
Aryong sedikit berlari ketika menghampiri Zen yang sedang duduk dibawah pohon. Aryong memperhatikan Zen yang tampak memejamkan matanya. Wajah yang terlihat halus dan bibir Zen menjadi pusat perhatian Aryong ketika memandangnya.
" Aryong!" Kaget Zen saat membuka mata dan melihat Aryong berada persis dihadapannya.
" Aghhh Zen kau sudah bangun? Maaf kalau aku mengagetkanmu."
" Yah aku cukup kaget saat melihat wajahmu begitu dekat. Lalu ada apa kau kemari Aryong?"
" Aku hanya ingin menanyakan kabarmu karna dua hari ini kau tidak berangkat kuliah. Aku ingin menjengukmu tapi kemarin aku harus menemani ibuku pergi."
" Aku tak apa hanya sakit dibagian pinggulku saat terpeleset kemarin ditoilet," jawab Zen lalu pandangannya beralih kelantai atas gedung yang berada didepannya.
Zen melihat Be ong yang sedang menatap tajam kearahnya. Zen merasa kalau Be ong terlihat marah saat ini. Zen pun sedikit ingin mengerjai Be ong lalu ia mengusap- usap rambut panjang Aryong sebelum berpamitan.
" Aku pergi dulu ya Aryong."
Sementara itu Be ong terlihat mengepalkan tangannya saat melihat adegan romantis yang dilakukan Zen.
Awas kau Zen! Kau berani sekali sengaja membuatku marah.
Zen berjalan kearah kantin bersama Shulan karna hari ini Shulan ingin mentraktir dirinya makan steak. Langkah keduanya mendadak berhenti saat melihat suasana yang begitu riuh didalam kantin.
" Kenapa begitu ribut? Memang apa yang terjadi didalam?" tanya Shulan heran.
" Ya mana aku tahu! Bukannya kita sampai ini bersamaan."
" Benar juga ya Zen. Ayo kita masuk, aku sangat penasaran," ucap Shulan lalu menarik tangan Zen.
Deg
Kenapa tangan Zen rasanya halus sekali? Sangat berbeda dengan tanganku yang sedikit kasar. Apa dia tipe pria yang suka perawatan tubuh? batin Shulan.
" Katanya kau penasaran lalu kenapa kau malah melamun?"
" Aghh iya Zen, ayo masuk."
Mereka berdua masuk dan Zen begitu kaget saat melihat adegan Be ong yang sedang menyatakan cintanya pada Jenny didepan umum. Bahkan Be ong terlihat berlutut didepan Jenny sambil saling bergenggaman tangan.
Suasana riuh kembali terjadi saat Jenny menerima pernyataan cinta dari Be ong. Zen melihat Be ong yang begitu senang dan memeluk Jenny.
" Kalian semua yang berada disini, hari ini aku traktir kalian semua sebagai bentuk kebahagiaanku karna hari ini aku dan Jenny resmi pacaran." Teriak Be ong didepan semua orang.
Shulan memandang kearah Zen yang tak menampilkan ekspresi apapun.
" Heh kau sedih ya karna Jenny menerima cinta Be ong?"
" Ahh tidak, justru aku sangat senang. Ya sudah ayo segera cari tempat dan kau pesan menu yang paling enak karna kita akan makan gratis."
Zen dan Shulan segera menikmati makan siang mereka dan tiba-tiba ada sepasang kekasih yang mendekati mereka.
" Wah Shulan, Zen, ternyata kalian ada disini,"ucap Be ong.
" Ahh iya Ong. Aku ucapkan selamat ya karna kalian sudah resmi jadian," ucap Shulan.
" Oh aku ucapkan selamat padamu. Aku sudah selesai makan. Ayo Shulan kita pergi karna kita masih ada kelas," ucap Zen sambil beranjak dari tidurnya.
Saat akan melewati Jenny, langkah Zen terhenti lalu tiba-tiba ia memeluk Jenny.
" Selamat ya Jenn, semoga kau bahagia."
" Terima kasih Zen dan semoga kau juga menemukan kebahagiaanmu."
****
Zen pulang setelah malam tiba karna selesai kuliah ia langsung berangkat kerja paruh waktu. Ia ingin menyalakan lampu namun saat baru akan memencet saklar tiba- tiba ada seseorang yang mendorongnya ketembok.
Zen kaget dan berusaha melepaskan diri dari orang itu namun ia kalah tenaga. Bibirnya yang tadi berteriak tiba-tiba bungkam orang itu sudah ******* bibirnya.
" Ehmmmmm....Ong." Erang Zen dan dia tahu siapa orang yang menyerangnya dalam kegelapan.
Klik
Tiba-tiba lampu menyala dan Zen dapat melihat wajah ong dengan jelas. Bahkan mata merah Be ong tak luput dari pandangannya.
" Kenapa kau kemari?"
" Hari ini kau sudah membuatku marah karna kau menyentuh Jenny dan teman wanitamu itu!" Bentak Be ong.
" Memang apa yang kulakukan? Aku sama sekali tidak berbuat mesum pada mereka!"
Be ong menarik tangan Zen dan membawanya ke kamar mandi. Ia memaksa membuka seluruh pakaian Zen dan memandikannya. Aroma harum yang keluar dari tubuh Zen membuat gairah Be ong menjadi naik.
Ia ikut melepaskan pakaiannya lalu ikut mandi bersama Zen. Setelah selesai Be ong mengeringkan badan Zen dan juga dirinya. Ia menggiring Zen tidur diatas kasur lalu menindihnya.
" Ong, aku bosan setiap kau marah pasti melakukan ini padaku! Bukannya sekarang kau punya pacar."
" Hemm, kau yakin akan rela jika aku meniduri Jenny?"
Zen terdiam dan tak menjawab pertanyaan Be ong.
" Untuk urusan ini kau masih menjadi prioritasku," ucap Ong sambil melebarkan paha Zen.
Bless
" Ehmm...kenapa rasanya selalu sakit dibeberapa menit pertama?" Keluh Zen.
" Mungkin karna milikku yang cukup besar. Lain kali jangan membuatku marah atau aku akan melakukannya terus."
" Oh ya! Bagaimana jika aku lelah dan pergi dari lingkaran hidupmu?"
Be ong yang tampak tak senang dengan perkatan Zen langsung memacu gerakan pinggulnya dengan cepat.
bersambung....