
Be ong menggulingkan badannya kesamping Zen sambil kembali mengatur nafasnya yang masih memburu.
" Li zen, lap kan keringatku. Rasanya lengket sekali." Pinta Be ong.
Tanpa menjawab, Zen segera mengambil handuk kecil lalu mengelap dada Be ong yang penuh dengan keringat.
" Kenapa diam? Kau marah?"
Zen hanya diam dan masih fokus mengelap dada Be ong.
" Li zen." Panggil Be ong dengan sedikit lebih keras.
Zen menatap Be ong yang menatap tajam kearahnya.
" Apa kau serius menyukai Jenny?"
" Memangnya kenapa? Kau cemburu?"
" Jika iya maka jangan sakiti perasaannya dengan menjalin hubungan bersamaku dibelakangnya."
" Kau masih memikirkannya?"
" Tentu saja. Aku pernah menyakiti perasaannya dan aku tidak ingin melakukannya lagi."
" Bukannya kita berhubungan sebelum aku dan Jenny resmi pacaran?"
" Tapi...." Ucapan Zen terhenti karna Be ong ******* bibirnya.
" Kau adalah milikku dan tentu kau masih ingat dengan ucapanku dulu," ucap Be ong dan kembali memberikan sentuhan pada Zen.
" Ong, aku lelah," ucap Zen sambil menghindari sentuhan Be ong.
" Tapi aku masih ingin melakukannya satu kali lagi."
Be ong kembali naik keatas tubuh Zen dan menyatukan tubuh mereka lagi.
" Ahhh...sakit Ong! Auww..." jerit Zen yang membuat Be ong mencabut miliknya.
" Kau kenapa?"
" Aku sudah bilang sakit kan. Turunlah dan biarkan aku istirahat."
Dengan perasaan kesal, Be ong pun bangkit dari tubuh Zen lalu membersihkan diri.
Be ong kembali memakai pakaiannya setelah mandi.
" Aku pergi. Nanti sore aku akan pergi dengan Jenny." Pamit Be ong kemudian pergi.
" Kau ada perlu apa Shulan?"
" Aku sedang butuh bantuanmu Zen. Aku mohon."
" Memangnya kau kenapa sampai butuh bantuanku?"
" Besok hari minggu sepupuku akan menikah dan aku bertaruh padanya kalau aku akan datang kepernikahannya dengan membawa pacarku."
" Ya datang saja dengan pacarmu! Lalu apa hubungannya denganku?"
" Kau kan tahu Zen kalai aku tidak punya kekasih."
" Kalau tidak punya lalu kenapa kau sampai bertaruh?"
" Aku kesal karna dia mengejekku. Di bilang, percuma tampan tapi tidak punya pacar. Aku kan kesal Zen."
" Lalu sekarang kau mau aku mencarikan pacar untukmu?"
" Tidak keburu Zen. Waktunya sudah mepet."
"Minta tolong saja pada Aryong."
" Aku sudah bilang padamu tapi dia tidak bisa karna ada acara keluarga."
" Lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?"
" Kau....kau mau kan pura-pura jadi wanita dan menjadi pacarku," jawab Shulan ragu.
" Apa! Kau menyuruhku menyamar menjadi wanita! Kau gila ya?"
" Ayolah Zen. Wajahmu itu sangat manis jadi aku percaya tidak akan ada yang curiga padamu."
" Aku tidak mau! Kau mau mempermalukan aku!"
" Ayolah Zen, kumohon. Karna jika aku kalah aku tidak punya banyak uang untuk membayar taruhannya," ucap Shulan dengan wajah memelas.
Bagaimana ini? Jika aku tolak kasihan Shulan tapi jika aku terima aku takut orang akan curiga dengan penampilan perempuanku dan pastinya Be ong akan marah. Batin Zen bimbang.
" Zen."
" Ba..baiklah aku akan membantumu tapi ingat cukup kali ini saja dan kedepannya aku tidak mau melakukannya lagi."
" Hehe...terima kasih Zen dan kau tenang saja karna aku sudah menyiapkan gaun dan make up untukmu. Aku yakin penampilanmu nanti pasti akan terlihat natural," ucap Shulan senang.
bersambung....