
Agus merasa dalam kehampaan yang begitu dalam perasaan sedih yang dirasakannya tidak akan pernah ada habisnya. Dia masih mengingat dirinya yang sebenarnya, dan tentang kenangan terakhirnya bersama Lulu dan Tina. Kota yang begitu luas saat dia melihat jalan-jalan yang dipenuhi orang, manusia ada di dunia tempat dia tinggal saat ini. "Ada manusia, dan tubuhku menjadi tubuh anak-anak?" Dia melihat tangannya sendiri dan sering menyentuh tubuhnya sendiri untuk memastikan. Kota kuno yang seperti dalam film klasik yang dia tonton di kehidupan sebelumnya— Bumi. "Kenapa jadi begini kalau aku mati aku harusnya di akhirat bukannya hidup lagi sebagai orang lain?" Agus tidak memahami suatu yang sangat lebih mustahil dari sebelumnya.
Dia berjalan menyusuri jalan seperti orang linglung, dia merasa sedih bercampur menjadi satu, selain bisa melihat manusia lagi, dia teringat lagi dengan Lulu Aite. Kepalanya sakit saat mengingat masa kecil yang dimilikinya. Ingatan tentang pemilik tubuh asli semakin menyebar ke seluruh tubuh, Agus tidak memiliki nama— pemilik tubuh asli hanyalah seorang yatim piatu tanpa nama, dia hanya seorang anak dari desa. Sekelompok orang dewasa mendekatinya dan memukulinya untuk menyuruhnya meminta uang. Dia berinisiatif mengikuti arus dan mencari informasi tentang tempat tinggalnya sekarang, dia penasaran karena tempat ini sangat jauh berbeda dengan saat dia bersama para Dark Elf.
Dia sedang duduk di dekat toko yang menjual roti, dia diusir karena mengganggu pandangan orang. Agus memilih untuk berdiri, dia melihat bahwa dia sedang diawasi, dia mencoba mengingat kenangan, tetapi dia tidak dapat mengingat dengan jelas. Huruf-huruf dan angka yang terpasang tidak jauh berbeda, dia bisa menyimpulkan bahwa dunia ini masih sama seperti sebelumnya. Dia tidak ingin berpikir terlalu banyak dan berlari untuk menghindari pengawasan orang dewasa yang mengambil keuntungan darinya. "Aku harus mencari tahu mengapa ada begitu banyak manusia, mengapa tidak ada manusia sebelumnya, dan sudah berapa lama waktu berlalu sejak kematianku." Agus berbelok ke sebuah gang jalan utama.
Agus terjatuh setelah menabrak seorang pria yang terlihat besar dengan tubuh kekarnya. Agus merasa dalam bahaya, dia tidak punya pilihan selain melawan jika pria itu ingin menghajarnya. Pria itu tersenyum ramah padanya, Agus terdiam sejenak dan menerima uluran tangan itu. Pria itu membantu Agus dengan sukarela, Agus menjawab semua yang dia minta, dia merendahkan suaranya seperti sedang meminta belas kasihan. Laki-laki tersebut mengajak Agus untuk ikut bersamanya ke rumahnya. Pria pirang tersebut hanya tinggal bersama istrinya dan tidak memiliki seorang anak padahal dari keluhannya laki-laki tersebut berusia 30 tahun.
"Miranda, aku pulang."
"Aku sudah menunggumu, suamiku." Perempuan bernama Miranda itu menatap Agus dengan seksama.
Agus sangat berterima kasih atas bantuan dari seorang pria bernama Jack. Rumah yang juga merupakan toko bunga, sesuatu yang nyaman untuk dilihatnya meskipun dia tidak tahu banyak tentang jenis bunga di dunia ini, tetapi terlihat sangat indah. Jack adalah seorang laki-laki yang bekerja di pabrik, ia hanya bekerja sebagai buruh memindahkan barang ke dalam kendaraan berupa kereta kuda. Agus mengaku hilang ingatan, hanya nama yang bisa diingatnya dengan jelas, bahkan hanya menyebut namanya sendiri sebagai, Agus Nugroho. Dia menggerakkan kedua tangannya, dia bukan bangsawan seperti yang diduga kedua suami-istri itu.
Kerajaan Folion tempat tinggal Agus sekarang, dia banyak bertanya seperti sihir dan sejenisnya. Jack cukup tahu bahwa sihir hanya dimiliki oleh orang-orang berbakat, misalnya para bangsawan. Agus mendengarkan semuanya, pikirnya seperti orang dewasa. Jack dan Miranda saling berpandangan, mereka berdua merasa bahwa Agus adalah anak yang dewasa tidak sesuai dengan usianya setiap kali berbicara. Tempat tinggal yang nyaman memiliki kamar kosong yang sebenarnya untuk calon anak mereka di masa depan, tetapi mimpi itu tidak menjadi kenyataan sampai sekarang, mereka hanya bisa menyerahkan semuanya pada takdir.
"Aku sudah bicara dengan istriku, dia setuju, kamu bisa tinggal di sini."
"Saya sangat berterima kasih, Tuan Jack."
Agus pergi mandi dan mengambil baju baru yang dibelikan Jack untuknya. Agus tidak menginginkan sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma, ia memilih banyak membantu Miranda dalam pekerjaannya. Di kamar seadanya dengan alas tidur yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, Agus menyempatkan diri bermeditasi untuk mengontrol aliran 'Mana' yang telah dipelajarinya. Aliran yang begitu samar dari segala penjuru, napas yang tenang untuk merasakan semua energi positif mengalir melalui udara. Pusat utama berada di bawah pusar, menurutnya tempat berkumpul tercepat adalah di bawah perut. Yang sekarang dan yang dulu memiliki perbedaan yang begitu besar.
"Kalau saja kita punya anak, mereka akan seperti kamu," kata Miranda.
"..." Jack terdiam beberapa saat, dia mengelus bahu Miranda.
Agus bisa memaklumi, dia juga belum punya anak saat masih bersama Lulu Aite. Agus sangat penasaran dengan keadaan istrinya. Dia ingat saat itu ia adalah manusia pertama yang dilihat oleh para Dark Elf, Agus yakin saat ini ia berada di dunia lain, atau telah melompat ke suatu waktu yang jauh di masa depan. Agus ingin bertanya tentang Dark Elf, tetapi dia tahu akan sangat aneh jika itu menjadi masalah, dia akan mencari informasi tentang Dark Elf terlebih dahulu dan kemudian menanyakannya.
"Aku akan mematikan lampunya, selama malam, Nak."
"Selamat malam, Nyonya Miranda."
"..." Miranda tersenyum, dan menutup pintu.
Agus menggunakan sihir bola api, dia berhasil dengan mudah, bola apinya tidak sebesar bola kaki, cukup seukuran bola tenis. Dia puas dan akan mengembangkannya. Di pagi hari terdengar suara familiar dari dapur, Miranda sedang sibuk membuat sarapan. Agus berinisiatif membantu, sebisa mungkin agar tidak terlihat berlebihan. Miranda mengulurkan tangannya untuk membelai rambut hitam Agus, tapi Miranda tidak melakukannya. Agus yang mengetahuinya langsung meminta Miranda untuk tidak meragukan apa yang ingin dilakukannya. Mata Miranda berkaca-kaca seperti mau menangis, senyum lembut Agus membuat Miranda tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Agus sangat menyayangkan keluarga yang baik ini, Agus bersembunyi dengan sikap kekanak-kanakan padahal itu memalukan bagi jiwanya yang sudah sangat tua.
"Kamu sangat menggemaskan, aku sangat ingin memiliki anak sepertimu." Miranda memeluk Agus.
"Mhh!" Agus terbenam dalam sesuatu yang lembut.