
Zen merasa jantungnya seperti berhenti berdetak begitu mendengar perkataan Shulan. Dadanya terasa sesak begitu mengetahui kalau ada orang lain yang tahu rahasianya.
" Jawab Zen! Kau jangan diam saja!"
" A...aku."
" Kenapa Zen? Katakan padaku apa alasannya?"
" Maaf Zen, tidak semua rasa penasaranmu harus kujawab. Kau memang teman dekatku tapi aku juga punya privasiku sendiri. Pulanglah."
" Hanya itu yang kau ucapkan Zen? Kau tak merasa jika hatiku merasa sakit karna kebohonganmu?"
" Aku minta maaf Shulan dan jika kau tak nyaman, aku tidak memaksamu untuk tetap menjadi temanku."
" Kau tahu Zen? Terkadang aku merasa gugup jika bersamamu. Kupikir aku ini lelaki tak normal karna merasakan perasaan seperti itu denganmu. Aku meyakinkan diriku sendiri jika aku adalah lelaki normal dan mengabaikan perasaan gugupku jika bersamamu. Sekarang aku yakin kalau aku memanglah lelaki normal karna pada kenyatannya orang yang selama ini membuatku gugup memanglah seorang wanita."
Shulan lebih mendekat kearah Zen lalu mendorong Zen hingga terlentang.
" Aghh Shulan! Apa yang kau lakukan?" Teriak Zen memberontak.
" Akan kupastikan lagi jika kau benar-benar seorang wanita."
" Shulan, hentikan kegilaanmu! Lepaskan aku!"
" Tidak! Sebelum aku membuktikan untuk kedua kali jika kau adalah wanita!"
Shulan sudah merobek baju atasan Zen hingga kedua dada mungilnya terpampang jelas dihadapan Shulan.
" Shulan, jangan lakukan apa pun padaku. Aku sedang hamil, jangan sakiti aku."
Shulan langsung menghentikan aksinya begitu mendengar ucapan Zen.
" Hamil?"
Zen menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
" Jadi ada orang lain yang tahu tentang rahasiamu selain aku?" tanya Shulan yang kembali diangguki Zen.
" Jika kau hamil, apa dia memperkosamu?"
Zen tak langsung menjawab dan malah berusaha melepaskan diri dari kukungan Shulan. Zen merapikan bajunya kembali yang sudah terlepas tadi.
" Zen, jawablah pertanyaanku. Aku mohon."
" Awalnya memang seperti itu Shulan, tapi tak dapat kupungkiri kalau aku mulai nyaman dengan permainannya."
" Dia siapa Zen? Dan apa kau menyukainya?"
Tanpa menjawab Shulan segera pergi dari rumah Zen dengan perasaan kecewa.
****
Aryong merasa heran melihat Shulan yang akhir-akhir ini selalu berwajah masam tak seperti biasanya.
" Shulan, kau kenapa?"
" Tak apa, hanya ada masalah kecil saja."
" Ohh...Kenapa Zen jarang masuk kuliah ya? Aku mencemaskannya."
" Ehmmm...Kau begitu menyukai Zen ya?"
" Iya, aku sangat menyukainya walaupun dia selalu menolakku."
" Seandainya Zen melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa, apa kau akan memaafkannya dan tetap menyukainya?"
" Jika itu terjadi, maka aku tentu akan memaafkannya."
" Ehmm....Aryong, apa kau mencoba menjalin hubungan denganku?"
" Apa? Kau bercanda ya Shulan?"
" Aku serius. Aku dan kau sedang sama-sama kecewa dan mungkin dengan kita menjalin hubungan, itu bisa mengurangi rasa sakit hati kita."
" Aku tidak tahu harus menjawab apa Shulan. Tapi karna kau orang baik maka aku akan menerima tawaranmu untuk mencoba bersama."
" Baiklah dan untuk kencan pertama kita kau mau pergi kemana?"
" Aku sudah lama ingin mandi air panas bersama pasanganku."
" Besok akhir minggu kita kesana."
****
Be ong begitu berang saat mendengar dari mulut Zen jika siang tadi Shulan mencoba memperkosannya. Bahkan ia tak trima karna Shulan sudah berani melihat dada polos Zen.
" Li zen, kau harus pindah dari sini dan tinggal diapartemenku."
" Tidak mau! Bagaimana jika Jenny dan orang tuamu tahu kalau aku tinggal diapartemenmu."
" Kali ini kau harus menurut! Tempat ini sudah tak aman untukmu. Lagi pula aku sudah memperingatkanmu untuk tak terlalu dekat dengan Shulan dan kini kau malah susah karna dia tahu rahasiamu."
bersambung....