A Cracked Heart Is Healed

A Cracked Heart Is Healed
warisan



lusa nanti adalah tanggal yang di tentukan untuk melangsungkan acara pernikahan saga dan zena semua nampak sibuk menyiapkan keperluan muali dari dekorasi dan segala nya agar acara berjalan lancar dan sempurna


dan sekarang saga dan zena sedang berada di butik baju pengantin yang di pilihkan nenek merry. zena di suruh memilih tiga rancangan baju penganti juga saga yang turut setia menemani nya


"bagai mana kalo yang ini untuk resepsi" saga menunjuk gaun putih yang menampilkan pundak ala sabrina


" kalo menurut kamu bagus aku oke-oke aja"


"yang ini buat prewed" saga menunjuk gaun tanpa lengan berwarna baby pink yang tidak terlalu terang terkesan anggun dan cantik dengan bagian bawah yang rumit


"bagus aku juga suka" ungkap zena mengangguk-angguk


"perasaan dari tadi aku yang milih" ucap saga sambil tertawa ringan


"biarin, biar aku kan punya kamu" saga mengacak rambut zena gemas


"ini untuk acara pestanya" saga menunjuk dress merah yang bermodel sambrina namun simple dengan belahan sebatas lutut dan bordiran rumit yang nampak elegan untuk sang pemakai


"aku juga suka yang ini" ucap zena sambil melihat kearah saga


"suka aku tau bajunya?" goda saga pada zena dan langsung di hadiahi injakan kaki "aww... iya-iya enggak maaf" ucap saga dan zena menarik kakinya lagi saga tertawa berhasil membuat wanitanya itu tersenyum


tak jauh dari sama juga nathan, nala dan viona sedang melihat model-model dress viona nampak memilih dress bersama nathan yang setia mengikutinya sedang kan nala asik sendiri memilih dress untuk ia coba


"bagusan yang ini atau yang ini?, buat acara resepsi?" yang satu adalah dress dengan panjang semata kaki juga tangan hingga sikut dan satu lagi dress bermodel sabrina yang lebih simple dengan panjang di bawah lutut


"yang ini lebih bagus?" ucap nathan menunjuk dress pilihan kedua yang lebih simple


"kenapa pilih ini dan apa alasannya?"


"yang pilihan pertama itu menurutku terlalu ribet kamu sudah cantik jadi yang simple ini membuat kencantikan mu bertambah" ungkap nathan


sebuah ketukan tangan di belakang kepala nathan membuat nathan menoleh kebelakang


"jangan terlalu memujinya" ucap nala dengan kesal


"kak nala apa sih sirik aja" ketus viona


nathan diam melihat pertingkaian kedua adik perempuan nya yang menurut nya sangat lucu


"siapa yang sirik cuman ngasih tau takut nya nanti besar kepala" reflek viona memegang kepalanya


"enggak tuh masih normal" viona menjulurkan lidah nya meledek


"huh, anak kecil mana ngerti peribahasa" ledek nala dan beranjak meninggalkan vio


tidak habis pikir hampir setiap hari vio dan nala bertengkar untuk hal sepele, tapi dari awal sudah pasti kesalahan vio yang mengibarkan bendera permusuhan sejak awal kali pertemuan


° ° ° ° ° °


di meja makan seperti biasa di awali vio dan nala berbuat tempat duduk di samping nathan dan di menangka oleh vio


nala pun duduk di antara kakek ken dan saga, sedang kan zena di samping nathan di samping zena itu saga


mereka makan dengan tenang namun sesekali nala memecahkan keheningan dengan bertanya pada saga mengenai apa pun


setelah makan usai zena memasuki kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sedangkan saga sejak awal sudah memakai piyamanya


sebelum nya zena sudah membersihkan diri namun masih memakai, pakaian santai untuk memasak. dan kini ia membersihkan diri untuk tidur


saga duduk di sofa panjang yang berada di kamar ini dan tv menyala, saat zena sudah rapih dengan dress tidurnya yang di bawah lutut ia keluar dari kamar mandi


'tidak biasanya saga menyetel tv' pikir zena, ia pun menghampiri saga dan duduk di sampingnya


"tumben nyesel tv" ucap zena dan saga langsung melihat ke arah zena


"enggak, aku pengen nonton aja tiba-tiba udah lama banget ga nonton" ungkap saga


"teh vanila" jawab saga dan di angguki zena, zena pamit membuatkan teh untuk saga.


saat di lantai satu di taman rumah dekat dapur, zena melihat anak-anak nya belum tidur dan menyetel kembang api. ia bisa melihat dari pintu yang terbuat dari kaca tembus pandang


setelah membuat minuman zena menghampiri anak-anak nya, viona, nala, dan nathan menghentikan kegiatan bermainnya


"aku membuatkan teh ada yang mau?" mereka pun mengambil gelas di nampan satu-satu dan melanjutkan bermain kembang api zena melihat ke langit betapa banyak nya bintang di langit uang membuat malam begitu luar biasa


zena kembali masuk kedalam rumah dan menuju kamar saga


pintu terbuka menyadarkan saga yang menonton tv ia pun tahu kalau zena masuk ke dalam kamar


zena menaruh dua gelas teh vanila nya di atas meja


lalu kembali ikut duduk bersama saga, dan menyadarkan kepalanya di bahu saga


"tadi aku lihat bintang sangat banyak di langit" ucap zena dan membuat saga menoleh ke arahnya "aku teringat kedua orang tua ku" saga tertegun dan mengelus kepala zena dan mengecup keningnya


"teringat boleh saja tapi jangan jadi kan itu kesedihan, mereka juga akan sedih jika tau kamu bersedih" zena mengangguk mengerti


"bagai mana dengan mu?"


"apa?" tanya saga tidak mengerti


"apa kamis sering merindukan mereka?" tanya zena


"jarang, tapi aku merindukan mereka. mereka yang sudah di panggil tak akan kembali lagi kesisi kita" ungkap saga zena nampak mencerna ucapan saga " mereka yang berada di sisi kita mungkin juga akan meninggalkan kita. tapi....mereka yang di sisi kita adalah orang-orang yang pasti ada untuk kita"


"jadi?" tanya zena pada saga, ia masih kurang mengerti


"yang sudah pergi kamu hanya bisa nengenangnya, tapi yang di sini. masih ingin bersama mu" saga menyatukan kening mereka "aku akan selalu ada untuk mu" ungkap nya


mata zena berkaca-kaca pria di hadapannya adalah. pria yang ia cintai dan pria yang menjadi ayah dari anak-anak nya


"setelah menikah nanti aku ingin kembali ke wiltown" ungkap zena


"kenapa?, apa kamu tidak suka tinggal di sini?" tanya saga


"aku suka, suka sekali. tapi...aku ingin bertemu bibi rosa, dia adalah satu-satu nya keluarga ku" ungkap zena


"kamu ingin bertemu dengan nya?, bagai mana jika ia menyakiti mu?"


zena menggeleng "tidak, aku percaya itu tidak akan terjadi dan juga aku memiliki mu tuk melindungi ku" saga tersenyum dan mengacak rambut zena


"baik lah jika itu mau mu, lalu apa yang akan kita lakukan di sana?. apa kita menetap di sana" zena kembali menggeleng


"tidak, aku hanya ingin mengalihkan gak waris pada nathan" ungkap zena


"apa nathan sudah tahu?"


"sudah, dia setuju dan sebelum usianya 18 tahun ia belum boleh mengendalikan perusahaan. aku ingin minta tolong pada mu tuk mengelolah perusahaan papa sebelum waktunya tiba" ucap zena lirih


"kenapa tidak kamu yang mengoperasikan nya?"


"aku gak bisa, aku juga punya kewajiban mengurus mu dan juga anak-anak aku mau vio di urus dengan benar oleh ku sendiri dan tak ingin ada campur tangan orang lain" ungkap zena


"baik lah, suatu hari perusahaan ku juga akan di kelolah oleh anak-anak, tentu saja mereka akan menjadi pengusaha seperti ku" ucap saga dan di angguki zena


"bagai mana jika kita tidur, besok akan menjadi hari melelahkan untuk kita" saga meraih remot dan mematikan tv


zena beranjak ke tempat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya di ikuti saga yang kini tidur di sampingnya


**autor come back


jangan lupa like komen dan vote**