Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 15



Hari minggu pun tiba. Sekitar pukul sembilan Shulan sudah bersiap pergi untuk menjemput Zen.


Begitu sampai, ia melihat Zen yang sudah menunggunya dibawah.


" Zen kenapa dengan mukamu itu?"


" Aku sebenarnya masih ragu dan kau begitu tega meminta hal ini padaku."


" Sudahlah kau tenang saja. Ayo cepat pergi karna temanku sudah menunggu kita disalonnya."


Shulan dan Zen pun akhirnya pergi ke salon milik teman Shulan. Mereka sampai disebuah salon yang ukurannya tidak terlalu besar.


" Selamat pagi Jiyu. Kenalkan ini temanku Zen. Dia orang yang aku ceritakan kemarin."


" Wah dia tampan dan terlihat manis sekali," ucap Jiyu begitu melihat wajah Zen.


" Sudah menatapnya! Jangan sampai air liurmu menetes. Ingat ya, kau harus membuatnya cantik natural."


" Iya-iya, percayalah ini tidak akan sulit."


Jiyu pun menyuruh Zen masuk kedalam ruangan. Ia mulai membubuhkan berbagai produk kecantikan diwajah Zen.


" Wah Zen kulit wajahmu halus sekali." Puji Jiyu.


" Sebaiknya kau lanjutkan pekerjaanmu. Wajahku rasanya kaku karna make upmu."


Jiyu kembali merias wajah Zen tanpa mengalami kesulitan. Terakhir ia membubuhkan lipstik warna merah dibibir Zen. Jiyu menatap kagum pada hasil karyanya.


" Zen , sumpah kau cantik sekali."


Setelah memuji Zen, Jiyu segera mengambil gaun warna kuning tua yang sudah ia siapkan.


" Ayo Zen, aku akan membantumu memakai gaun ini."


" Ahh...tidak-tidak, biar aku sendiri saja!" ucap Zen sambil mengambil gaun dari tangan Jiyu.


" Eh Zen kau melupakan sesuatu!"


" Apa lagi?"


" Penyumpal dadamu," ucap Jiyu sambil memperlihatkan dua benda ditangannya.


Zen merebutnya lalu masuk kedalam ruang ganti. Zen merasa lega karna model gaunnya yang tidak terbuka.


Setelah Zen memakai gaunnya, Jiyu memberikan wig dengan model rambut bergelombang yang panjang sebagai penyempurna penampilannya. Jiyu pun membawa Zen keluar.


" Hey Shulan, lihatlah temanmu ini."


Shulan mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara Jiyu. Mulut Shulan langsung ternganga lebar saat melihat Zen yang terlihat begitu cantik.


Dengan langkah pelan, Shulan mendekati Zen dan mengitari tubuhnya.


" Diamlah Shulan atau aku tidak jadi pergi denganmu!"


" Berhenti menatapku seperti itu Shulan. Kau seperti ingin memakanku saja!"


" Haha...jika kau wanita, pasti saat ini aku sudah menyeretmu kedalam kamar." Goda Shulan dengan tatapan mesum.


" Awas kau! Jika aku tidak memakai gaun pasti aku sudah menendangmu saat ini," ucap Zen kesal.


" Iya maaf, ya sudah ayo pergi."


Dalam perjalanan, Shulan terkadang mencuri kesempatan melirik kearah Zen yang berada disampingnya dengan mata terpejam.


Sadar Shulan, kau jangan gila! Ingatlah manusia cantik yang disampingmu saat ini adalah seorang laki-laki.


Shulan reflek memukul kepalanya sendiri yang sudah dipenuhi pikiran kotor. Sungguh ia tidak menyangka bisa segugup ini saat berdua dengan Zen padahal biasanya hampir setiap hari mereka bersama dan dirinya merasa biasa saja.


Tak terasa mereka sudah sampai digedung pernikahan yang disewa oleh sepupu Shulan.


" Zen, gandeng tanganku! Ingat kita sedang bersandiwara sebagai pasangan kekasih."


" Aku tidak mau melakukannya atau aku pulang saja!"


" Iya-iya, aku tidak akan memintamu melakukan apa-apa lagi."


Mereka berdua masuk kedalam gedung. Banyak pasang mata yang menatap kagum kearah Zen yang terlihat begitu cantik. Setelah memberikan ucapan selamat pada mempelai, Shulan mengajak Zen menikmati hidangan pesta.


" Kau lihat Zen, bagaimana para lelaki itu menatapmu?"


" Itu membuatku risih dan ingin muntah!"


" Hehehe...Zen, dada palsumu itu sungguh mungil dan menggemaskan."


" Diamlah! Setelah semuanya selesai aku akan menyumpalmu dengan benda aneh ini!"


Drrtttt


Getaran ponsel membuat Zen pergi dan mencari tempat yang sepi.


" Halo Ong, ada apa?"


" Kau dimana?"


" Aku sedang pergi dengan Shulan."


" Apa! Kau pergi kemana dengan dia?"


" Sudahlah, aku sedang sibuk!" jawab Zen lalu mematikan ponselnya.


Be ong yang kesal pun segera mengecek lokasi Zen lewat ponselnya dan segera pergi menyusulnya.


bersambung....