
Zen segera berlari kekamar mandi sambil menutup mulutnya. Entah mengapa pagi ini perutnya terasa begitu mual. Zen memuntahkan isi perutnya yang terasa seperti diaduk.
Ia masuk lagi ke kamarnya setelah merasa tak ada lagi yang akan keluar dari mulutnya.
Tok tok tok
" Zen, buka pintunya! Ini aku, Shulan!"
Zen berjalan dengan pelan untuk membuka pintu begitu mendengar teriakan Shulan.
Ceklek
" Jangan berteriak, aku belum tuli!"
" Zen, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali," ucap Shulan terlihat kuwatir.
" Aku tak tahu. Begitu bangun perutku langsung terasa mual. Kau ada perlu apa?" jawab Zen lemas.
" Aku hanya ingin mengajakmu berangkat kuliah bersama. Ya sudah, aku antar kau ke kamar. Aku tidak tega melihat wajahmu yang seperti mayat hidup," ucap Shulan sambil memapah Zen menuju kamar.
Shulan menidurkan Zen diatas kasur lalu menyelimutinya.
" Bagaimana kalau kuantar kau kedokter?"
" Tidak perlu Shulan paling nanti juga sembuh."
" Ya sudah kalau begitu aku buatkan teh hangat saja."
Begitu Shulan keluar kamar, Zen langsung berdiri lagi karna perutnya kembali terasa mual.
Huwek...huwek....huwek
" Zen kau kenapa lagi? Sebaiknya kau kedokter saja," ucap Shulan kuwatir.
" Bawa aku berbaring lagi."
" Baiklah, ini minum dulu tehnya."
" Iya, aku mau tiduran Shulan."
Zen memejamkan matanya setelah meminum teh hangat buatan Shulan.
Shulan terdiam beberapa saat hingga ia mempunyai ide untuk mengusapkan minyak hangat diperut Zen.
Shulan mengambil minyak hangat diatas meja lalu ia kembali mendekati Zen. Perlahan Shulan membuka baju tidur Zen.
Kenapa tiba-tiba aku merasa deg-degan seperti ini? Tanya Shulan dalam hati.
Shulan kembali menggerakkan tangannya dan hatinya langsung berdesir saat melihat perut Zen yang terlihat halus. Bahkan tak terlihat otot perut seperti miliknya.
Shulan mengangkat baju Zen lebih keatas dan alangkah kagetnya Shulan saat melihat dada kecil Zen yang menggantung indah.
" Zen...dadamu berisi? Aa...apa kau seorang perempuan Zen? Tapi bagaimana bisa?"
Shulan masih terbengong dengan berbagai macam pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Shulan ingin sekali membangunkan Zen dan memberikan banyak pertanyaan padanya tapi melihat kondisi Zen yang sedang sakit, ia merasa tak tega.
Zen membuka matanya dan melihat Shulan masih duduk dibawah ranjangnya.
" Shulan, kau masih disini?"
Shulan menatap Zen tajam dengan perasaan tak menentu.
" Kau...kenapa menatapku seperti itu?"
" Tak apa, bagaimana keadaanmu?"
" Sudah terasa lebih baik, tidak seperti tadi."
" Ya sudah aku pulang dulu!" Pamit Shulan dengan wajah dingin.
Zen agak heran melihat sikap Shulan yang tiba-tiba sedikit berubah.
" Ya berhati- hatilah dan terima kasih sudah merawatku."
Shulan tak mengucapkan apa pun lagi dan dia segera pergi dari rumah Zen.
Drttttt
" Hallo, kenapa Ong?"
" Kenapa kau tidak datang ke kampus?"
" Tadi saat bangun tidur, perutku terasa mual dan aku muntah terus jadi aku tidak bisa berangkat ke kampus."
" Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?"
" Aku sudah merasa lebih baik untung tadi ada Shulan yang datang kesini."
" Shulan....Ya sudah, selesai kelas nanti aku akan ketempatmu. Kau harus kedokter."
" Tapi....."
" Jangan membantah Li zen! Bersiaplah dan tunggu aku."
Be ong segera mengakhiri panggilannya tanpa berpamitan. Zen menuju dapur dan menatap stok makanan yang ada dikulkasnya.
" Aku lapar tapi tak ada satu pun yang membuatku berselera," ucap Zen sambil menutup kembali pintu kulkasnya.
bersambung....