan tugas yang menjadi bumerang untuknya sendiri. Agus jadi mendapatkan cap seorang penghianat yang tanpa pandang bulu.


"Sekarang kau mau kita berkerja sama untuk membunuhnya, konyol sekali," kata Nicolas Hadin lewat telepon.


"Jika Harit Setiawan bisa mengikatnya akan sangat buruk bagi kita, bahkan yang lainnya juga akan kesusahan."


"Kupikir ia bisa berbaliknya melawanmu karena seorang wanita, bukan karena Harit Setiawan."


"Siapa yang menyangka kalau pria itu tipe takluk oleh wanita," gumam Martin Lut.


Semetara itu Rangga Nou sangat kecewa dengan keputusan Harit Setiawan yang lebih memilih Agus Nugroho. Rangga tidak ingin melepaskan keinginan ia yang mencoba menjadikan Lina Setiawan sebagai istrinya. Kekayaan yang dijanjikan tidak membuat Harit Setiawan berpikir ulang, awalnya memang benar itu tujuan yang baik.


"Anda dan ayah saya adalah teman dekat kenapa Anda seperti ini, ayah saya pasti akan kecewa pada Anda Tuan!"


"Ayahmu pasti tahu alasanku, lagipula aku sudah bicara padanya, dia setuju dengan keputusan yang kuambil."


"Apa?!" Rangga Nou tidak yakin kalau semua yang dikatakan oleh Harit Setiawan itu nyata.