
Hari itu orang-orang dirumah Jenny tampak sibuk mempersiapkan acara pertunangan yang akan diadakan nanti malam.
Jenny turun dari kamarnya dan melihat sang ibu yang sedang mengawasi para pelayannya saat membuat hidangan.
" Ibu, aku pergi ke kampus dulu," ucap Jenny setelah mencium pipi ibunya.
" Hah, kenapa tidak libur untuk mempersiapkan dirimu?"
" Kata Be ong aku tetap berangkat kuliah saja karena jadwalku tak sampai siang."
" Ya sudah, tapi setelah itu jangan pergi lagi. Malam ini kau harus tampak sempurna dihari bahagiamu."
" Ya Bu, kalau begitu aku pergi dulu," ucap Jenny lalu menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Setelah sampai dikampus, Jenny segera menemui Zen dikelasnya.
" Zen, bisa bicara sebentar?"
Zen dengan ragu mengikuti langkah Jenny keluar dari kelasnya.
" Ada apa Jen?"
Jenny tak langsung menjawab pertanyaan Zen dan malah memperhatikan Zen dengan seksama.
" Kau terlihat lebih berisi ya?"
" Eh itu karna nafsu makanku sedang tinggi. Oh ya tadi kau ingin bicara apa?"
" Aku kesini hanya ingin mengundangmu untuk menghadiri acara pertunanganku nanti malam."
" Pertunangan?" ucap Zen kaget.
" Iya nanti malam aku akan bertunangan dengan Be ong. Sebenarnya ini acara privasi karna Be ong juga memintaku untuk tidak mengundang siapa pun. Tapi kupikir tidak ada salahnya mengundang dirimu jadi kuharap nanti malam kau bisa datang."
" Aku tidak janji tapi akan aku usahakan," jawab Zen dengan suara pelan.
" Ya sudah aku pergi dulu. Sampai berjumpa nanti malam Zen."
Bertunangan? Kenapa Be ong tidak bilang padaku kalau dia akan bertunangan.
Zen mengambil tasnya dan memilih pulang sebelum kelasnya dimulai. Entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar berita yang disampaikan Jenny.
Jika suatu saat Be ong menikah dengan Jenny lalu bagaimana dengan nasib dirinya dan juga bayi yang dikandungnya. Padahal baru kemarin ia mendengar pernyataan cinta dari mulut Be ong.
Sampai diapartemen, Zen segera memberesi barang-barangnya. Ia ingin pulang kerumah sewanya dulu.
Zen masuk dan berdiri ditempat yang tak terlihat. Ia menyaksikan Be ong dan Jenny yang sedang bertukar cincin dan senyum kegembiraan terkembang dari bibir mereka.
" Hey, kau siapa?"
Zen kaget karna tiba-tiba ada orang yang berdiri disampingnya. Zen menatap lelaki yang sekilas wajahnya mirip dengan Jenny.
" Aku teman kampusnya Jenny. Tadi pagi dia mengundangku keacara ini."
" Oh aku Da eng. Aku kakaknya Jenny," ucap Da eng sambil mengulurkan tangannya.
" Aku Zen," jawab Zen sambil membalas jabat tangan Da eng.
" Wow telapak tanganmu halus sekali dan terasa dingin. Aku tidak menyangka kalau Jenny punya teman lelaki seimut dirimu."
" Oh ya. Ya sudah Kak, aku kesana dulu."
Langkah Zen terhenti saat Da eng menarik tangannya.
" Kenapa Kak?" tanya Zen sedikit tak nyaman.
" Jangan pergi dulu. Aku baru saja pulang dari luar negeri. Aku tidak punya banyak teman disini jadi mungkin kita bisa berteman."
" Ehmm baiklah Kak tapi tolong lepaskan dulu tanganmu. Aku tak nyaman."
Da eng menatap Zen dengan senyum tipisnya.
" Baiklah, kau tadi mau kemana? Aku akan menemanimu. Aku juga sedikit bosan."
Zen pun yang tadinya ingin menyingkir dari acara itu terpaksa membiarkan Da eng mengikutinya.
Dari arah sebuah tempat yang dijadikan panggung mini, tampak Be ong yang kaget saat melihat Zen berada disana.
" Aku seperti melihat Zen, apa kau mengundangnya Jen?"
" Iya, tapi tenang saja karna hanya dia teman kampus yang aku undang."
Be ong tampak sedikit kesal dengan apa yang dilakukan Jenny. Ia belum memberitahukan rencana pertunangannya. Ia takut kalau Zen akan kecewa dengannya.
Tangan Be ong pun makin terkepal saat melihat kakak dari Jenny terlihat akrab dengan Zen.
bersambung.....