
Be ong mengelap mulutnya setelah menghabiskan dua potong pizza.
" Kau lapar ya?" tanya Zen karna melihat Be ong makan dengan lahap.
" Iya, pizzanya enak. Apalagi kau yang menyuapkannya untukku. Rasanya jadi tambah enak," ucap Be ong tersenyum.
Zen berdiri untuk meletakkan piring dan tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar diperutnya.
Be ong meletakkan dagunya dibahu Zen sambil meresapi aroma wangi tubuh Zen yang sudah dirindukannya.
" Ong, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," ucap Zen sambil berusaha melepas pelukan Be ong yang begitu erat.
" Sebentar saja Zen. Aku tak semangat melakukan apa pun sejak kau menyatakan ingin pergi dari sisiku. Bahkan aku tak makan Zen."
Zen teringat dengan muka pucat Be ong saat ia datang tadi.
" Ong, aku kesini karna aku melihat wajah Jenny yang mengkhawatirkanmu. Apalagi setelah Shulan bilang padaku kalau kau tak berangkat kuliah beberapa hari."
Be ong membalik tubuh Zen hingga menghadapnya. Ia memepet Zen kedinding dan mengunci tubuhnya.
" Li zen, apa dihatimu sudah tak ada diriku? Kenapa masih saja kau memikirkan perasaan Jenny?" tanya Be ong tak suka.
" Jenny tunanganmu. Seharusnya kau lebih memikirkan perasaannya! Aku begini karna aku masih merasa bersalah padanya. Ong, dulu kau rela menghajarku demi mendapatkan Jenny tapi kenapa sekarang kau terkesan tak peduli padanya?"
Be ong menjauh dari tubuh Zen dan melangkah menuju balkon. Ia memandang kearah luar dengan tatapan bimbang.
" Aku tak tahu Li zen. Yang jelas setelah mekakukan itu denganmu, aku merasa selalu memikirkanmu dan ingin mengulangnya lagi. Aku tak tahu sejak kapan. Yang jelas perasaan cinta itu sudah tumbuh dihatiku untukmu. Sampai aku tak suka jika melihatmu dekat dengan pria lain meski mereka tahunya kau seorang pria ," ucap Be ong tertunduk.
" Lalu bagaimana dengan Jenny? Kau jangan menghancurkan hatinya Ong!"
" Kalau begitu lalu bagaimana dengan kita? Apa aku harus membuatmu hamil lagi sehingga kau akan tetap berada didekatku!"
" Ong, lepaskan aku. Jangan membuatku membencimu lagi Ong!"
Be ong menulikan telinganya hingga ia berhasil melucuti pakaian Zen dan menguasai tubuhnya. Meskipun dalam keadaan tak bugar tapi Be ong merasa mendapatkan tenaga lebih setelah melihat tubuh polos Zen.
Be ong menyatukan miliknya dengan cukup keras hingga membuat Zen menjerit kesakitan.
" Ong lepaskan. Ini sakit." Teriak Zen sambil berusaha mendorong dada bidang Be ong namun tak berhasil.
" Maaf Li zen, aku tak bisa berhenti. Rilekskanlah dirimu maka kau akan merasa nyaman dan tak merasa sakit dengan penyatuan ini."
Be ong terus mendesah sambil menggerakkan tubuhnya diatas tubuh Zen. Setelah satu jam barulah ia melepaskan seluruh benihnya kedalam tubuh Zen.
Be ong mengambil kaos yang dipakainya tadi untuk mengelap dahi Zen yang penuh dengan keringat.
" Maaf Li zen, aku membuatmu berkeringat. Rinduku benar-benar tersalurkan," ucap Ong lalu mengecup kening Zen.
Zen hanya diam sambil sesekali menahan rasa nyeri yang berdenyut dari area sensitifnya.
" Boleh aku melakukannya lagi Li zen?"
Zen mendorong dada Be ong yang masih berada diatasnya dengan sisa tenaga yang ia punya. Perlahan ia bangkit lalu memunguti pakaian dan celananya yang berserakan.
" Kau mau kemana Li zen?"
" Mandi," jawab Zen dingin sambil berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih.
bersambung.....