
Da eng dan Zen duduk berdua diruang tamu. Tampak mereka saling diam dan Da eng sibuk memperhatikan isi rumah Zen.
" Kak Da eng jika kau sudah tak ada kepentingan dirumahku, pulanglah. Aku sudah sangat mengantuk."
" Hey kau mengusirku ya? Lihatlah bahkan kau tak menyajikan minum untukku." Protes Da eng.
Zen pergi ke dapur dan kembali keruang tamu sambil membawa segelas teh.
" Ini silahkan diminum. Aku hanya punya teh."
" Terima kasih Zen. Ngomong-ngomong aku masih lapar. Apa kau bisa membuat sepiring makanan untukku?"
" Kau baru saja makan dan sekarang kau minta makanan padaku. Kalau kau niat bertamu jangan menyusahkanku!" Kesal Zen.
" Aku tidak menyusahkanmu lagi pula memang aku masih lapar. Kau itu harusnya memperlakukan tamu seperti seorang raja. Ayolah Zen, aku lapar." Rengek Da eng sambil memegang perutnya.
" Kau sangat menyebalkan! Baiklah akan kusajikan makanan untukmu dan setelah itu kau pulang!"
" Sudah kau jangan marah terus. Kau ini seperti perempuan saja yang suka mengomel tapi wajahmu sangat lucu bila sedang marah," ucap Da eng sambil mencolek dagu Zen
" Singkirkan tanganmu! Jangan membuatku risih!"
Zen masuk kedapur dan mulai membuat menu makan malam. Ia memasak mie kuah dan telur karna memang hanya itu yang ada dilemari makanannya.
Setelah selesai Zen membawa semangkuk mie untuk Da eng. Da eng pun merasa senang ketika melihat Zen membawa semangkuk mie yang masih mengeluarkan asap.
" Wah kelihatannya sangat enak Zen. Aku jadi tidak sabar untuk menikmatinya."
" Makanlah, aku akan membersihkan diri dulu." Pamit Zen namun ditahan Da eng.
" Kau masih terlihat segar dan wangi jadi tak perlu mandi lagi. Disini saja dulu temani aku."
Zen menuruti keinginan Da eng. Ia duduk didepan Da eng sambil memainkan ponselnya.
" Masakanmu enak sekali Zen. Tidak sia-sia tadi aku memintamu...uhuk...uhuk." Puji Da eng lalu terbatuk.
" Kau ini seperti anak kecil saja! Makanya kalau makan jangan bicara," ucap Zen sambil mengusap- usap punggung Da eng.
Sesaat Da eng menikmati perlakuan Zen hingga tanpa sadar ia menatap lekat kearah Zen.
" Jangan menatapku seperti itu! Cepat habiskan makanmu," ucap Zen lalu kembali fokus pada ponselnya.
****
Jenny memperhatikan Be ong yang akhir-akhir ini sering melamun dan tampak memikirkan sesuatu.
" Be ong sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jenny mengagetkan Be ong.
" Ah tak ada Jen, aku tak memikirkan apa pun," ucap Be ong berbohong.
" Kau yakin? Lau kenapa akhir-akhir ini kau sering melamun?"
" Aku sungguh tak apa Jen. Oh ya aku pergi dulu ya. Aku lupa kalau ada janji dengan Ming."
Be ong pergi meninggalkan Jenny dan berjalan menuju toilet. Ditengah jalan ia melihat Zen yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa.
" Zen tunggu dulu." Panggil Be ong sambil berjalan cepat menghampiri Zen.
" Ada apa Ong?" tanya Zen dingin.
Be ong mengambil kedua tangan Zen dan menggenggamnya erat.
"Li Zen, kumohon maafkan aku. Jangan lagi marah padaku Zen."
" Aku sudah memaafkanmu tapi aku minta jangan pernah mendekatiku lagi walau hanya sekedar berteman."
" Tidak Li zen! Aku tidak ingin jauh darimu. Aku sungguh tidak ada niatan untuk mencelakai calon anak kita."
Be ong menarik tangan Zen masuk kedalam toilet lalu menguncinya. Ia memandang Zen sesaat lalu memeluknya erat.
" Li zen, jangan minta aku untuk menjauhimu. Aku tak akan bisa."
" Kau harus bisa Ong. Ini juga menyangkut hubunganmu dengan Jenny. Lupakanlah yang terjadi diantara kita. Anggaplah aku lelaki sama seperti dulu saat kau belum mengetahuinya."
Zen membuka pintu toilet lalu meninggalkan Be ong seorang diri yang sedang larut dalam penyesalannya.
Saat sudah sampai didepan gerbang kampus, tiba-tiba ia melihat seseorang yang berdiri didepan mobil sambil tersenyum kearahnya.
" Kak Da eng, kau mau menjemput Jenny?"
" Tidak, dia kan pulang dengan tunangannya. Aku kesini untuk menjemputmu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu."
" Kita baru saja kenal dan mana mungkin ada hal penting."
" Kalau kau penasaran ikut saja denganku sekarang."
Zen yang penasaran pun akhirnya menuruti keinginan Da eng. Da eng menghentikan mobilnya disebuah resto cepat saji.
" Kita ngobrol sambil makan siang disini. Ayo turun."
Zen turun dari mobil dan mengikuti langkah Da eng. Mereka duduk dilantai 2 yang tak terlalu ramai. Seorang pelayan datang dan menyajikan dua piring ayam beserta minuman.
" Kak Da eng ingin bicara hal penting apa?" tanya Zen sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
" Kebetulan diperusahaanku sedang ada divisi yang membutuhkan seorang karyawan. Jika kau berminat, aku ingin merekrutmu. Kau tenang saja karna pekerjaan ini tidak akan menganggu kuliahmu. Bagaimana kau mau?"
" Kau yakin Kak? Lalu kenapa kau menawariku?"
" Yaa...bukankah kita teman baru. Lagi pula aku kasihan melihatmu bekerja direstoran. Jika kau menerima tawaranku, bukan hanya gaji yang kau dapat tapi kau juga bisa menerapkan ilmu yang kau dapat secara langsung."
" Ah aku mau Kak, tapi kau tak bohong kan?"
" Kau lihat saja mukaku ini! Ya sudah besok senin datanglah keperusahaanku."
" Terima kasih ya Kak. Aku janji besok senin aku akan datang tepat waktu."
****
Hari itu pun Zen datang keperusahaan Da eng dengan memakai celana kain hitam dan kemeja polos warna abu tua.
Da eng memperhatikan penampilan Zen yang terlihat sangat rapi.
" Kau...walaupun sudah memakai setelan baju formal, masih saja kau terlihat manis."
" Aku bekerja disini bukan untuk kau goda Kak. Bagaimana jika kekasihmu tahu? Dia pasti akan aneh dengan kelakuanmu."
" Haha...kau lucu sekali. Ya sudah ayo kuantar ketempatmu."
Zen mengikuti langkah Da eng dan mata para karyawan wanita langsung terpesona dengan sosok Zen yang berjalan disampingnya.
" Lihatlah Zen, tatapan para wanita itu seperti ingin memakanmu saja. Aku jadi penasaran bagaimana dulu saat adikku berpacaran denganmu." Bisik Da eng.
" Kenapa Kak? Kau iri karna para karyawan wanitamu memperhatikan aku?" Goda Zen penuh kemenangan.
" Aku tak iri. Aku hanya kesal karna aku ingin hanya aku yang memperhatikanmu." Goda Da eng.
" Aku ini lelaki Kak. Aku bukanlah gadis yang ingin kau rayu!"
" Iya, aku tahu kau lelaki tapi apa kau tahu jika kau lebih manis dan menggemaskan dibanding para wanita yang pernah kutemui."
Zen yang kesal pun langsung menginjak kaki Da eng yang akan menjadi bosnya itu.
bersambung.....