
Be ong membukakan pintu mobil untuk Zen lalu mengulurkan tangannya.
" Kenapa?" tanya Zen bingung.
" Cepat ulurkan tanganmu, biar kupapah sampai kedalam."
" Aku tidak mau lagi pula aku masih bisa berjalan." Tolak Zen.
Zen turun dari mobil lalu berjalan dengan tertatih menahan sakit diselakangnya. Be ong yang gemas melihat Zen pun menghampiri Zen lalu membopongnya seperti karung beras.
" Agghhh Ong! Apa yang kau lakukan?" Teriak Zen sambil berontak.
" Diamlah! Kau mau mencuri perhatian orang dengan suaramu itu!"
Akhirnya Zen pasrah dan membiarkan Be ong membopongnya hingga masuk kamar. Be ong merebahkan tubuh Zen diatas kasur lalu melepaskan celana Zen dengan perlahan.
" Ong, kau mau apa lagi?" ucap Zen sambil menahan celananya.
" Aku akan mengobatimu. Tadi aku mampir ke apotek untuk membeli salep," ucap Be ong sambil menyingkirkan tangan Zen yang menghalanginya.
" Jika sudah sembuh apa kau akan melukaiku lagi lalu menyembuhkannya lagi?" tanya Zen sinis.
Be ong menatap Zen dengan pandangan kosong hingga beberapa detik hingga akhirnya dia mengoleskan salep pada Zen.
" Auww...perih Ong, biar aku sendiri saja." Pinta Zen namun keinginannya ditolak Be ong.
Selesai mengoleskan salep, Be ong menyelimuti bagian tubuh bawah Zen dengan selimut tanpa memakaikannya celana lagi.
" Ambilkan celana karetku, aku tidak mau telanjang begini."
" Siapa bilang kau telanjang? Kau masih pakai baju hanya bawahnya saja yang tidak kau pakai. Aku sengaja melakukannya supaya salepnya cepat kering dan tidak menempel dicelanamu," ucap Be ong lalu merebahkan diri disamping Zen.
Be ong menyibak selimut yang dipakai Zen lalu ikut masuk kedalamnya.
" Kau pulang saja, kenapa malah rebahan disini?"
Be ong tidak menjawab namun malah meraih tubuh Zen dan merapatkannya kebadan. Kepala Zen kini meringkuk didada bidang Be ong. Samar- samar Zen mencium aroma parfum Jenny dibaju Be ong.
Apa mereka tadi berpelukan? Atau mungkin berciuman. Batin Zen dalam lamunannya.
Perlahan Zen merasakan pergerakan tangan Be ong yang menelusup kepunggungnya sambil sedikit memijat.
" Ong..." Panggil Zen yang kaget.
" Aku hanya memastikan apakah punggunggmu sakit? Tadi aku merasa mendorongmu ketembok dengan sedikit keras."
" Aku laki-laki jadi aku bisa menahannya," jawab Zen asal.
" Untuk saat ini kau boleh menyamar menjadi laki- laki didepan semua orang tapi didepanku kau harus jadi wanita seutuhnya."
Zen kembali menundukkan wajahnya dan tangan Be ong kembali bermain didadanya.
" Ong, aku ingin istirahat!"
" Bukankah kita saat ini sedang rebahan itu artinya kita sudah istirahat. Lagi pula yang sakit kan kan bagian bawahmu."
Akhirnya Zen membiarkan tangan Ong bermain hingga terkadang keluar ******* halus dari mulutnya karna ini pertama kali Be ong melakukannya dengan lembut.
Malam hari pun tiba dan Be ong masih berada dirumah Zen padahal dari tadi Zen sudah berulang kali meminta Be ong untuk pulang.
" Zen, kau betah sekali tinggal disini?" tanya Be ong saat mereka mengobrol sambil menonton televisi.
" Harga sewanya murah, jadi aku bisa membagi pengeluaranku untuk makan dan membayar biaya lainnya."
" Kau tinggal saja di apartemenku."
" Aku tidak mau, sudahlah lebih baik kau pulang atau pergi menemui Jenny," ucap Zen kesal.
" Aku tidak mau pulang karna aku akan menginap disini sampai lukamu sembuh," jawab Be ong sambil beringsut mendekati Zen.
" Kau mau apa lagi?"
" Mengeceknya."
" Sudah berapa kali kau mengeceknya dari tadi!"
" Kau lupa kalau aku tadi bilang akan mengeceknya setiap satu jam."
Orang ini, terkadang arogan dan kasar tapi terkadang bisa lembut walaupun menyebalkan.
bersambung.....
Zen
Li zen
Be ong