Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 23



Akhirnya Zen mengikuti saran Be ong untuk tinggal diapartemen. Zen masuk kedalam apartemen sambil matanya menatap sekeliling.


" Ong, sepertinya ini bukan apartemenmu yang dulu?"


" Aku memang baru saja menyewanya khusus untukmu. Dengan begini tidak akan ada yang tahu tentang keberadaanmu. Istirahatlah, biar aku yang menata baju-bajumu."


Be ong mengajak Zen masuk kedalam kamar.


" Li zen, kemarilah sebentar!"


" Kenapa?"


" Sekarang kan kau sedang hamil jadi mulai hari ini jangan lagi memakai celana jeans. Aku sudah membelikan banyak rok hamil untukmu."


" Maksudmu aku harus memakai rok ini untuk keseharianku?" tanya Zen sedikit tak suka.


" Memangnya kau mau jika terus memakai celana, anak kita akan sesak dan tergencet?"


" Iya- iya, aku akan memakainya. Lagi pula kenapa kau tidak memakai pengaman saat melakukannya Ong?"


" Aku lupa lagi pula rasanya lebih enak jika tidak memakai karet seperti itu. Pertemuan dagingku dan dagingmu menjadi lebih terasa," ucap Ong dengan tatapan mesum.


" Sudahlah bicaramu sangat menjijikkan!"


Zen hendak pergi namun tangannya ditarik hingga jatuh dipangkuan Ong. Be ong meraba perut Zen yang masih datar.


" Apa aku boleh menengoknya?" tanya Be ong sambil menciumi leher Zen.


" Tak boleh! Aku masih hamil muda!"


Be ong masih menciumi leher Zen dengan deruan napas yang makin memburu.


" Aku tidak akan memasukkannya. Aku hanya ingin menempelkannya saja untuk membantuku pelepasan," ucap Be ong sambil melucuti pakaiannya dan juga pakaian Zen.


Be ong merebahkan tubuh Zen dengan perlahan lalu mulai menuntun miliknya dan menggesekkannya pada milik Zen.


Be ong mulai meracau saat merasakan dorongan kuat yang akan keluar dari miliknya.


" Hah...hah....hah, terima kasih Li zen. Aku mandi dulu setelah itu kita makan. Tadi aku sudah memesannya dan sebentar lagi mungkin akan datang."


****


Shulan berkunjung kerumah Aryong setelah mereka sepakat untuk mencoba menjalin hubungan.


" Rumahmu sepi sekali Aryong?"


" Iya, orang tuaku baru akan pulang bekerja sore nanti. Kau mau minum apa?"


" Sepertinya aku sedang ingin minum jus."


Tak lama Aryong datang dan melihat Shulan yang sedang memperhatikan kamarnya.


" Shulan, ini minuman jusmu."


" Terima kasih Aryong. Oh ya kamarmu cukup nyaman dan sangat bagus karna kita bisa melihat pemandangan kebun bunga dari jendela."


" Iya, itu taman bunga ibuku. Dia sangat suka bercocok tanam."


Aryong mendekati Shulan yang sedang berdiri dekat jendela kamarnya.


" Ehmmm Shulan, boleh aku tahu siapa gadis yang sudah membuatmu kecewa?"


Shulan diam dan memperhatikan wajah Aryong yang menunduk. Shulan meraih dagu nya hingga wajah Aryong mendongak kearahnya.


" Maaf Shulan, aku tidak bermaksud ingin tahu tapi kurasa jika ingin mencoba menjalin hubungan kita juga harus mencoba untuk saling terbuka."


" Aku tahu, hanya saja aku belum siap memberitahukannya padamu."


" Ya sudah kalau begitu kita duduk, bukankah tadi kita akan belajar bersama?"


Semoga dengan begini aku bisa sedikit melupakan Zen meskipun aku tak yakin. Batin Shulan.


Shulan membereskan bukunya setelah hampir satu jam belajar bersama Aryong.


" Aryong, aku pulang dulu. Setelah ini istirshatlah. Kau pasti lelah kan?"


" Baiklah, aku akan mengantarmu kedepan."


Shulan dan Aryong berjalan menuruni tangga hingga sampai didepan pintu.


" Aryong, bagaimana perasaanmu hari ini?"


" Aku sangat senang ada kau, jadi aku tidak merasa kesepian. Kalau kau?"


" Aku juga. Apa menurutmu kita harus berciuman sebelum berpisah?" tanya Shulan yang membuat Aryong kaget.


" Eh..."


" Kau tidak mau?"


" Bukannya tidak mau Shulan hanya saja aku belum siap. Mungkin kita butuh waktu lebih hingga kita merasa biasa."


" Tak masalah. Kalau begitu aku pulang dulu."


bersambung.....