Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 30



Be ong berjalan dengan tergesa-gesa sambil membopong Li zen yang sudah pinsan.


" Suster tolong kekasih saya! Cepat lakukan sesuatu! Teriak Be ong begitu sampai dilobi.


Para suster penjaga pun segera melakukan tindakan terhadap Zen. Be ong berjalan disamping brankar yang membawa Zen.


" Zen, bertahanlah. Jangan seperti ini, kumohon maafkan aku."


Zen segera dibawa keruang tindakan sedang Be ong menunggu didepan dengan wajah putus asa. Ia menyalurkan kekecewaannya dengan memukulkan tangannya sendiri ketembok.


" Apa yang sudah kulakukan? Bagaimana jika bayiku tak selamat?" ucap Be ong sambil memperhatikan tangannya yang sedikit berdarah.


Sekitar dua jam, barulah dokter dan suster keluar dari ruangan. Be ong segera menghampiri para petugas medis itu.


" Dok bagaimana keadaan kekasih saya?"


" Silahkan ikut keruangan saya, nanti saya jelaskan."


Be ong mengikuti dokter tersebut hingga masuk kedalam ruangannya.


" Dok, tolong cepat katakan bagaimana keadaan kekasih saya?"


" Ada dua berita yang akan saya sampaikan pada anda. Yang pertama, kekasih anda sudah berhasil melewati masa kritisnya. Untung saja dia memiliki fisik yang kuat dan berita yang kedua....." ucap dokter menjeda kalimatnya.


" Yang kedua apa dok? Katakanlah," ucap Be ong tak sabar.


" Yang kedua adalah janin dalam kandungan kekasih anda tidak bisa kami selamatkan. Dia dibawa kesini dalam kondisi pendarahan yang hebat akibat benturan keras pada dinding rahimnya. Apalagi usia kandungannya masih sangat rentan. Jadi intinya kekasih anda mengalami keguguran."


" Keguguran! Maksud dokter, kami kehilangan bayi kami?"


Dokter itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Be ong keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai.


Perlahan ia membuka pintu ruang rawat Zen. Dilihatnya kondisi Zen yang masih terbaring lemah dengan mata terpejam.


Be ong mengusap perut datar Zen dengan gemetar.


" Maafkan aku Li zen. Aku sungguh tak bermaksud menyakitimu dan membunuh calon bayi kita," ucap Be ong dengan punggung gemetar karna menahan tangis.


Pagi itu juga, Be ong menguburkan calon bayinya yang masih berupa gumpalan daging.


Be ong keluar dari area pemakaman dengan penampilan yang acak-acakan. Sungguh ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Bahkan untuk memaafkan dirinya sendiri pun rasanya tak sanggup.


****


Zen mengusap perutnya yang sudah kosong dengan sedih. Air matanya perlahan menetes dan membasahi kedua pipinya.


Sungguh ia tak menyangka jika harus kehilangan calon bayinya karna perbuatan Be ong semalam.


Ceklek


Zen menatap kearah pintu dan melihat Be ong masuk dalam keadaan berantakan. Setelah sekian detik saling menatap, Zen segera memutus pandangannya.


Be ong mendekat kearah Zen dengan ragu. Kakinya sungguh terasa berat untuk melangkah.


" Zen, bagaimana keadaanmu?" tanya Be ong dengan suara serak.


" Aku sehat, jika sudah sembuh aku akan segera pulang," jawab Zen dindin.


" Li zen, maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud...."


" Pulanglah, kau tak perlu menjelaskan apa pun padaku. "


" Li zen, aku tak akan pergi kemana pun jika kau belum memaafkanku. Berbaliklah Zen dan lihat diriku. Kumohon."


" Lalu menurutmu, bagian mana dari dirimu yang harus kumaafkan? Bagian perkosaan? Bagian kalau kau sudah membuatku keguguran? Bagian mana Ong? Katakanlah padaku!"


Be ong berlutut dan menggenggam erat kedua tangan Zen.


" Semuanya Zen. Aku tahu pasti sangat sulit bagimu memaafkanku. Aku memang sudah jahat padamu Zen, tapi kumohon maafkan aku."


" Lantas jika aku memaafkanmu, apa yang kau harapkan?"


" Aku ingin kita seperti dulu Zen dan memulai hubungan kita dari awal."


" Bangunlah hidup barumu bersama Jenny. Sekarang pergilah dan aku tak bisa mewujudkan keinginanmu itu."


bersambung.....