
Pagi itu Zen sudah berada dikampusnya. Ia menuju gedung perpustakaan untuk mencari buku referensi guna mengerjakan tugasnya.
Zen memilih-milih buku disalah satu rak namun tiba-tiba pandangannya jatuh pada dua pasang manusia yang sedang berdiri didepan rak sambil bercanda.
Zen memilih pergi dari tempat berdirinya namun suara seseorang yang memanggil namanya membuat Zen menghentikan langkahnya dan menoleh kearah belakang.
" Kau mau kemana Zen?"
" Aku mau pindah tempat. Sepertinya buku yang kucari tidak diletakkan disini?" jawab Zen membuang pandangannya.
" Oh, kalau begitu aku akan membantumu mencarinya. "
" Tak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Cegah Zen.
" Be Ong, aku bantu Zen sebentar ya?"
" Baiklah, tapi jangan lupa dengan janjimu. Kau boleh mengajak Zen bila ingin," jawab Be Ong sambil melirik Zen.
Jenny menghampiri Zen lalu menarik Zen kesudut ruangan.
" Kau cemburu Zen?"
" Tidak, aku senang melihatmu menemukan penggantiku."
" Kau bohong Zen! Aku bisa melihat itu dari tatapanmu."
" Sudahlah Jen, aku harus segera mencari bukuku sebelum kelas dimulai."
" Kalau begitu siang nanti ikutlah aku pergi. Aku akan menonton film dengan Be Ong.'
" Aku tidak mau dia salah paham jika aku ikut."
" Dia sendiri yang memintamu untuk ikut," jawab Jenny lalu pergi dengan perasaan kecewa.
Zen memilih pergi dari gedung perpustakaan. Ia berjalan menuju taman untuk menenangkan hatinya, namun tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dan ia dibawa keruangan sempit.
" Be Ong, apa yang kau lakukan?"
" Apa Jenny menciummu?"
" Tidak, kami hanya bicara dan ia memintaku ikut pergi dengannya nanti."
" Baiklah, aku percaya. Kau boleh mengajak seseorang untuk menemanimu nanti dan kau jangan macam-macam dengan Jenny," ucap Be Ong lalu mengecup bibir Zen sekilas.
" Apa yang kau lakukan? Kau gila ya?" ucap Zen marah.
" Haha...tenang saja disini sepi jadi tidak akan ada yang melihat kita," ucap Be Ong lalu pergi.
Zen mengusap bibirnya dengan kasar sambil menggerutu.
" Zen kau kenapa? Wajahmu kusut sekali," tanya Shulan yang mengagetkan Zen.
" Tadi ada orang gila yang tiba-tiba menciumku!"jawab Zen asal.
" Haha...betapa beruntungnya orang gila itu bisa menciummu Zen," ucap Shulan sambil tersenyum geli.
" Sudah, kau jangan meledekku. Nanti kau temani aku pergi ya? Tadi Jenny dan Be Ong mengajakku pergi."
" Ehm maksudmu Jenny dan Be Ong..."
" Aku tidak tahu mereka pacaran atau tidak! Aku tidak enak hati jika menolak, jadi kau temani aku ya?"
" Baiklah, aku akan menemanimu," ucap Shulan sambil merangkul pundak Zen.
Sementara itu, Be Ong yang melihat hal itu tampak tidak suka.
Kurang ajar! Kau mau saja Zen dirangkul pria lain. Kau adalah milikku Zen!"
Dilapangan parkir tampak empat orang yang sedang berkumpul. Mereka adalah Jenny yang satu mobil dengan Be Ong sedangkan Zen memilih satu mobil dengan Shulan.
" Zen, tadi kulihat Be Ong menatap kita tajam sekali. Kalau dia takut kau merebut Jenny kembali lalu kenapa dia mengajak kita?"
" Aku tidak tahu, mungkin itu perasaanmu saja. Yang penting kita pergi dan bersenang-senang."
" Betul juga kau Zen. Oh ya Zen kau panas-panas begini memang tidak gerah pakai kaos panjang bahkan sampai menutupi lehermu?" tanya Shulan heran.
" Ehmmm....ini tidak masalah, tidak panas. Aku memang sedang ingin memakainya saja."
Aku tidak mungkin membukanya dan memperlihatkan banyaknya tanda merah dileherku karna Be Ong semalam.
bersambung.....