
Zen memutuskan resign dari perusahaan Da eng. Dia sama sekali sudah tak ingin bersitatap dengan bosnya itu meskipun semua terjadi karena ketidak sengajaan.
Kini dia kembali kekampus setelah menyerahkan surat pengunduran diri dikantor Da eng. Zen duduk sambil memperhatikan undangan pernikahan Jenny dan Be ong.
" Kau masih sakit hati?" tanya Shulan yang tiba-tiba sudah duduk disamping Zen.
" Ehmmm...tidak, aku biasa dengan semua ini. Hanya saja sepertinya aku tidak akan datang."
" Kenapa? Jika kau tak datang itu artinya kau masih merasakan sakit hati. Kalau memang Be ong mencintaimu, kenapa dia malah melanjutkan hubungannya dengan Jenny kejenjang pernikahan? Aku sungguh tidak tahu cara berpikir lelaki egois yang kau cintai itu," ucap Shulan kesal.
" Sudahlah Shulan, aku sudah tidak ingin membahasnya. Aku tidak datang karna memang aku sedang ada urusan. Oh ya bagaimana hubunganmu dengan Aryong?"
" Jangan mengalihkan pembicaraan Zen!"
" Aishhh, kenapa kau jadi menyebalkan begini? Jangan menatapku begitu! Anggaplah aku tetap laki-laki."
" Ya terserah kau saja. Aku begini karna aku peduli padamu."
" Hey kau tadi belum menjawab pertanyaanku soal hubunganmu dengan Aryong?"
" Biasa, tak ada masalah. Eh memangnya kau ada urusan apa?" tanya Shulan lalu menatap Zen secara intens hingga membuat Zen menyentil kepalanya.
" Mau tahu saja kau! Sudahlah aku harus pergi," ucap Zen lalu meninggalkan Shulan.
" Hey tunggu! Aku belum selesai bicara!" Teriak Shulan yang dicueki Zen.
****
Dirumahnya, Be ong sudah mempacking beberapa baju dan barangnya. Ia harus pergi, ia tak ingin melanjutkan acara pernikahannya dengan Jenny yang telah dirancang keluarganya.
Be ong beranjak dari duduknya. Ia mengambil tas karena harus segera pergi ke kampus untuk menemui Li zen.
Sampai dikampus, Be ong menghubungi Li zen untuk menemuinya digudang yang dulu ia jadikan tempat untuk mengambil kegadisan Li zen.
Ceklek
" Ya ampun Li zen kau lama sekali! Aku sudah dari tadi disini."
" Maaf tadi ada tugas yang harus kuselesaikan. Kau kenapa malah disini? Bukannya...." Li zen tak meneruskan ucapannya karena tindakan Be ong yang tiba-tiba memeluknya.
" Aku tidak ingin menikahi Jenny. Aku akan bicara pada orang tuaku mengenai hal ini dan jika mereka tidak setuju maka aku akan mengajakmu pergi dari sini. "
" Hey, kau jangan memutuskan hal seperti itu seenaknya. Kau ingin menghancurkan perasaan Jenny dan membuatnya malu? Aku tidak setuju Ong."
" Lalu kau mau aku tetap menikah dengan Jenny. Kau tidak memikirkan hubungan kita Zen!"
" Kau sudah memulai semuanya Ong. Jangan akhiri dengan membuat semua berantakan. Jenny gadis yang baik dan cantik, aku tidak akan setuju jika kau menyakitinya dan kita akhiri semua ini Ong. Aku akan kembali pada diriku yang dulu dan anggap saja kau tak pernah tahu jika aku adalah wanita. Lupakan setiap hubungan yang kita lakukan. Aku lelah Ong. Aku rindu dengan kehidupanku yang dulu disaat tak ada yang tahu identitasku yang sebenarnya."
" Tidak bisa Zen! Aku sungguh mencintaimu. Kau jangan bicara hal yang tak aku suka!"
" Ong, kita mulai lembaran baru kita masing-masing. Jika kau mencintaiku maka lepaskan aku Ong. Aku yakin kau dan Jenny bisa saling membahagiyakan," ucap Zen lalu meninggalkan Be ong.
Ia tak ingin terus berada dalam hubungan segitiga tanpa status.
Bersambung....