
Da eng mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sempat kaget saat menerima laporan dari Ji en jika Zen telah mengajukan resign.
" Ah kau pasti marah padaku Zen! Aku sungguh tak sengaja saat mencium bibirmu. Aghhh sial kenapa aku tidak bisa melupakan rasa *bibirmu.
Aku harus segera menemuinya. Mungkin saja dia sudah tak marah dan mau memaafkanku*."
Da eng segera pergi menemui Zen dikampusnya. Ia menunggu dikursi yang berada dibawah pohon dimana Zen sering duduk disana.
" Permisi Tuan, anda bosnya Zen ya?" tanya seorang gadis yang membuat lamunan Da eng buyar.
" Eh iya, kau temannya ya? Apa kau tahu dia dimana? Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya."
" Aku tidak sekelas dengannya jadi aku kurang tahu tapi tadi pagi sih aku melihatnya sedang bersama kekasihku."
" Oh ya, lalu dimana kekasihmu sekarang? Mungkin saja Zen bersamanya."
" Dia sedang menemui dosen. Ini aku baru menunggunya."
Da eng memperhatikan jam yang menempel dipergelangan tangannya. Ia resah karna satu jam lagi ia harus menghadiri meeting bersama kliennya.
" Tuan, kenapa kau diam?"
" Ehmm maaf, oh ya Nona siapa namamu?"
" Namaku Aryong."
" Oh ya Nona Aryong jika kau bertemu dengan Zen tolong katakan jika ada hal penting yang harus kusampaikan dan katakan padanya jika besok aku akan datang kesini lagi."
" Baiklah Tuan."
" Terima kasih kalau begitu aku permisi."
Aryong memandang kepergian Da eng dengan pertanyaan yang bersarang diotaknya.
" Aryong, aku sudah selesai. Ayo kita pulang!" Ajak Shulan yang langsung diangguki Aryong.
Mereka menaiki mobil yang akan membawa mereka kerumah Aryong.
Ceklek
Aryong membuka pintu rumahnya dan langsung mempersilahkan Shulan masuk.
" Shulan, kau ingin makan apa biar nanti aku orderkan. Kebetulan stok makanan dikulkasku sudah habis dan aku belum sempat berbelanja."
" Nanti saja Aryong, kau buatkan aku minum dulu saja," jawab Shulan sambil menghempaskan tubuhnya kesofa.
Aryong berlalu lalu kembali lagi dengan segelas capucino panas.
" Ini minumnya. Kita jadi nonton film?"
" Iya, biar kubuka laptopku dulu."
" Arrghhh, seram sekali!" Teriak Aryong sambil menyembunyikan wajahnya didada Shulan.
" Jika kau takut kita ganti saja filmnya," ucap Shulan sambil mengusap punggung Aryong agar tenang.
" Aku takut tapi aku tetap ingin menonton makanya aku mengajakmu nonton berdua."
Mereka kembali menikmati film itu hingga muncul adegan pemerkosaan yang membuat tokoh utama dalam film itu meninggal dan menjadi hantu.
Aryong yang canggung menonton adegan itu pun menjauhkan tubuhnya dari Shulan.
" Kenapa menjauh?"
" Tidak, aku hanya kurang nyaman saja."
" Semua penonton juga melihat adegan itu kau tak perlu risau," ucap Shulan yang sebenarnya juga kurang nyaman dengan adegan vulgar yang sedang ditontonnya.
Tiba-tiba Aryong mematikan laptop padahal filmnya belum selesai. Shulsn menatap Aryong dengan mengerutkan dahi.
" Kita belajar saja Shulan. Tadi pagi kau bilang akan membantuku menyelesaikan tugas."
" Ya sudah yuk."
Mereka berdua naik keatas untuk belajar dikamar Aryong. Shulan terlihat serius saat mengajari Aryong hingga tanpa sengaja kedua mata mereka saling menatap hingga cukup lama.
Entah siapa yang memulai namun kedua bibir itu kini sudah bertemu. Mereka menutup mata hingga gerakan bibir Shulan memulai segalanya. Ini adalah ciuman pertama mereka selama menjalin hubungan kasih.
Tubuh Aryong sudah terhuyung diatas ranjang empuknya. Kedua bibir itu masih saling ******* hingga akhirnya terlepas untuk mengambil pasokan oksigen.
Mata Shulan menatap Aryong dalam diam. Keheningan membuat nuansa romantis yang tercipta begitu saja berlanjut saat Aryong menutup matanya ketika jemari Shulan bergerak membuka resleting dressnya.
Tubuh Aryong sudah setengah polos tinggal dua benda penutup area sensitifnya.
Tangan Shulan bergerak membuka segitiga milik Aryong sedangkan Aryong masih menutup mata karena merasa malu dan canggung dengan keadaan saat ini.
" Aryong buka matamu." Bisik Shulan sambil menciumi telinga Aryong.
Aryong membuka matanya namun tak menatap Shulan. Shulan memalingkan wajah Aryong hingga menatapnya. Aryong melirik Shulan yang sudah bertelanjang dada diatas tubuhnya. Bahkan Aryong dapat merasakan sesuatu yang keras diatas pusat tubuhnya.
" Aryong, aku tidak tahu kenapa tiba- tiba kita jadi begini. Aku berjanji akan menahannya agar tak masuk. "
Aryong menganggukkan kepalanya dan mereka kembali beradu bibir.Shulan mulai menggesekkan miliknya yang menempel.
" Ahhhh...Shulan."
Aryong yang sadar akan ******* yang keluar dari mulutnya pun segera menutupnya dengan tangan tapi Shulan langsung membukanya.
" Tak apa, keluarkan saja suaramu. Tak ada yang mendengar kita," ucap Shulan dengan suara berat karena dia juga tengah menahan hasrat yang tak ingin ia keluarkan sepenuhnya.
Bersambung....