AGUS

AGUS
Yuna Starly



Nicolas Hadin yang cemas tak punya pilihan lain kecuali meminta bantuan orang yang sedang dalam pembicaraan. Ken Otto menolak memberikan bantuan untuk Nicolas yang kini dilanda oleh frustasi. Suara yang keras dari Nicolas dalam telepon membuat Ken Otto tertawa puas karena baginya amat lucu untuk orang yang punya nama begitu ketakutan.


"Luar biasa untukmu jadi seorang pengecut." Ken.


"Kau tidak tahu kalau dia sangat mengerikan, dia bukan manusia normal, tidak ada orang yang sampai berani menghabis banyak orang saat berkelahi!" Nicolas.


"Sehebat apa pun dia akan musnah jika aku melakukannya dengan sangat baik, bukan?" Ken.


"Kau pasti akan bicara berbeda setelah menghadapinya." Nicolas.


Nicolas punya orang yang terampil dengan senjata, rumahnya telah aman dari serangan dari orang yang membuat kekacauan pada Martin Lut. Agus hanya manusia di mata Ken Otto, orang yang seperti Agus bisa dihadapi sangat mudah dalam sekali tembakan. Hujan di tengah malam yang membuatnya banyak berpikir seorang wanita, ia jadi ingat melakukan suatu yang nikmat saat memikirkan wanita tersebut. Suara wanita dari telepon, Ken tersenyum saat mendengarkan semua yang dibicarakan.


"Aku akan menemuimu." Ken Otto.


"Selama kamu tidak menyusahkan aku, aku akan menyetujuinya." Suara seorang wanita.


"Aku tidak akan menyusahkan kamu jika jadi penurut." Ken Otto.


"Tepati janjimu..."


"Aku janji," jawab Ken.


Hotel Bintang Lima—BlueMoon...


Wanita rambut putih dengan iris mata hijau, ia sangat cemas saat datang. Dia hanya ingin menghindari masalah yang lebih serius yang dilakukan Ken Otto. Wanita itu bernama Yuna Starly, wanita yang berstatus Artis. Dia bisa tidak bisa melakukan suatu yang akan melawan Ken, wanita itu sadar jika ia melakukan hal yang sama untuk berulang kali, kenalan dan dia yang akan jadi sasaran kekejaman Ken Otto.


"Kau sangat tepat waktu." Ken.


"Kalau melakukan cara yang licik untuk mengancam."


"Sudah lama aku ingin mencicipinya..." Ken Otto mendekati Yuna Starly.


"Mmm..." Yuna mengelak dari Ken.


Dia tidak memilih ke kamar mandi, untuk memikirkan hal semacam itu sangat membuatnya takut. Yuna Starly memang seorang artis, ia juga pandai berakting di depan kamera. Banyak kabar yang mengatakan kalau ia wanita yang tidak benar tapi semua itu hanya kabar palsu, ia wanita yang sangat polos namun pandai mengelabui banyak orang dari penampilan dan cara bicara, ia terlihat seperti wanita yang berpengalaman dengan banyak pria.


"Sejak tadi kau menghindarinya?"


"Aku merasa tidak nyaman, kamu terlalu terburu-buru." Yuna menjauhkan Ken Otto.


"Lepaskan semua." Ken.


"Bukannya terlalu cepat, apa tidak dengan yang santai dulu," kata Yuna, ia berusaha tidak terlihat gugup.


"Kau sangat banyak bicara." Ken Otto meremas rambut Yuna.


"Sakit!"


"Kalau kau masih ingin hidup tenang tanpa ada skandal palsu, dan semua yang kau kenal tetap hidup lebih baik kau ikuti semua ucapanku!"


"Aku tidak bodoh, kita buat perjanjian!"


Setelah semua ini selesai, aku tidak ada lagi hubungan denganmu," kata Yuna.


"Mudah, aku bahkan sudah membuat secara tertulis, kau baca saja."


Yuna melihat kertas di meja. "Aku baca dulu."


Dia membaca semuanya yang ia yakini asli, jika Ken melanggar perjanjian, ia akan mengalami banyak kerugian.


"Lebih baik kau cepat mandi," kata Ken.


"..." Yuna tak punya pilihan.


Dia tak ingin semua usaha yang ia lakukan selama ini jadi hancur karena seseorang, ia tak bisa lari dengan semua ini. Dia memang punya nama besar dan bahkan bisa menyuruh seseorang untuk melindungi dia tapi sejak ia bertemu dengan Ken Otto, orang yang melindungi berbalik tidak ingin berurusan dengan masalah yang Yuna Starly alami. Dia memilih jalan untuk melaporkan semuanya pasti untuk Ken Otto sangat mudah untuk membebaskan diri, ia akan membalas dendam dengan cara yang sangat kejam.


"Sial, untuk apa juga kau pakai handuk, hah?"


"..." Yuna Starly hanya diam tak menjawab, tubuhnya hanya terbalut oleh handuk.


Setelah semuanya selesai ia akan bisa melanjutkan hidupnya seperti biasanya, ia akan menjadi sosok yang sama seorang artis, tapi akan menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan tentang kejadian kali ini. Pria yang sungguh tak sabar bahkan tidak membersihkan diri terlebih dahulu. Yuna Starly mencegah agar semua yang terjadi tidak terburu-buru. Dan suara pintu terbuka dengan keras, mereka berdua menoleh, sosok seorang pria memakai jaket hitam, mulut tertutup oleh masker. Pria itu datang dang menghajar Ken Otto tanpa ragu-ragu. Yuna Starly hanya menutup mulutnya, ia tidak mencoba untuk melarang pria itu menghajar Ken Otto.


"Uhuk-uhuk..."


"..." Pria itu memaksa Ken Otto untuk bangun.


Ken yang pura-pura kalau ia kalah langsung menyerang dengan tinjunya, ia kalah karena serang yang mendadak, sekarang ia sangat yakin akan menghajar balik pria yang tak ia kenal ini. Tinjunya yang silih berganti mudah untuk dihindari, pria itu menghantam wajah Ken dengan lutut. Ken dengan terhuyung-huyung mencoba untuk tetap berdiri, serangan yang begitu keras dari orang yang pernah ia lawan. Ken Otto hampir pingsan saat dagunya mendapatkan tinju ke arah atas, jika suatu buruk yang terjadi, ia pasti mengigit lidahnya sendiri. Pria itu melihat ke arah Yuna Starly cukup lama, dan kembali fokus pada Ken yang terkapar.


"Dia hanya pingsan..."


"Tolong jangan bunuh aku..." Yuna Starly ketakutan.


"Aku tidak akan membunuhmu, aku hanya perlu membunuh orang ini."


"Jangan, jika kau melakukan aku akan dalam masalah!"


"Mmm ..." Pria itu berpikir, ia tak ada pilihan lain selain membawa Ken Otto.


Pria itu pergi tanpa mengatakan apa-apa, ia mengabaikan Yuna Starly yang kini bergegas pergi setelah memakai pakaiannya, ia bersyukur tidak dalam masalah dengan Ken Otto, orang yang jahat kini mendapatkan perlakuan yang sama dengan cara seperti ini semua telah berakhir, ia akan bebas seperti sebelumnya.


"Dia mirip Lulu..." Pria itu melepaskan maskernya, ia melihat Yuna pergi dengan terburu-buru.


Acara berita mengabarkan kalau Ken Otto menghilang dan tak ada kabar tentang keberadaannya. Orang-orang berpendapat kalau Ken juga mendapatkan balasan dari orang yang sama. Nicolas Hadin hanya diam, ia tak ingin membuat kegaduhan yang akan memancing Agus datang untuk menemuinya. Keluarga Otto sangat marah dan juga kelompok dari Elang Biru yang ada di Negara J.


"Kita harus membunuhnya!" kata seorang pria.


"Kalau kita melakukannya, kita kan berurusan dengan Keluarga Setiawan," kata pria lainnya.


"Apa kau takut dengannya, ini menyangkut dengan Keluargaku, dia putraku!" Ayah Ken Otto sangat marah.


"Kita harus menyusun rencana, dan memastikan kalau Agus yang melakukan," kata seorang pemimpin.