
Hah....hah....hah
Da eng bangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Ia begitu kaget karna ternyata dirinya tertidur dikursi yang ada dibelakang gedung perpustakaan. Karena saking capeknya ia sampai tak sadar jika tertidur.
Agh sial....bagaimana aku bisa tertidur disini dan bermimpi hal seperti itu.
Da eng segera berdiri setelah mengumpulkan lagi nyawanya. Ia berjalan kearah fakultas bisnis. Suasana saat itu sudah cukup sepi hingga Da eng sedikit mengalami kesulitan untuk mencari Zen.
Setelah berputar-putar, akhirnya Da eng menemukan Zen yang sedang duduk dibawah pohon sambil memainkan botol air minum ditangannya.
" Zen maaf, kau sudah lama menunggu?"
" Kau tahu pak bos, badanku hampir berkarat karna menunggumu disini," ucap Zen sebal.
" Hehe...maaf aku kan tidak tahu. Ya sudah ayo kita segera berangkat."
" Aku tidak mungkin berangkat dengan pakaian seperti ini. Kau mau kan mengantarku pulang dulu? Aku ingin mandi ."
" Baiklah. Ya sudah kita pulang sekarang."
Didalam mobil, Da eng memperhatikan raut wajah Zen yang terlihat sedang kusut.
" Kenapa mukamu kusut begitu Zen? Kau ada masalah?"
" Ah tidak wajahku biasa saja dan aku sedang tak ada masalah," ucap Zen bohong.
Sebenarnya saat ini dirinya tengah memikirkan kejadian saat Be ong berpamitan pada dirinya tadi.
Mobil yang dikendarai Da eng sudah sampai dikawasan rumah sewa yang ditempati Zen.
" Kak, kau mau masuk atau menunggu disini?"
" Enak saja. Tentu saja aku ikut denganmu."
Mereka berdua menaiki tangga hingga tiba didepan kamar milik Zen. Zen menyuruh Da eng duduk. Ia berlalu dan kembali sambil membawa minuman kaleng.
" Minum dulu Kak. Aku tinggal mandi dulu."
" Baiklah," ucap Da eng sambil membuka tutup minumannya.
Da eng yang sedikit bosan saat menunggu Zen pun berdiri dan melangkahkan kakiknya untuk mengitari isi rumah Zen yang kecil.
Pandangan Da eng sedikit tak nyaman saat ia seperti menemukan suatu benda yang mirip dengan barang pribadi adiknya.
Karena penasaran, Da eng pun mendekat dan mengambil benda tersebut. Seketika ia begitu kaget dan merasa heran melihat ada benda seperti itu ada dirumah Zen.
" Kak Da eng apa yang kau pegang?" teriak Zen yang sudah berpenampilan rapi.
" Bagaimana bisa ada benda seperti ini dirumahmu Zen? Ini pembalut kan?"
" Jangan sembarangan memegang barang milikku!"
" Hah itu milikmu?"
" Bu...bukan. Maksudku ini milik pacarku," ucap Zen terbata.
" Pacarmu? Wah pacarmu sering menginap disini ya?"
" Tidak juga. Terakhir kesini dia sedang datang bulan jadi mungkin ini tertinggal."
Da eng menganguk-angguk dengan penjelasan yang diberikan Zen. Ia memutar tubuhnya dan matanya kembali melihat sebuah barang yang mengusiknya.
Da eng mengambilnya dan melihatnya dengan mulut ternganga.
" Astaga Zen! Kau juga mengoleksi benda seperti ini?"
Zen pun kaget dengan barang diberada ditangan Da eng.
*Hah bagaimana bisa ada ****** dirumahku?
Jangan-jangan itu milik Be ong dan dia memakainya saat itu. Pantas saja rasanya beda*.
" Hei Zen! Kenapa kau malah bengong?"
Zen terbangun dari lamunannya dan memikirkan jawaban yang akan ia berikan.
"Hah sudahlah Kak. Berhenti mengacak-acak rumahku! Kau sungguh tak sopan!"
"Aku sungguh tak menyangka Zen ternyata kau sering juga bercinta dengan pacarmu?" tanya Da eng sambil menahan rasa kesal dihatinya.
Entah mengapa tapi sepertinya hati Da eng tak rela jika Zen mempunyai pacar bahkan sampai berhubungan badan.
Wajarkah jika ia cemburu terhadap sesama lelaki.
Aghh sial....aku harus segera punya pacar biar pikiranku sehat.
bersambung.....
Pengumuman
Author ada karya baru nih judulnya "Perjodohan rasa mie ayam"
Mampir baca yah....
Terima kasih