Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 6



Acara ulang tahun kampus Zen pun sudah dimulai hari ini. Ia sendiri sudah tampil dalam acara pertunjukan dramanya.


Tak lama Jenny masuk kedalam ruang tunggu dan ia melihat Zen sendirian disana.


" Zen, aku mencarimu dan ternyata kau disini?"


" Ehmm bagaimana penampilanku tadi Jen?"


" Bagus, aktingmu sudah lumayan. Sebentar lagi adalah scene terakhir kita jadi kita harus melakukan yang terbaik Zen."


" Ehmm tentu saja."


Setelah beberapa menit, Zen dan Jenny pun kembali tampil dimana mereka akan melakukan adegan ciuman dan bunuh diri bersama.


Adegan ciuman pun dimulai dan mendapatkan sorak tepuk tangan para penonton.


Be Ong yang juga berada didalam gedung teater itu pun merasa cemburu dan mengepalkan tangannya dengan kuat.


" Dasar brengsek! Aku akan menghajarmu karna sudah berani menyentuh Jenny dihadapan banyak orang," ucap Be Ong geram lalu keluar dari gedung tersebut.


Setelah seluruh acara selesai, suasan kampus pun menjadi sepi karna sebagian besar para mahasiswa sudah pulang.


Zen berjalan sendirian dikoridor setelah mengantar Jenny keparkiran.


" Heh kau berhenti disitu!" ucap seorang dengan suara keras yang membuat Zen kaget.


Zen menghentikan langkahnya lalu mengedarkan pandangannya disepanjang koridor. Mata Zen pun menangkap seorang laki-laki yang duduk dilantai.


" Kau...kau Be Ong kan? Kenapa memanggilku?"


Tanpa menjawab Be Ong pun berjalan kearah Zen dengan langkah pelan. Setelah dekat, Be Ong menatap wajah Zen dengan intens lalu menunjuk dada Zen dengan telunjuknya.


" Aku hanya ingin memperingatkan padamu kalau mulai detik ini kau jangan lagi mendekati Jenny!"


" Hah! Kenapa kau melarangku? Jenny adalah kekasihku jadi kau tidak berhak melarangku!"


" Turuti saja perintahku atau kau akan menyesal!"


" Aku tidak takut dan aku tidak akan menuruti perintahmu!"


" Baiklah, kau sangat sulit dibilangi jadi jangan salahkan aku jika aku merusak wajah sok manismu itu."


Dengan cepat Be Ong memukul wajah Zen hingga Zen terjungkal.


" Haha...begitu saja kau sudah tumbang. Dasar laki-laki payah!"


Zen bermaksud membalas Be Ong namun dengan sigapnya, Be Ong kembali memukul wajah Zen hingga sudut bibirnya berdarah.


Be Ong pun menyeret Zen hingga masuk kedalam gudang. Di sana Be Ong kembali menyiksa tubuh Zen dengan tendangan dan pukulan hingga Zen benar-benar tidak berdaya.


Tubuh Zen yang kecil dibandingkan tubuh Be Ong yang besar dan kekar sungguh terlihat terjungkal.


Be Ong pun tertawa melihat Zen yang terkapar dan ia pun melayangkan pukulan terakhirnya didada Zen namun pikiran Be Ong sedikit terganggu saat ia merasakan dada Zen yang sedikit empuk.


Zen pun meringis sambil meringkukkan badannya yang terasa sakit. Sementara Be Ong masih memandang kepalan tangannya yang baru saja memukul dada Zen.


Kenapa rasanya tadi dadanya seperti empuk atau hanya perasaanku saja.


Be Ong yang tersadar dan merasa penasaran pun langsung mendekati Zen dan melepas paksa baju yang Zen kenakan.


Zen yang kaget hanya bisa pasrah karna ia benar-benar sudah tak bertenaga. Be Ong pun merasa kaget saat melihat lilitan kain yang membelit dada Zen.


Be Ong membuka lilitan kain itu dan begitu terkejut saat melihat dada Zen yang sedikit berisi dan menggantung.


" Kau...kau seorang perempuan Zen?" ucap Be Ong kaget.


" Kau sudah menipu kami semua! Kau sudah mempermainkan Jenny! Kau benar-benar menjijikkan!"


Be Ong yang merasa emosi pun langsung melucuti pakaian Zen hingga Zen polos. Mata Be Ong begitu terkesiap melihat pemandangan itu.


Tanpa sadar dia juga membuka bajunya dan mendekati Zen.


" Ja...jangan lakukan apapun Ong," ucap Zen pelan karna tubuhnya sudah tak berdaya.


" Aku tak peduli!"


Be Ong pun mulai beraksi dan menyatukan tubuhnya dengan tubuh Zen secara paksa.


" Aghhh!" teriak Zen memenuhi gudang itu saat ia kehilangan mahkotanya.


bersambung.....