Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 9



Zen membuka matanya perlahan dan ternyata Be Ong masih berada disampingnya sambil memeluk dirinya.


Zen melepaskan tangan Be Ong dengan perlahan dan mencoba bangkit.


" Mau kemana kau?" ucap Be Ong mengejutkan Zen.


" Aku ingin pulang."


" Jangan pergi dulu sebelum aku menyuruhmu. Aku masih membutuhkanmu."


Zen merasa marah dengan perkataan Be Ong. Ia menatap Be Ong dengan penuh kebencian.


" Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kau menyakitiku karna kau menyukai Jenny tapi kenapa kau malah melakukan hal seperti ini padaku! Kau tidak sungguh-sungguh menyukai Jenny."


" Itu urusanku dan jangan pernah berpikir untuk lari diriku. Karena kemana pun kau bersembunyi maka aku pasti akan menemukanmu!"


Be Ong mendorong tubuh Zen hingga kembali terlentang dan mulai menindihnya kembali.


" Lepaskan aku Ong, aku tidak mau melakukannya lagi denganmu!"


" Tidak akan, sekarang kau adalah milikku!" bentak Be Ong lalu menyatukan tubuhnya kembali dengan Zen.


Zen menggosok tubuhnya dengan begitu kasar. Ia sungguh merasa jijik dengan dirinya sendiri yang menjadi bahan pelampiasan Be Ong.


Selesai mandi, ia memakai bajunya kembali dan segera pergi dari apartemen Be Ong. Ditengah perjalanan Zen bertemu dengan Aryong yang ingin pergi ke kampus.


" Zen, kau tidak pergi ke kampus?"


" Tidak Aryong, semalam aku habis menginap dirumah temanku dan sekarang aku merasa tidak enak badan."


" Pantas saja wajahmu sedikit pucat Zen. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Aku khawatir padamu."


" Tidak perlu Aryong, lagi pula kau harus berangkat ke kampus kan?"


" Hari ini aku hanya mengumpulkan tugas jadi tidak masalah jika aku terlambat."


Zen pun tak dapat menolak keinginan Aryong yang bersikeras ingin mengantarnya pulang.


Sampai dirumah, Zen segera mengganti bajunya dengan kaos berlengan panjang lalu menemani Aryong diruang tamu.


" Tak apa Zen, aku hanya kaget tapi aku senang bisa membantumu. Oh ya tadi aku dari rumah membawa minuman jahe, kau minum saja agar badanmu hangat."


Zen menerima botol minuman itu namun saat ingin membuka tutupnya, botol itu malah jatuh dan membasahi baju Zen.


" Ya ampun Zen bajumu basah!" ucap Aryong lalu membantu Zen mengusap kaosnya yang basah.


" Tak usah Aryong, aku bisa melakukannya sendiri."


Namun Aryong terlanjur melihat tanda kemerahan di leher Zen saat ia menarik kaos Zen. Aryong pun terdiam lalu melepaskan tangannya.


" Kau semalam menginap dirumah pacarmu?"


" Ehmmm...bukan, tapi temanku menyukaiku dan ia memaksa untuk menciumku."


" Dan kau diam saja?"


" Aku sudah menolak tapi..."


" Sudahlah Zen, maaf jika aku terkesan ingin tahu urusanmu."


Suasana tiba-tiba menjadi hening membuat Zen tidak enak hati.


" Aryong, aku sungguh tak apa jadi sebaiknya kau pergi ke kampus saja."


" Iya, aku akan berangkat ke kampus. Aku pamit."


Aryong sudah melangkahkan kakinya keluar tapi tiba-tiba ia membalikkan badannya dan menatap Zen.


" Kenapa? Apa ada yang tertinggal?"


" Aku....aku menyukaimu Zen. Jujur saja aku sangat senang saat kau putus dengan Jenny tapi ternyata sekarang sudah ada wanita lain lagi yang kau sukai bahkan semalam kau melakukan itu."


Zen tak kaget dengan pernyataan Aryong karna ia bisa membaca gelagat Aryong yang menyukainya.


" Maaf Aryong tapi kurasa Shulan itu menyukaimu, bahkan dia lebih baik dariku. Dia pria baik, aku mendukungmu jika menyukainya."


bersambung.....