Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 37



Zen membuka matanya yang masih terasa berat. Ia merasakan seluruh tulangnya seperti remuk dan tak bertenaga. Apalagi diarea sensitifnya begitu terasa nyilu.


Zen tak habis pikir jika Be ong akan melakukannya hingga berkali-kali. Entah apa yang dimakan lelaki itu hingga bisa punya stamina yang kuat.


" Li zen kau sudah bangun?" tanya Be ong sambil membawa segelas air jahe yang masih panas.


Be ong duduk disisi ranjang Zen lalu meletakkan minuman tersebut disebelahnya.


" Minumlah ini biar badanmu segar. Kau tampak sangat kelelahan."


" Sebenarnya apa yang kau makan sampai bisa mengerjaiku hingga berkali-kali. Badanku rasanya sakit semua."


" Haha....Kau ada-ada saja. Yang jelas aku makan nasi sepertimu. Semalam kau begitu menggairahkan jadi wajar saja jika aku terus mengulangnya," ucap Be ong dengan senyuman nakal.


Be ong membantu Zen bersandar dikepala ranjang lalu menyuapkan minum untuk Zen.


" Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Ayo cepat mandi."


Zen hanya diam dan masih bermalas-malasan diatas kasur.


" Kenapa kau diam saja? Atau kau mau kita mengulangnya lagi? Jika iya, aku akan sangat senang."


Zen buru-buru bangkit dari ranjang namun baru satu langkah rasa nyeri langsung menyergap dibagian intinya.


" Li zen, kenapa kau meringis begitu?" tanya Be ong khawatir.


" Kau yang menyebabkannya dan kini kau bertanya aku kenapa? Kau itu peka atau tidak?" Bentak Zen sebal.


" Iya-iya maaf. Aku bantu kau kekamar mandi setelah itu kau mandi sendiri karna aku akan menyiapkan sarapan untuk kita."


" Kau mau memasak? Memangnya kau bisa?"


" Sudahlah kau tenang saja," ucap Ong sambil memapah Zen menuju kamar mandi.


Zen berdiri didepan cermin sambil menatap dadanya yang penuh dengan tanda kepemilikan.


Kenapa banyak sekali tanda yang diberikan Be ong. Aku sungguh tak suka warnanya nanti.


Zen menikmati telur mata sapi dan roti bakar yang disiapkan Be ong. Ia makan dengan begitu lahap agar tenaganya yang semalam terkuras bisa kembali lagi.


Apalagi kemarin Da eng sudah memintanya untuk menemani meninjau proyek dikota sebelah.


****


Zen buru-buru keluar dari kelasnya setelah usai jam pelajaran.


" Zen mau kemana? Buru-buru sekali?" tanya Shulan.


" Ehmm hari ini aku akan pergi menemani bosku dikota sebelah. Ada proyek yang harus ditinjau."


Shulan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Zen.


" Kenapa kau yang menemaninya Zen? Kenapa bukan sekretaris atau asisten pribadinya?"


" Aku juga tidak tahu yang penting aku turuti saja. Ya sudah aku pergi dulu ya," ucap Zen sambil melambaikan tangannya keluar kelas.


Sementara itu Da eng sudah tiba dikampus Zen untuk menjemputnya. Ia sedikit melihat kearah cermin untuk memastikan penampilannya.


Oh apa yang terjadi dengan diriku? Sejak awal bertemu dia sudah begitu mencuri perhatianku.


Ayolah Da eng kau pria normal. Mana mungkin kau jatuh cinta pada mantan adikmu*.


Da eng menggelengkan kepalanya untuk menormalkan pikirannya kembali. Da eng segera turun dari mobilnya dan berjalan masuk kehalaman kampus.


Seorang gadis berlari kearahnya dengan tatapan heran.


" Kak Da eng, kenapa kau disini?" tanya Jenny.


" Ohh aku kesini karna aku ingin menjemput Zen. Ada urusan pekerjaan diluar jadi daripada aku lama menunggunya lebih aku kesini saja biar cepat." Jelas Da eng.


" Ow begitu, tumben sekali ya Kak?"


" Iya, tak masalah. Oh ya kau tahu dimana Zen biar aku tidak lama menunggunya."


" Kakak jalan saja kearah gedung perpustakaan nanti disana ada penunjuk arah fakultas bisnis."


" Ya sudah aku akan kesana. Terima kasih ya."


" Maaf ya, aku tidak bisa mengantar Kakak karna aku janji dengan Be ong akan menunggunya disini."


" Tak masalah. Ya sudah sampai jumpa nanti dirumah."


Sementara itu Zen yang sedang berjalan dikoridor tiba-tiba tangannya ditarik Ong. Be ong membawa Zen kesudut ruangan yang tak dijangkau banyak orang.


" Be ong, kenapa kau membawaku kesini?"


" Aku...aku hanya ingin berpamitan denganmu."


" Berpamitan? Memangnya kau mau kemana?"


" Ayahku sedang sakit jadi untuk sementara aku harus ikut mengurus pekerjaannya. Mungkin sekitar seminggu sambil menunggu asisten ayahku kembali."


" Ohh begitu. Ya sudah berhati-hatilah dan aku sedang buru-buru Ong."


" Li zen sebentar saja. Aku mengurus pekerjaan ayahku yang diluar negeri. Meski hanya seminggu, tapi aku pasti akan sangat merindukanmu. Jadi biarkan aku memandang wajahmu sebelum aku berangkat," ucap Ong sambil mencium kedua tangan Zen.


Zen hanya diam ketika Be ong mulai mendaratkan ciuman dibibirnya. Ia menutup matanya sampai ia membalas ciuman lembut dari Be ong.


Sepasang mata menatap tak percaya dengan kejadian yang sedang berlangsung dihadapannya.


Tangannya terkepal dan hatinya merasa nyeri melihat semua itu.


*Apa yang kalian lakukan berdua?


Aku tak percaya jika kau dan tunangan adikku ternyata adalah pasangan gay.


Kalian telah mengkhianati adikku. Kalian benar-benar tak punya hati dan perasaan*.


Dengan hati gundah, Da eng pergi dari kampus Zen. Sungguh ia tak menyangka dengan kejadian yang dilihatnya barusan.


bersambung.....